WartaKita.org – Murid Kelas 8 SMP Marsudirini Bekasi melakukan kegiatan belajar di luar kelas yang dikemas dalam bentuk live in di Dukuh Pentingsari, Desa Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman selama empat hari, dari Senin sampai Kamis (11-14/2/2019).
Rombongan siswa sejumlah 262 anak dan didampingi oleh 17 guru ini berangkat menuju Yogyakarta dengan Kereta Api Ekonomi Progo pada 11 Februari 2019.
Program live in selama empat hari tiga malam ini menjadi salah satu program andalan sekolah di SMP Marsudirini Bekasi. Kegiatan live in ini sebagai implementasi dari pelajaran kemarsudirinian yang diajarkan pada murid di sekolah Marsudirini.
Melalui kegiatan ini para murid diajak untuk mengalami langsung pengalaman hidup bersaudara dengan sesama di masyarakat dan alam ciptaan. Hal ini perlu dimiliki oleh para murid sebagaimana diteladankan oleh Santo Fransiskus Asisi yang menjadi pelindung para suster OSF Semarang, pengelola Yayasan Marsudirini.
Pada hari pertama di Pentingsari, para murid melakukan kegiatan pertanian seperti menanam padi, membajak sawah, dan menangkap ikan lele. Sedang pada hari kedua, murid putra melakukan kegiatan sosial berupa kerja bakti dan mengecat gardu. Sementara murid putri mengolah dan memasak dari bahan baku pisang dan ketela.
Pada hari ketiga, para murid diajak mengenal dan belajar kegiatan seni dengan cara menari tarian Jawa, membatik, bermain gamelan, dan membuat ketrampilan dari janur. Sedang pada hari keempat, para murid meninggalkan Pentingsari untuk berekreasi ke sejumlah tempat wisata di Yogyakarta, dan melanjutkan perjalanan menuju Bekasi.

Kegiatan pembelajaran yang bervariasi di Pentingsari ini menambah pengetahuan dan wawasan bagi para murid. Selama kegiatan live in, para murid tidak dapat beraktivitas dengan handphone (HP).
Melalui kegiatan live in, sekolah ingin memperlihatkan pada siswa bahwa HP bukan satu-satunya benda yang membuat mereka senang dan bahagia. Kebersamaan dengan teman dan masyarakat juga bisa memberi sukacita. Terlebih ketika saat mengisi waktu senggang mereka menciptakan berbagai permainan sendiri.
Selain kegiatan yang dilakukan secara terprogram oleh tim live in, para murid juga mendapat kesempatan untuk membuat refleksi harian dan untuk menemukan makna dari setiap kegiatan yang telah dilakukan. Tugas yang tak kalah menarik dan menantang mereka adalah berkenalan dengan warga masyarakat dan mencatat nama dan alamat mereka. Tugas ini menuntut mereka untuk berani tersenyum dan menyapa lebih dulu orang-orang “asing” yang mereka jumpai.
Para murid juga dituntut untuk mandiri, bisa menikmati setiap sajian yang disediakan, hidup sederhana, dan mampu menyesuaikan dengan lingkungan yang baru.
Sekolah berharap, kegiatan live in ini dapat menjadi pengalaman berharga bagi para murid dan dapat menjadi bekal dalam membangun persaudaraan di mana saja mereka berada, tanpa melihat perbedaan yang ada.









