Warta Kita.org – SMP Santo Aloysius Turi, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan sekolah menengah pertama Katolik yang memiliki Visi Misi Spiritualitas Bruder CSA yang berlandaskan semangat Santo Aloysius Gonzaga, yang berpusat pada kemurnian hati, kedisiplinan rohani, dan pelayanan kasih yang diwujudkan dalam hidup suci, rendah hati, dan penuh pengorbanan. Ia menjadi teladan bagi peserta didik untuk hidup beriman teguh, tekun berdoa, disiplin, serta peduli terhadap sesama.
SMP Aloysius Turi dengan semangat Santo Aloysius Gonzaga mengajarkan bahwa pertumbuhan iman harus diwujudkan dalam persaudaraan kasih dan damai, dengan hidup saling menghargai dan menciptakan keharmonisan di lingkungan sekolah maupun masyarakat.
Sejalan dengan visi misi tersebut, maka SMP Santo Aloysius Turi mengadakan kegiatan Achievement Motivation Training (AMT) untuk siswa Kelas VII pada Rabu (5/11/2025).
Kegiatan AMT yang diikuti 63 siswa dan siswi ini mengusung tema “Mengendalikan Emosi, Membangun Jati Diri, dan Menjadi Pribadi Hebat Bertanggung Jawab”.
Kegiatan Achievement Motivation Training ini diawali dengan pelaksanaan Pra AMT yang dilakukan pada Jumat (31/10/2025) untuk mengenal diri lewat pendekatan Jendela Johari.
Kegiatan AMT ini dirancang untuk menumbuhkan jiwa kepemimpinan diri yang tidak hanya berfokus pada teori, tetapi juga pada proses pembentukan karakter melalui refleksi, kerja sama, dan pengalaman langsung yang menyenangkan.

Dalam kegiatan Achievement Motivation Training kali ini menghadirkan dua fasilitator dari SMA Kolese De Britto Yogyakarta, yaitu Christophorus Danang Wahyu Prasetio dan Filipus Dimas Darumurti, serta dua alumni inspiratif SMP Santo Aloysius Turi yaitu Angelo Pratama dan Natanael Devandira Putra. Kehadiran fasilitator dan alumni menambah semangat dan makna tersendiri bagi para peserta yang dengan antusias menyimak setiap sesi.
Program ini merupakan bagian dari bukti konkret bahwa SMA Kolese De Britto selalu berusaha memberikan praktik baik bagi sekolah-sekolah feeder sebagai wujud nyata dari hasil Sinode Pendidikan Keuskupan Agung Semarang (KAS) yang disampaikan Bapa Uskup beberapa waktu yang lalu.
Berbagi praktik baik ini merupakan bagian dari program 3 B (berkolaborasi, berkontribusi dan berpretasi) dari SMA Kolese De Britto yang pada tahun ini mulai digalakkan dan dilaksanakan dengan berlandaskan semangat Ignasian.
Kegiatan AMT ini disusun dengan cermat agar para peserta tidak sekadar memahami konsep kepemimpinan diri, tetapi sungguh mengalami dan menghidupinya dalam kebersamaan untuk hidup sehari-hari
Mengenal Diri Lewat Jendela Johari
Sebelum pelaksanaan kegiatan AMT, diawali dengan kegiatan Pra AMT yaitu pengenalan diri melalui pendekatan Jendela Johari pada Jumat (31/10/2025). Kegiatan ini untuk membantu peserta memahami dirinya dan orang lain. Melalui model ini, para peserta diajak untuk melihat sisi-sisi diri, mana yang sudah terbuka, mana yang masih tersembunyi, dan mana yang belum disadari.
Suasana diskusi terasa hidup, setiap peserta berbagi pandangan dan refleksi tentang bagaimana mengenal diri sendiri menjadi langkah pertama dalam memimpin orang lain. Dari sesi ini, peserta belajar bahwa kepemimpinan sejati berawal dari kejujuran pada diri sendiri dan keterbukaan terhadap sesama.
Setelah penjelasan pendekatan jedela Johari selesai, para peserta diminta untuk menuliskan diskripsi tentang diri masing-masing dan men-sharing-kan, kemudian mereka diminta menuliskan di rumah terkait disposisi batin mengenai perasaan dominan yang dirasakan sebelum pelaksanaan AMT.

Kepemimpinan Diri: Meneladani Santo Aloysius Gonzaga
Dalam sesi pertama AMT pada Rabu (5/11/2025), para peserta dibawa untuk menyelami kepemimpinan diri, menjadi pribadi utuh dengan meneladani semangat dari spiritualitas Santo Aloysius Gonzaga. Perubahan melalui pendidikan dengan menyelenggarakan kegiatan-kegiatan formasi siswa untuk menanamkan butir- butir nilai kepemimpinan ke dalam diri para siswa sejak dini adalah suatu nilai yang selalu diperjuangkan.
SMP Santo Aloysius Turi dengan semangat Santo Aloysius Gonzaga mengajarkan bahwa pertumbuhan iman harus diwujudkan dalam persaudaraan kasih dan damai, dengan hidup saling menghargai dan menciptakan keharmonisan di lingkungan sekolah maupun masyarakat.
Melalui kegiatan formasi siswa ini, harapannya para siswa mampu memimpin dirinya sendiri, kemudian kelak mampu menjadi pemimpin yang berkepribadian unggul, tangguh, mandiri, optimal, utuh, rendah hati, peduli, bersedia mengakui kesalahan, berjiwa besar, dan terbuka untuk belajar. Memimpin diri sendiri berarti sebagai pribadi yang semakin berkembang, dan mampu melakukan perubahan yang selaras dengan situasi zaman tanpa meninggalkan identitas diri sebagai pribadi yang utuh (kesimbangan antara olah pikir, olah rasa dan olah kehendak).
Melalui semangat PKD (Persaudaraan, Kasih, Damai), seluruh warga sekolah diajak untuk meneladani Santo Aloysius dengan menghayati tiga nilai dasar yaitu satu, beriman, hidup sesuai ajaran Tuhan dan mewujudkannya dalam tindakan sehari-hari. Dua, unggul, berusaha mencapai prestasi terbaik melalui disiplin dan tanggung jawab. Dan tiga, peduli, peka terhadap sesama dan lingkungan.
Dengan demikian, meneladani Santo Aloysius Gonzaga berarti membentuk pribadi yang beriman kuat, berkarakter unggul, dan peduli dengan kasih serta kedamaian sejati.
Pada kesempatan ini fasilitator mengajak siswa untuk merenungkan makna kepemimpinan diri dalam kehidupan sehari-hari. Dengan pendekatan Paradigma Pedagogi Reflektif, para peserta belajar untuk memahami konteks, berefleksi atas pengalaman, lalu bertindak dengan semangat pelayanan. Nilai-nilai seperti keadilan, kebijaksanaan, dan tanggung jawab ditanamkan secara mendalam melalui cerita, diskusi, dan refleksi bersama.

Wide Games: Belajar Kepemimpinan Diri Lewat Permainan
Suasana kemudian menjadi lebih seru ketika para peserta diajak ke luar ruangan untuk mengikuti Dinamika Wide Games. Dalam kegiatan ini, mereka belajar tentang kepemimpinan, komunikasi, dan kerja sama tim melalui permainan yang dirancang secara kreatif.
Pada permainan “Estafet Lingkaran Tali”, peserta saling bergandengan tangan dan harus memindahkan lingkaran tali dari satu orang ke orang lain tanpa melepaskan pegangan. Tawa dan teriakan semangat menggema di lapangan. Meski terlihat sederhana, permainan ini menuntut kerja sama, kreativitas, dan kesabaran.
Permainan berikutnya, “Komunikata 10 Butir Kepemimpinan”, mengasah kemampuan mendengar dan menyampaikan pesan dengan tepat. Di sinilah peserta belajar bahwa komunikasi yang efektif menjadi kunci utama dalam kepemimpinan. Nilai-nilai seperti kerja tim, kepekaan, dan refleksi diri tumbuh secara alami melalui pengalaman yang menggembirakan.
Percakapan Rohani 3 Putaran: Ruang Untuk Mendengarkan Dan Bertumbuh
Setelah sesi penuh aktivitas, peserta diajak untuk melakukan percakapan rohani 3 putaran, sebuah metode refleksi dalam kelompok kecil. Setiap peserta mendapat giliran untuk berbicara, didengarkan, dan merespons pengalaman teman-temannya.
Suasana menjadi hening dan hangat. Ada yang berbagi pengalaman tentang bagaimana peserta belajar sabar dalam bekerja sama, ada pula yang mengungkapkan rasa bangga karena mampu mengatasi rasa malu berbicara di depan teman. Kegiatan ini mengajarkan pentingnya mendengarkan dengan empati dan menghargai setiap suara. Dari sinilah para peserta memahami bahwa kepemimpinan diri sejati bukan hanya yang pandai berbicara, tetapi juga yang mampu memahami dan menumbuhkan orang lain.

Mengikat Makna: Menutup Hari Dengan Refleksi
Pengikat Makna adalah proses peneguhan dan refleksi akhir dalam suatu kegiatan yang bertujuan untuk menginternalisasi pengalaman dan nilai-nilai yang diperoleh peserta. Dalam konteks Achievement Motivation Training, pengikat makna menjadi momen krusial di mana peserta diajak untuk merenungkan perjalanan mereka selama pelatihan, memahami esensi dari nilai-nilai yang dipelajari, serta menghubungkannya dengan kehidupan dan kepemimpinan ke depan.
Selain itu, menjadi tahap akhir dari setiap sesi atau aktivitas untuk memastikan bahwa peserta tidak hanya menjalani kegiatan, tetapi juga mengambil pelajaran berharga darinya. Proses ini dilakukan dengan diskusi reflektif, menulis kesan dan pesan, simbolisasi, ataupun pemaknaan mendalam dan bermakna.
Melalui rangkaian kegiatan Achievement Motivation Training untuk Kelas VII dengan tema “Mengendalikan Emosi, Membangun Jati Diri & Menjadi Pribadi Hebat Bertanggung Jawab” ini, tidak hanya membentuk peserta didik yang tangguh, tetapi juga pribadi yang berakar pada nilai-nilai kemanusiaan dan spiritualitas untuk menumbuhkan jiwa kepemimpinan diri sejati.
Setiap sesi dalam materi merupakan sebuah sarana yang berupa permainan, refleksi, dan doa untuk mencapai tujuan menjadi pengalaman berharga yang menumbuhkan kepemimpinan diri secara utuh, untuk mengenal dirinya, menghargai sesama, dan berani membawa terang kebenaran di tengah lingkungan sekitarnya. Kegiatan ini bukan sekadar pelatihan, melainkan sebuah perjalanan pembentukan karakter, di mana para peserta belajar bahwa kepemimpinan diri sejati berarti mau terus belajar, melayani, dan bertumbuh dalam kasih dan kebenaran.









