Warta Kita.org – Sekitar 40 peserta dari empat Credit Union (CU) mengikuti Organizational Intelligence System (OIS) Botcamp di Desa Wisata Nglanggeran, Kapanewon Patuk, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dari Selasa sampai Jumat (16-19/6/2026).
Peserta berasal dari CU Sauan Sibarrung (Tana Toraja, Sulawesi Selatan), CU Mekar Kasih (Makassar, Sulawesi Selatan), CU Mentari Kasih (Kendari, Sulawesi Tenggara), dan CU Krida Rahardja (Salatiga, Jawa Tengah).
Untuk diketahui, Bootcamp adalah program pelatihan intensif jangka pendek yang dirancang agar peserta dapat menguasai keterampilan spesifik dengan cepat dan siap langsung bekerja.
Kegiatan OIS Botcamp ini didampingi narasumber dari GrowLab Salatiga yaitu Rama Antonius Sumarwan, SJ dan Cornelius Widodo Utomo.
Rama Antonius Sumarwan, SJ menyampaikan, bagi Credit Union, bootcamp ini bertujuan untuk satu, memahami hasil Organizational Intelligence Report secara lebih mendalam. Dua, mengidentifikasi kekuatan, risiko, dan peluang organisasi. Tiga, memperoleh perspektif baru mengenai organisasi melalui pendekatan intelligence. Empat, belajar dari pengalaman dan praktik baik Credit Union lain. Dan lima, menemukan faktor-faktor yang menentukan keberhasilan organisasi multi tempat pelayanan (TP).
Sedang bagi GrowLab dan OIS, kegiatan ini bertujuan untuk pertama, memvalidasi kualitas hasil Organizational Intelligence System. Kedua, menguji relevansi diagnosis, verdict, dan prioritas strategis yang dihasilkan. Ketiga, mengidentifikasi area penyempurnaan OIS. Dan keempat, memperkaya model Organizational Intelligence berbasis realitas Credit Union Indonesia.
“Dengan kegiatan ini diharapkan para peserta bisa belajar bersama, memahami organisasi lebih dalam, dan membangun masa depan Credit Union berbasis intelligence,” kata rama.

Ketua Pengurus CU Kridha Rahardja ini menjelaskan, berdasarkan data yang ada, di CU Sauan Sibarrung ini ada 14 Tempat Pelayanan (TP), CU Mekar Kasih ada 5 TP, CU Mentari Kasih ada 4 TP, dan CU Krida Rahardja ada 3 TP.
“Empat Credit Union ini mewakili tingkat kompleksitas organisasi yang berbeda, sehingga memberikan kesempatan unik untuk melakukan pembelajaran lintas organisasi dan lintas jaringan. Ini sesuai tagline OIS, yaitu Melihat Organisasi yang Selama Ini Tidak Terlihat,” ujar rama.
Dosen Pascasarjana Program Magister Manajemen Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta ini menyatakan, sebagian besar Credit Union saat ini telah memiliki berbagai instrumen untuk mengukur kesehatan organisasi, kinerja keuangan, tata kelola, kepatuhan, dan pertumbuhan organisasi.
Analisa PEARLS membantu mengukur kesehatan keuangan. Audit membantu memastikan kepatuhan. Monitoring membantu mengawasi pelaksanaan program. Dan Governance Assessment membantu menilai kualitas tata kelola.
Namun dalam praktiknya, banyak organisasi masih menghadapi pertanyaan yang lebih mendasar seperti: Mengapa pertumbuhan anggota melambat? Mengapa beberapa TP berkembang pesat sementara TP lain stagnan? Mengapa risiko meningkat meskipun indikator keuangan terlihat baik? Apakah kualitas Kantor Pusat berpengaruh terhadap kualitas TP? Dan faktor apa yang sebenarnya paling menentukan keberhasilan organisasi?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut sering kali tidak dapat dijawab hanya dengan melihat laporan dan indikator secara terpisah. Di sinilah Organizational Intelligence System (OIS) mengambil peran. OIS tidak hanya membaca angka dan indikator.

OIS berusaha memahami hubungan antar data, menemukan pola organisasi, mengidentifikasi akar masalah, membaca risiko masa depan, serta menghasilkan prioritas strategis yang dapat digunakan untuk pengambilan keputusan.
“Bootcamp ini menjadi forum pembelajaran bersama untuk melihat bagaimana OIS membaca empat Credit Union dengan tingkat kompleksitas jaringan yang berbeda, sekaligus menguji sejauh mana Organizational Intelligence dapat membantu organisasi memahami dirinya secara lebih utuh,” terang rama.
Rama asal Kabupaten Karanganyar ini menambahkan, ada pertanyaan besar yang dieksplorasi dalam OIS Botcam ini. Diantaranya: Apakah semakin banyak TP berarti organisasi semakin kompleks? Apakah kualitas tata kelola Kantor Pusat mempengaruhi kualitas TP? Apakah pertumbuhan organisasi lebih dipengaruhi oleh jumlah TP atau kualitas pembinaan? Apakah OIS mampu menemukan pola yang sama pada organisasi yang berbeda? Dan apa faktor yang paling menentukan kesehatan, pertumbuhan, dan keberlanjutan organisasi?
Sebagai informasi, pada hari kedua, 17 Juni 2026, peserta diajak memahami organisasi melalui organization intelligence. Pada ketiga, 18 Juni 2026, peserta membaca pola lintas organisasi. Dan pada hari keempat, 19 Juni 2026 diisi dengan penyampaian commitmen dan closing session. Dalam hal ini, setiap Credit Union menyampaikan tiga insight terbesar, tiga tindakan prioritas, dan satu komitmen perubahan.
Di akhir kegiatan, peserta diajak meninjau atau belajar langsung ke lapangan tentang budidaya kakao, proses pengolahan hasil, dan melihat aneka produk olahannya.

Kegiatan OIS Bootcamp ini mendapat tanggapan yang baik dari peserta.
“Saya kira kegiatan ini sangat bagus. Sebuah langkah besar bagaimana mengembangkan lembaga atau organisasi secara lebih baik lagi. Karena itu kami tertarik, dan mengajak para pimpinan dari manajemen (kantor pusat) dan kantor cabang untuk belajar di sini. Setelah melihat prosesnya, kami merasa ini sangat bagus. Dan ini menjadi acuan bagi kami, bagaimana pelan-pelan kami bisa mengembangkan hal seperti ini,” kata Deputy Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) CU Sauan Sibarrung, Yulianus Botong.
Yulianus menambahkan, dalam kegiatan OIS Bootcamp ini CU Sauan Sibarrung mengirimkan 22 peserta, CU Mekar Kasih 3 peserta dan CU Mentari Kasih 4 peserta.
“Seneng sekali. Tiga hari rasanya tidak cukup. Kami sudah komitmen untuk lakukan tindak lanjut hasil dari pelatihan ini. Kami akan membangun sebuah sistem, seperti hasil pembelajaran ini,” tutur Yulianus.
Hal senada juga disampaikan General Manager (GM) CU Mekar Kasih, Elsa Brigita Novianti.
“Kegiatan ini cukup efektif. Kita bisa sharing bersama. Kita saling memberikan inputan, kita saling belajar, belajar dari CU-CU lain yang mungkin sudah berjalan lebih duluan terkait bidang pemberdayaan dan lainnya. Proses belajar yang dulu manual, sekarang kita bisa dibantu dengan sistem AI, di zaman yang sudah era digitalisasi ini. Hal ini dapat membantu dalam proses pengambilan keputusan,” tandasnya.
Elsa merasa senang dan merasakan kesan yang baik selama berada di Desa Nglanggeran.
“Kesannya cukup baik. Sangat puas. Di sini, walaupun kita tingal di rumah-rumah warga (home stay), tetapi fasilitasnya nggak kalah dengan hotel. Justru suasana kekeluargaannya lebih enak dirasa. Karena dari segi menu, kita juga merasa kayak di rumah sendiri. Keluarga yang kita tempati betul-betul memberikan kita privacy. Jadi kita tidak terganggu. Cukup enak,” ucap Elsa.









