Untuk Mangrasul, Ketua Lingkungan Perlu Necep, Neges, Dan Ngemban Dhawuh Sabda

Para Ketua Lingkungan, Ketua Wilayah dan DPPH Paroki Wedi berfoto bersama di sela acara rekoleksi yang diadakan di Giriwening Sengonkerep pada Minggu (16/3/2025).

WartaKita.org – Para Ketua Lingkungan (Kaling), Ketua Wilayah (Kawil) dan Dewan Pastoral Paroki Harian (DPPH) Paroki Santa Maria Bunda Kristus Wedi, Kabupaten Klaten mengikuti rekoleksi yang diadakan di Giriwening Padukuhan Sengonkerep, Kalurahan Sampang, Kapanewon Gedangsari, Kabupaten Gunungkidul pada Minggu (16/3/2025).

Kordinator Ketua Lingkungan Dan Ketua Wilayah Paroki Wedi, Antonius Dwi Noorwahyudi dalam sambutan menyampaikan, rekoleksi ini mengusung tema “Menjadi Ketua Lingkungan Yang Mangrasul”.

Bacaan Lainnya

“Dengan rekoleksi ini diharapkan para ketua lingkungan dan ketua wilayah juga bisa ikut mangrasul, menjadi saksi dan penerus ajaran Yesus. Para ketua lingkungan dan ketua wilayah dapat memperbaiki diri, mengembangkan diri, sehingga bisa menjadi pelayan yang baik, dan bisa menghayati iman kita kepada Yesus Kristus,” harapnya.

Sedang narasumber rekoleksi, Rama Blasius Edy Wiyanto, Pr dalam paparan menjelaskan, umat Katolik (termasuk ketua lingkungan dan ketua wilayah) mendapat tugas panggilan (perutusan) untuk mewartakan. Mengapa perlu mewartakan Injil?

“Karena dalam Injil Markus (16:15-16) jelas disebutkan: Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makluk. Merekapun pergilah memberitakan Injil ke segala penjuru, dan Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda – tanda yang menyertainya,” kata rama.

Rama Edy menyatakan, agar para ketua lingkungan bisa melaksanakan perutusan (panggilan) itu, maka mereka harus mau untuk terus belajar.

“Ketua Lingkungan harus mau memekarkan (mengembangkan) diri. Dimensi memekarkan diri ini terdiri dari olah nalar (untuk menawarkan ide), olah rasa (untuk menemukan makna), olah krida (untuk mengekspresikan potensi), dan olah bawa (untuk memekarkan integritas diri). Ketua lingkungan harus menjadi pewarta yang berani serta konsisten antara kata dan perbuatannya,” ujar rama.

Rama Edy saat menyampaikan materi rekoleksi.

Rama asal Kabupaten Wonogiri ini menerangkan, tugas ketua lingkungan itu yakni pertama, mengembangkan dan mengurus reksa pastoral warga lingkungan dalam kesatuan dan koordinasi dengan reksa pastoral paroki. Kedua, memastikan dan koordinasi dengan reksa pastoral paroki. Ketiga, memastikan terjadinya pertemuan-pertemuan dan kegiatan-kegitan lingkungan. Keempat, menggerakkan keterlibatan umat sebagai wujud kesaksian iman di tengah masyarakat.

“Dan kelima, membangun kerjsama dengan bidang-bidang pelayanan, tim-tim pelayanan Dewan Pastoral Paroki, lingkungan lainnya, serta kelompok kategorial untuk mengembangkan umat dan masyarakat,” paparnya.

Rama Edy mengemukakan,untuk mewujudkan mangrasul, maka ketua lingkungan perlu necep sabda, neges sabda, dan ngemban dhawuh (sabda).

Untuk necep sabda, ketua lingkungan harus satu, mampu mengidentifikasi adanya masalah sosial di lingkungan  terdekat. Dua, mampu menganalisa sebab akibat dari masalah social. Dan tiga, mampu menempatkan masalah sosial di lingkungannya dalam konteks yang lebih luas.

Sedang untuk neges sabda, ketua lingkungan harus satu, mampu mengemukakan pendapat di lingkungan terbatas. Dua, mampu mengemukakan pendapat di forum lebih majemuk. Dan tiga, mampu mengkomunikasikan pendapat di jaringan yang lebih luas.

“Sementara itu untuk ngemban dhawuh (sabda), ketua lingkungan harus satu, mampu mengeksekusi inisiatif individual di lingkungan terbatas. Dua, mampu mengeksekusi inisiatif dengan melibatkan pihak lain. Dan tiga, mampu mengeksekusi inisiatif dengan melibatkan lebih banyak orang dalam jaringan,” jelas rama.

Peserta rekoleksi bermain sabun api.

Dalam rekoleksi ini juga disampaikan materi mengenai “Tata kelola harta benda Paroki Wedi” oleh Wakil Ketua II Dewan Paroki Wedi Yohanes Eko Mardiyono dan Character Building oleh AM Darmawan (Bebet).

Sesi Character Building ini diisi dengan penyampaian materi dan permainan atau game.

AM Darmawan mengatakan, dalam diri manusia terdapat tiga unsur, yaitu body, mind, dan soul. Body adalah segala sesuatu yang tampak dari tubuh manusia. Mind merupakan aktifitas pemikiran dan seluruh keputusan yang diambil. Dan soul memiliki arti roh, jiwa atau nyawa dari manusia.

“Berat atau ringannya, sulit atau mudahnya tugas dari ketua lingkungan itu akan lebih ditentukan oleh pikiran kita. Kalau kita menyatakan berat, maka akan berat pula tugas kita. Tetapi kalau kita menyatakan ringan, maka akan ringan pula tugas kita. Maka, kita harus biasakan katakan: bisa, harus bisa, pasti bisa!” pesan Bebet.

Rekoleksi ini diakhiri dengan perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Rama Edy. Misa dilakukan di Kapel Sengonkerep dan dihadiri umat Lingkungan Santa Monica Sengonkerep.

Pos terkait