Amalkan Tri Sakti Bung Karno, Kadarwati Ajak Warga PDIP Trucuk Merawat Bumi, Tanam Cabai Untuk Kemandirian Ekonomi

Anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah Kadarwati memperingati Bulan Bung Karno dengan mengajak para Pengurus Anak Cabang (PAC) dan Pengurus Ranting PDIP se Kecamatan Trucuk untuk menanam cabai pada Minggu (21/6/2026).

Warta Kita.org – Ada banyak cara bisa dilakukan orang untuk memperingati Bulan Bung Karno.

Seperti yang dilakukan Aggota DPRD Provinsi Jawa Tengah Kadarwati di rumahnya di Desa Jatipuro, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Klaten pada Minggu (21/6/2026).

Bacaan Lainnya

Kadarwati mengumpulkan para Pengurus Anak Cabang (PAC) dan Pengurus Ranting (Ketua, Sekretaris dan Bendahara) PDI Perjuangan (PDIP) se Kecamatan Trucuk untuk memperingati Bulan Bung Karno yang mengusung tema “Merawat Bumi” itu.

Ketua PAC PDIP Kecamatan Trucuk Hanaku Agni Sadewa dalam sambutan memperkenalkan dirinya kepada PAC dan Pengurus Ranting yang hadir.

Untuk diketahui, Sadewa baru saja terpilih sebagai Ketua PAC PDIP Kecamatan Trucuk masa bakti 2025-2030.

“Saya mohon bantuan bapak, ibu semuannya untuk bersama-sama kita memajukan dan mengembangkan PDIP di Kecamatan Trucuk,” katanya.

Sedang Kadarwati menyampaikan, bulan Juni merupakan Bulan Bung Karno. Maka di bulan Juni ini, atas instruksi pimpinan partai, semua pengurus dan kader PDIP wajib mengadakan peringatan Bulan Bung Karno.

“Mengapa bulan Juni disebut juga Bulan Bung Karno? Karena pada bulan Juni ini, setidaknya ada tiga peristiwa besar yang menyangkut Bung Karno. Pertama, Bung Karno lahir pada tanggal 6 Juni 1901. Kedua, Pancasila yang merupakan gagasan Bung Karno lahir pada tanggal 1 Juni 1945. Dan ketiga, Bung Karno meninggal pada tanggal 21 Juni 1970. Inilah mengapa bulan Juni diangkat sebagai Bulan Bong Karno,” katanya.

Anggota Fraksi PDIP DPRD Provinsi Jawa Tengah ini menyatakan, ada banyak gagasan atau ajaran yang dicetuskan Bung Karno selama hidupnya. Salah satunya adalah ajaran mengenai Tri Sakti.

Ajaran Tri Sakti yang dicetuskan oleh Bung Karno dalam pidato peringatan 17 Agustus 1964 ini meliputi berdaulat di bidang politik, berdikari (berdiri di atas kaki sendiri) di bidang ekonomi, dan berkepribadian di bidang kebudayaan.

Nah, berkaitan dengan ajaran Tri Sakti Bung Karno, terutama pada berdikari di bidang ekonomi, dan dalamg rangka memperingati Bulan Bung Karno ini, maka kita ajak para Pengurus Anak Cabang dan Pengurus Ranting se Kecamatan Trucuk untuk merawat bumi dengan menanam cabai dan sayuran lainnya,” ujarnya.

Kadarwati mengumpulkan para Pengurus Anak Cabang (PAC) dan Pengurus Ranting PDI Perjuangan (PDIP) se Kecamatan Trucuk untuk memperingati Bulan Bung Karno yang diadakan di Desa Jatipuro, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Klaten pada Minggu (21/6/2026).

Anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah dari Daerah Pemilihan (Dapil) VII yang meliputi Kabupaten Klaten, Sukoharjo, dan Kota Surakarta itu mengatakan, pada Bulan Bung Karno ini, para pengurus dan kader PDIP diminta untuk mengenang kembali peran penting Bung Karno terhadap bangsa Indonesia dengan ajaran marhaenisme-nya.

Kata Marhaen diambil dari nama seorang petani. Dimana peran penting petani di dalam menjaga kemandirian dan ketahanan pangan, sehingga sangat vital bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.

”Semangat marhaen itu kita implementasikan pada kehidupan saat ini dengan merawat bumi. Salah satunya dengan gerakan menanam tanaman yang bernilai ekonomi seperti cabai, terong, tomat maupun sawi,” ungkapnya.

Kadarwati menambahkan, bagi masyarakat yang tidak memiliki lahan, budidaya tanaman sayur sayuran ini dapat dilakukan dengan memanfaatkan galon bekas air minum sebagai wadah media tanam. Hal ini sekaligus melakukan upaya pelestarian lingkungan dengan jalan pengurangan sampah rumah tangga.

”Galon plastik bekas wadah air minum dan gelas plastik yang merupakan sampah itu bisa kita manfaatkan sebagai wadah media tanam dan sebagai wadah untuk menyiram tanaman,” terangnya,

Ia mengatakan, bila satu rumah tangga menanam tanaman sebanyak 10 galon yang berupa tanaman cabai, terong, tomat maupun sawi, maka akan tercipta kemandirian pangan.

“Hal ini sesuai dengan yang sebagaimana diperjuangkan oleh Bung Karno, yaitu kedaulatan dan kemandirian pangan oleh bangsa Indonesia,” ucapnya.

Kadarwati juga menyampaikan, bila satu rumah tangga menanam tanaman sebanyak sepuluh galon, yang berupa tanaman cabai, terong, tomat maupun sawi, maka akan tercipta kemandirian pangan.

“Hal itu sesuai dengan yang sebagaimana diperjuangkan oleh Bung Karno, yaitu kedaulatan dan kemandirian pangan oleh bangsa Indonesia,” tandasnya.

Pos terkait