WartaKita.org – Panggilan menjadi imam dan biarawan-biarawati menjadi kekhasan dari Gereja Katolik.
Pada awalnya, saya, Suster M Agatahanita Triyani OSF juga tidak tahu tentang panggilan itu apa. Sehingga saya sampai lulus SLTA (tahun 1995) dan bekerja, juga belum tertarik untuk menjadi suster (biarawati).
Saya berasal dari perbukitan Menoreh, tepatnya di Dusun Tetes, Desa Sidoharjo, Kecamatan Samigaluh, Kabupaten Kulon Progo. Saya berasal dari keluarga petani yang sederhana. Orang tua saya, Antonius Kamijan Widiyanto (almarhum) dan Maria Magdalena Ginem (alm).
Saya anak ketiga dari 4 bersaudara, dan saya anak putri sendiri. Kakak dan adik sudah berkeluarga dan tidak lagi tinggal di kampung halaman. Mereka tinggal di tempatnya mencari nafkah sehari-hari.
Saat saya masih kecil, saya hidup dengan bersusah payah, yaitu harus membantu orang tua mencari pakan ternak, mencari dan memetik hasil kebun untuk dibawa ke pasar. Misalnya singkong, kunyit, kapulogo, dan lainnya yang harus digendong ke pasar dengan melewati jalan setapak.
Kala itu, tranportasi belum banyak dan belum sampai di kampung saya, sehingga harus jalan kaki. Sepatu pun harus “dihemat”. Maka setiap berangkat ke sekolah, sepatu belum dipakai. Artinya, berangkat tanpa alas kaki, baru kalau sudah melewati sungai dan sudah dekat jalan besar, baru sepatu dipakai.
Tempat sekolah dan pasar kebetulan jalannya satu arah sehingga pada saat ada jadwal pasaran, maka berangkat sekolah sambil membantu orang tua membawa hasil kebun untuk dijual.
Pada saat musim kemarau, selain mencari pakan ternak, juga harus mencari air untuk kebutuhan sehari-hari. Karena di desa saya, saat musim kemarau mengalami kekeringan.
Pada waktu saya kecil, belum ada tangki air maupun PAM. Biasanya, saya mencari air bersama-sama tetangga karena tempatnya jauh dan jalan menurun dan berbatu. Sedang kalau pulang, jalannya naik. Sehingga meskipun sudah mandi ya harus berkeringat lagi.
Kebiasaan yang tak kalah penting yaitu keteladanan orang tua yang selalu menekankan hidup beriman dengan tekun berdoa, ramah, suka memberi dan terbuka, penuh persaudaraan, dan lainnya. Kendatipun orang tua hanya petani yang sederhana, dan penghasilannya tidak banyak, namun tetap sayang pada keluarga, terutama pada anak-anaknya. Mereka diberi kesempatan untuk mengenyam pendidikan sampai SLTA.
Kerinduan anak desa yaitu setelah selesai sekolah ingin langsung kerja agar mendapatkan uang. Saya pun begitu. Setelah selesai sekolah, langsung meninggalkan kampung halaman untuk bekerja di Semarang.
Pada awalnya, saya diberitahu oleh ibu saya untuk datang ke Biara OSF Boro, ketemu salah satu Suster untuk menanyakan apakah ada lowongan pekerjaan. Maka saya bertemu dengan Suster Yosea OSF dan ditanya mau kerja di pabrik atau di biara?
Saya memilih untuk bekerja di biara. Saya juga tidak menanyakan pekerjaannya apa, yang penting bekerja. Maka saya diberitahu kalau kerjanya di Biara Suster OSF Jalan Pemuda 159 Semarang. Tanpa pikir panjang, saya menerima pekerjaan itu, dan siap berangkat meskipun hanya berbekal uang sedikit dan pakaian yang terbatas (maklum orang kampung pakaiannya sederhana) dan diantar oleh Suster Yosea OSF (maklum orang kampung tidak tahu Kota Semarang).
Panggilan itu misteri
Mengapa saya katakan misteri, karena kapan saja Tuhan menghendaki, maka terjadilah panggilan apabila ditanggapi oleh yang terpanggil.
Seperti pengalaman saya terpanggil setelah saya bekerja di Biara Suster OSF. Saya mulai tertarik dengan kebiasaan cara hidup para suster yang teratur. Setiap pagi sudah mendengarkan suara merdu para suster berdoa. Serta kebersamaan saat makan, rekreasi, dan berdoa. Maka saya mulai tertarik untuk masuk menjadi suster.
Alasan saya masuk menjadi suster sederhana. Awalnya, karena di kampung saya belum ada yang menjadi suster (imam dan biarawan-biarawati). Lalu kalau bukan saya, siapa lagi? Saya juga ingin melayani Tuhan.
Kemudian saya mulai mengikuti proses untuk masuk menjadi suster, yaitu tahap masa Aspiran selama sekitar 2 tahun. Saya masuk Kongregasi OSF Semarang (tahun 1998). Postulan 2 Tahun, Novis 2 Tahun, dan kemudian masa Yunior 5 Tahun. Setelah itu, menyerahkan diri secara total kepada Kongregasi dengan mengikarkan kaul seumur hidup (tahun 2007).
Bertitik tolak dari keluarga yang menanamkan atau mengajarkan untuk bertekun dalam doa, Tuhan memilih saya untuk menjadi abdi-Nya lewat Kongregasi Suster-Suster OSF Semarang. Pengalaman dari keluarga yang hidup sederhana, tekun bekerja, harus bersusah payah, ternyata mendidik saya untuk bisa mandiri dan bersikap dewasa.
Kongregasi Suster-Suster OSF Semarang berasal dari Heythuysen, Belanda. Sekarang, pusat Jenderalat berada di Roma, Italia. Kongregasi OSF berada di berbagai Negara, yaitu Belanda, Jerman, Polandia, Brazil, Amerika, Tanzania, Indonesia, dan Dili.
Di Indonesia, Kongregasi OSF Semarang berada berbagai Keuskupan, yaitu Semarang, Jakarta, Bogor, Denpasar, Padang, Ende, Maumere, Weetebula, Atambua, Kupang, Sorong, Tanjung Selor, Manado, dan Dili.
Mengapa memilih OSF?
Setelah bergulat dengan keputusan untuk masuk biarawati (suster), saya akhirnya memilih OSF. Sebelumnya, saya juga melirik ke CB. Namun hati saya berkata, saya mencoba untuk masuk OSF saja (sebenarnya karena belum tahu apa itu OSF, CB, PI dan yang lainnya). Karena saya mengenal dan sudah tinggal bersama para Suster OSF selama saya bekerja, maka saya memutuskan untuk memilih OSF.
Setelah saya masuk dan terlibat di OSF, saya bersyukur karena Tuhan telah menyertai perjalanan saya, hidup panggilan dalam biara. Dengan berbekal dari pengalaman-pengalaman di keluarga, kemudian pendidikan di Postulat, Novisiat, dan masa Yunior serta pengalaman hidup dalam karya, hidup bersama di komunitas serta menghidupi semangat Ibu Magdalena dan Santo Fransiskus Asisi, semakin membulatkan tekat saya untuk terus melanjutkan penjuangan menanggapi Panggilan Tuhan.
Mengapa masih bertahan hidup di biara?
Kesetiaan terus dibangun, tidak lain dari komunitas dimana saya diutus atau ditugaskan. Di komunitas terdapat perbedaan mulai dari budaya, suku, kepribadian, dan lainnya. Dalam hidup di biara tidak pernah lepas dari masalah, konflik, dan juga pengalaman kesepian. Dengan perbedaan itulah, saya terus ditempa untuk berjuang menghadapi kesulitan yang muncul dengan sikap kerendahan hati, terbuka, mengampuni, dan terbuka dengan sesama anggota komunitas. Mereka sangat terbuka untuk membantu, memberikan spirit dan tidak pernah membiarkan saya sendirian. Itulah indahnya hidup dalam biara, suka duka selalu ada dan mewarnai lembaran sejarah panggilan saya.
Karya pelayanan para Suster OSF yaitu, Pendidikan (dari PAUD, TK, sampai sekolah tinggi), Kesehatan, Sosial, dan Pastoral. Saat ini, Kongregasi OSF berusia 186 Tahun, tepatnya pada tanggal 10 Mei 2021.
Saya sejak mulai dari Postulan, Novisiat, Yunior kerap diserahi tugas di bagian dapur. Meskipun saya tidak ada pendidikan untuk memasak, namun karena tekun memasak, maka saya dapat belajar banyak. Sehingga karya saya selalu yang berhubungan dengan dapur. Seperti pesan dari Ibu Magdalena, Ibu Pendiri: ”Di biara sama sekali tidaklah penting karya apa yang dilaksanakan. Ketaatan mengangkat semua pekerjaan manjadi sederajat. Oleh karena ketaatan pekerjaan yang paling hina dan paling kecil menjadi setara dengan yang paling mulia dan paling unggul menurut pandangan Tuhan”.
Maka, saya setia dengan melaksanakan tugas perutusan dengan penuh tanggung jawab dan berusaha menyelesaikan dengan baik. Karya pelayanan saya yang paling lama yaitu di dapur Novisiat SJ Girisonta, Ungaran. Karya di tempat yang lain yaitu kerjasama dengan Tarekat lain. Karya perutusan di tempat tarekat lain harus bisa membawa nama baik dan menjaga relasi dengan baik.
Setelah berkarya yang cukup lama, kemudian mendapatkan tugas perutusan yang baru yaitu untuk studi di ASMI Santa Maria Yogyakarta. Memang menjadi pergulatan saya karena sudah lama tidak terlibat di dunia pendidikan, dan sekarang harus belajar lagi. Namun saya bersyukur karena diberi kesempatan untuk mengalami kesegaran kembali dalam ilmu pengetahuan agar tidak ketinggalan zaman. Semoga saya dapat menyelasaikan tugas studi ini dengan baik.
Bagi kaum muda-mudi yang lajang, saya mengajak kalian untuk menanggapi panggilan Tuhan dengan masuk biara. Jangan takut, Tuhan akan menyelenggarakan “Deus Providebit”. Tidak ada kata terlambat meskipun sudah bekerja dan sudah berpendidikan tinggi. Namun semua itu kita serahkan kepada Tuhan, pasti Tuhan melimpahkan berkat yang melimpah.
Jangan takut kalau tidak bisa dekat orang tua dan sanak saudara. Justru di biara-lah kesempatan untuk membahagiakan orangtua dan merawat orang tua itu terbuka. Karena saya sudah mengalami dan saya sungguh bersyukur, lewat tembok biara saya justru bisa dekat dengan orang tua dan dapat memberikan perhatiaan di saat mereka akan mengakhiri peziarahan hidup mereka.
Terima kasih bapak, ibu, kakak dan adik serta sanak saudara dan teman-teman yang terus menurus mendukung pilihan hidup saya lewat doa, perhatian, dan bantuan yang sangat saya butuhkan sehingga semua menjadi lancar. Semoga semua kebaikan yang boleh saya terima, Tuhan berkenan memberikan berkat yang melimpah. Terima kasih.










Sangat menarik suster😊