“MAU ya menjadi pembina OMK?”
Pertanyaan ini disampaikan langsung oleh (alm) Bapa Uskup Malang Mgr Emiritus Herman Joseph Pandoyoputro, O.Carm kepada Anastasia.
Yang ditanya bingung menjawabnya.
Di tengah kebingungannya, Bapa Uskup menambahkan pertanyaan berikutnya: “Kalau mau, sebentar lagi ada Indonesian Youth Day di Kalimantan. Ikut ya?”
Tidak hanya pertanyaan tersebut, Bapa Uskup juga meminta saya membantu di Kantor Keuskupan Malang.
Setelah berpikir panjang dan berdialog dengan suami, akhirnya Anas memutuskan memenuhi undangan Bapa Uskup untuk bekerja di ladang Tuhan.
Suaminya menyemangati dengan motivasi, kalau Anas mau harus total dalam melayani Tuhan. Tidak perlu berpikir tentang uang. Suaminya bertekad akan bertanggung jawab memenuhi kebutuhan keluarganya.
Anas pun bersyukur mempunyai suami, Putra yang sangat mencintainya dengan penuh tanggung jawab.
Tahun 2011, menjadi titik balik dari perjalanan hidup Anastasia yang sebelumnya selama 8 tahun bergelut dengan dunia radio. Pengalaman menyenangkan dengan tuntutan kreatif dan inovatif, tampaknya membuat semangatnya untuk terus berkarya dan bergerak tak pernah padam.
Anas terus aktif dalam pembinaan OMK di paroki dimana radio itu berada,
Anas yang sebagai lektor dan pemazmur paroki ini tidak jarang juga diminta sebagai pembawa acara dalam setiap kegiatan gereja. Ini yang membuatnya tidak asing bagi umat di gereja tersebut. Termasuk ketika digelar acara besar sampai dengan serah terima Pastor Paroki Gereja tersebut yang mengundang Bapa Uskup, Anas juga berperan.
Bisa jadi, karena cukup seringnya Bapa Uskup melihatnya, sehingga ketika Anas mengundurkan diri dari radio tempatnya bekerja dan mengikuti suami yang dipindahkan di kota lain, ternyata Bapa Uskup memberikan peluang emas untuknya bekerja di ladang Tuhan agar semakin dekat denganNya.
Saat pindah ke kota lain, atas undangan Bapa Uskup di tahun 2011, dimulai persiapan perhelatan Indonesian Youth Day dimana Keuskupan Malang menjadi salah satu peserta.
Selama kurang lebih 6 bulan persiapan, Anas harus rela pulang pergi dari kotanya ke Malang untuk mengikuti persiapan bersama dengan para rama, Pembina, dan Orang Muda Katolik (OMK) dari paroki-paroki se Keuskupan Malang. Naik sepeda motor, berangkat jam 6 pagi dari rumah menuju ke terminal lalu naik bus patas menuju Kota Malang.
Setelah selesai berproses bersama para peserta IYD 1 di salah satu Rumah Retret di Kota Malang, Anas pun kembali ke kotanya naik bus ke terminal lalu melanjutkan perjalanan pulang ke rumah menemui anak semata wayangnya yang masih bersekolah dasar di sekitar rumahnya. Bersyukur Anas dibantu oleh asisten rumah tangga yang membantu menjaga anaknya.
Ketika waktunya tiba Indonesian Youth Day I digelar di Keuskupan Sanggau – Kalimantan Barat, Anas dan para peserta yang menjalani karantina sebelumnya berangkat dengan hati yang gembira.
Sebagian besar peserta ternyata baru pertama kali naik pesawat. Namun karena perasaan gembira yang dominan, membawa semangat bagi setiap peserta. Walaupun telah dibekali dengan wawasan tentang Kalimantan, bagaimana seharusnya berkata dan bertindak di tempat yang sungguh asing bagi mereka, namun tetap saja rasa penasaran menguat dalam diri Anas.
Ketika sampai di Bandara Pontianak, terdengar suara seperti ‘geluduk’ disertai hujan yang sangat deras. Tidak lama kemudian, pramugari datang menenangkan. Rasa cemas, takut, kuatir, dan seolah kematian mendekat menghantui para penumpang. Apalagi tidak lama kemudian ada suara ‘mendeciiit’ seperti mengerem mobil.
Ternyata, pesawat tergelincir di area bandara bagian luar, belum masuk landasan. Para penumpang diminta tenang oleh Co pilot dan para pramugari.
Ketika menengok di luar jendela, Anas melihat di tengah hujan yang sangat lebat, para awak pesawat berusaha untuk memasang tangga manual untuk menolong para penumpang keluar dari pesawat. Semua penumpang diminta bersabar dan mengikuti arahan pramugari saat keluar dari pesawat, turun melalui tangga darurat.
Dengan hati-hati, Anas dan para penumpang turun, masuk ke dalam bus bandara menuju ke bandara dan mengurus keperluan pribadi para penumpang termasuk peserta IYD 1 Keuskupan Malang.
Selanjutnya Anas dan semua kontingen Keuskupan Malang disambut oleh panitia IYD 1 untuk diantar ke lokasi penginapan dan mengikuti setiap proses kegiatan selama 6 hari pada tanggal 20-26 Oktober 2012. Dalam proses selama 6 hari berjumpa dengan OMK se-Indonesia membawa semangat penuh sukacita bagi Anastasia yang sudah tidak muda lagi.
Pengalaman di Sanggau saat IYD 1 ternyata berbuah manis dan memberikan keajaiban bagi Anas juga suaminya yang telah menunggu kehadiran adik bagi si sulung. Setelah dua kali keguguran, mereka tidak terlalu berharap banyak, hanya berserah kepada Tuhan.
Sepulang dari Malang, Anas dan suaminya iseng ke dokter kandungan. Syukur kepada Tuhan, ternyata selama di Sanggau Anas hamil 3 bulan. Dan pada tanggal 25 Maret 2013, putri kedua Anastasia lahir ke dunia bertepatan dengan Hari Raya Kabar Sukacita.
Berkat Tuhan tidak berhenti. Selanjutnya Anas diterima sebagai karyawan di Keuskupan Malang. Sungguh berkat Tuhan berlimpah bagi setiap umat yang berkenan kepadaNya.









