WartaKita.org – Marchello Jhonesct, pria berumur 31 tahun ini sudah bisa membuka lapangan kerja bagi orang pintar di Yogyakarta.
Pria kelahiran Kabupaten Bantul pada 12 November 1989 ini lulus SD pada tahun 2002. Kemudian, Marchello melanjutkan pendidikan SMP di Bantul dan lulus pada tahun 2005. Selanjutnya, dia bersekolah di SMA di Kota Yogyakarta. Namun dia tidak lulus SMA, karena Marchello tidak mau seperti teman-temannya yang menyontek pada saat ujian.
“Menyontek itu tidak baik. Apapun hasilnya, ya kita harus jujur. Harus dari hasil belajar, bukan nyontek,” katanya.
Alhasil, Marchello tidak lulus SMA. Dia adalah satu dari dua siswa yang tidak lulus di sekolahnya. Karenanya, mereka dan harus mengambil Paket C. Meski begitu, mereka tidak patah semangat. Walaupun ijazahnya berbeda dengan teman-temannya yang lain.
Setelah lulus SMA, Marchello tidak melanjutkan pendidikan ke Perguruan Tinggi. Karena menurutnya, di SMK, dia telah dididik untuk menjadi mandiri.
“Sistem belajar di SMK adalah mengajarkan siswa seni untuk berkarya sendiri. Dan saya yakin, saya bisa berkarya,” katanya.
Setelah lulus SMA, Marchello bekerja sebagai seorang sales kartu Telkomsel di salah satu perusahaan Telkomsel di Kota Yogyakarta dari tahun 2008 sampai tahun 2018.
Marchello tidak pernah patah semangat selama dia bekerja. Di samping mencari kerja, Marchello juga menjalin relasi yang baik dengan orang lain yang dia jumpai.
Pada tahun 2014, Marchello mencoba membuka usaha konter kecil-kecilan sambil terus bekerja. Dia bekerja sama dengan investor.
Berkat hasil kerja keras dan usahanya, di tahun 2018 sampai 2019, Marchello bisa membuka empat cabang konternya di Kabupaten Bantul dan Kota Yogyakarta.
“Saya membuka usaha ini karena saya orang bodoh yang bercita-cita untuk bebas finansial dimasa muda dan membuka lapangan pekerjaan bagi orang-orang pintar. Saya tidak memiliki ilmu seperti orang pintar yang kuliah. Tetapi mencari orang pintar yang kuliah untuk dikerjakan di lapangan kerja yang sudah disediakan,” ujarnya.
Pada awal Marchello membuka usahanya, dia mengalami suka duka yang begitu menggoncang dirinya. Selama empat tahun pertama, dia belum bisa dikatakan maju dalam hal menjalankan usahanya. Sehingga dia diejek oleh orang-orang dan keluarganya sendiri.
Karena meskipun dia sudah memiliki usaha, namun masih belum ada perubahan dalam segi apapun. Bahkan masih berpenampilan seperti orang gembel dan masih kontrak sama orang serta belum bisa membahagiakan orang tuanya. Hal ini terjadi karena dia sudah buka usaha, namun masih bekerja dengan orang lain.
Semua pengalaman buruk yang dia alami tidak membuat Marchello patah semangat. Malah membuatnya semakin bersemangat untuk membuktikan bahwa dia bisa dan akan menjadi orang yang dapat membuka lapangan pekerjaan bagi orang pintar walaupun tidak banyak.
Di tahun 2015 sampai tahun 2016, Marchello belum bisa menikmati hasil usahanya. Bahkan dia masih meminjam barang orang untuk dijual, seperti kartu perdana Telkomsel dan lain-lain, serta masih berniat untuk menabung.
Dan pada tahun 2018 sampai 2019, usaha Marchello mengalami kemajuan yang luar bisa dan dapat membuka mata orang yang telah mengejeknya selama ini.
Pada tahun 2018, dia membuka satu konter di Kota Yogyakarta. Di tahun 2019, dia membuka dua konter di Kabupaten Bantul. Dengan demikian, dia sudah membuka empat usaha konter sejak tahun 2014 sampai sekarang.
Marchello telah membuka lapangan kerja bagi orang pintar. Dia telah memiliki 8 orang karyawan yang mana semuanya adalah lulusan SMA dan Sarjana. Dari usaha dan kerja kerasnya, Marchello sudah bisa membeli satu rumah, satu mobil, satu motor, memiliki istri, dan membahagiakan orangtuanya.
Di masa pandemi covid-19 ini, penjualan usahanya menurun hingga 30 persen. Namun, Marchello tetap bersemangat menjalankan usahanya.
“Saya berpesan kepada para pemuda, hidup ini indah jika kamu bisa mengatur hidupmu di masa muda. Pandai-pandailah kamu. Bijaksanalah mengatur keuangan. Karena hidup itu tidak hanya untuk hari ini saja. Belajarlah menjaga nafsu batin dan jasmani, serta mengatur egomu. Karena kebahagiaan kita, kita yang mengaturnya. Bukan orang lain.” Pesan Marchello.









