WartaKita.org – Padepokan Condro Sengkolo yang berada di Desa Gawar, Kabupaten Sleman ini konon berdiri sekitar tahun 1800.
Ada banyak kegiatan yang dilakukan di padepokan ini. Seperti merawat benda-benda pusaka peninggalan sejarah supaya tidak disalahgunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab, dan melestarikan tradisi Jawa yang biasa disebut dengan laku “prihatin” atau kegiatan “lek – lekan”.
Setiap malam Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon, Padepokan Condro Sengkolo melakukan kegiatan “lek – lekan”.
Dalam kegiatan ini, anggota padepokan berkumpul untuk mendiskusikan tentang kehidupan manusia dan memohon doa kepada Sang Pencipta. Tujuan “lek-lekan” ini untuk menekan hawa nafsu manusia. Salah satunya menghilangkan rasa malas.
Condro Sengkolo berkeyakinan, dengan “lek – lekan” bisa membantu manusia untuk mengoptimalkan waktu yang dimilikinya supaya melakukan hal-hal yang positif.
Pada Kamis (15/10/2020) malam, ada sekitar 20 anggota yang mengikuti “lek-lekan” di padepokan.
“Saya merasakan, dalam “lek-lekan” ini, saya bisa mendapatkan banyak pembelajaran dan gambaran tentang kehidupan melalui diskusi dan perbincangan yang kami lakukan. Dalam diskusi ini, saya banyak mendapatkan nasihat-nasihat yang disampaikan oleh para guru maupun senior saya yang ada di padepokan ini,” kata salah satu anggota Padepokan Condro Sengkolo.
Biasanya, sekitar pukul 21.00 malam, anggota mulai berdatangan satu persatu. Setelah semua anggota hadir, mereka mulai menyiapkan sesajen berupa dupa dan kemenyan untuk dibakar, dan bunga telon suci untuk diletakkan di sampingnya.
Tepat pada waktu tengah malam, para anggota mulai melaksanakan ujub doa dengan tujuan mengirimkan doa kepada leluhur, mendoakan orang yang telah meninggal, meminta perlindungan serta kelancaran segala urusan, dan lainnya.
Padepokan Condro Sengkolo berharap, masih ada warga yang mau merawat dan melestarikan tradisi dan budaya Jawa, khususnya di Yogyakarta.









