Tuhan Mencintai Dan Memanggil Saya

Suster Eufrasia Simanullang, OSF

SAYA Suster Eufrasia Simanullang, OSF. Saya berasal dari Pakkat, Medan, Sumatera Utara.

Saya merasa bahagia dan bersyukur, Tuhan menganugerahi saya dengan rahmat panggilan ini, yakni menjadi seorang biarawati. Dan saya berterima kasih kepada orang tua dan persaudaraan Kongregasi OSF Sibolga yang senantiasa mendukung saya dalam panggilan ini.

Bacaan Lainnya

Hal terindah dalam hidup adalah bersyukur. Bersyukur atas apa yang dipunyai saat ini.

Saya bersyukur kepada Tuhan yang menanamkan panggilan ini dalam diri saya dan masih terpelihara hingga sekarang. Tuhan mencintai, dan Tuhan memanggil saya. Saya dipanggil-Nya menjadi seorang biarawati yang biasa disebut suster.

Sebenarnya bagaimana sih menjadi suster itu?

Menjadi seorang suster itu tidak susah kok. Tergantung bagaimana ia mampu mengolah dan mematangkan panggilan itu di dalam dirinya. Tapi perlu diingat, bahwa tidak semua orang dipanggil menjadi biarawati atau suster.

Saya terlahir dari keluarga sederhana dan tinggal di sebuah desa yang indah nan sejuk di daerah Pakkat, Medan, Sumatera Utara. Saya adalah anak pertama dari delapan bersaudara, tiga perempuan dan lima laki-laki. Saya dibesarkan dengan kasih sayang yang tulus dari kedua orang tua saya.

Kisah panggilan saya berawal dari sejak saya masih kecil. Awal dari panggilan saya menjadi biarawati sangatlah sederhana. Dan peristiwa ini terjadi semasa saya masih kecil. Saya tertarik ingin menjadi suster ketika saya bertemu dengan seorang pastor yang sangat baik dan ramah.

Dari pengalaman sederhana ini, perlahan-perlahan menumbuhkan benih panggilan hidup membiara di hati saya. Saat itu, saya masih sangat polos, belum mengerti banyak hal. Hingga pada akhirnya, saya bertumbuh lebih dewasa dan memutuskan untuk memilih hidup membiara atas dasar restu kedua orang tua saya.

Saya sangat gembira sedari saya memasuki kehidupan membiara yakni sebagai calon biarawati. Menjadi biarawati yang biasa disebut dengan suster itu harus terlebih dahulu melewati tahap pembinaan hingga seseorang memiliki kematangan pribadi dan spiritual yang memungkinkan seseorang mampu mengenali jalan panggilan hidupnya sendiri secara matang pula. Seiring berjalannya waktu, tahap demi tahap saya lalui.

Tinggal di biara tentu tidak sama dengan tinggal di rumah orang tua. Kehidupan harian di dalam biara memiliki ritme yang teratur. Di biara ada waktu doa, kerja, makan, istirahat, rekreasi, belajar, dan sebagainya yang diatur sedemikian rupa. Tapi justru hal tersebut membuat hidup saya menjadi lebih teratur.

Masa pembinaan di biara sangat mengesankan bagi saya. Sebagai calon suster yang harus menyesuaikan diri dengan kehidupan membiara, belajar segala sesuatunya mulai dari hal yang terkecil sekalipun. Menjalani masa pendidikan membantu saya untuk memantapkan diri dan kepribadian saya yang utuh dengan pengolahan batin, doa, dan refleksi.

Dari semua tahap pembinaan yang paling mengesankan bagi saya, yakni pada waktu menjalani masa novisiat selama dua tahun. Di novisiat, ada banyak kisah yang menarik bersama para saudari yang lain dalam tahap pembinaan. Pada tahap pembinaan di novisiat semakin mematangkan panggilan dan memiliki keyakinan untuk melanjutkan panggilan hidup membiara.

Setelah melewati tahap pembinaan di novisiat, kini tiba saatnya mengikrarkan Kaul Perdana untuk menaati dan menghidupi ke tiga nasehat Injil yakni kaul ketaatan, kemiskinan dan kemurnian. Oleh karenanya, dengan penuh harap dan iman, saya memohonkan rahmat dari Tuhan untuk mampu tetap kuat dan setia pada panggilan dalam menghayati serta menghidupi ke tiga kaul tersebut.

Saya membiarkan diri dituntun oleh Tuhan dengan keyakinan teguh. Bersikap pasrah, percaya akan kehendak dan penyelenggaraan Tuhan membuat hati saya tenang. Bahwa inilah juga yang ternyata menjadi kekuatan saya.

Merefleksikan  perjalanan panggilan ini kerap kali menemukan diri saya yang jatuh-bangun. Saya senantiasa menjaga sikap hati agar tetap bersemangat, bersukacita, dan setia. Saya sangat tertarik akan kehidupan Santo Fransiskus yang selalu mampu bersukacita dalam segala hal. Bahkan ketika mengalami penolakan, penghinaan, cacian dan dalam kemiskinan yang dalam, namun ia mampu menemukan sukacita sejati di dalam Tuhan.

Adapun kaul-kaul tersebut saya hayati sebagai berikut:

  1. Hidup dalam ketaatan membuat seseorang memiliki kerendahan hati. Mengajarkan bagaimana saya menundukkan hati kehendak diri untuk kehendak yang lebih besar yakni pada suara ilahi. Ketaatan tidak mengekang, melainkan membebaskan, tidak terpaksa atau dipaksa. Menjadi taat dengan sepenuhnya tidaklah sekali jadi. Ketaatan adalah sikap mendengarkan suara Sang Ilahi. Ketaatan dalam hidup membiara diujudkan dengan taat kepada persaudaraan dan kepada Gereja.
  2. Hidup dalam kemiskinan yaitu hidup sederhana mampu bersyukur. Dengan demikian membantu saya untuk membaktikan diri pada Tuhan dalam pelayanan. Kemiskinan adalah cara hidup yang memiliki keterbukaan hati, kepercayaan, dan harapan, serta syukur pada penyelenggaraan ilahi.
  3. Hidup dalam kemurnian menjadi suatu sarana pembaktian diri pada Tuhan secara penuh. Memiliki hati yang senantiasa murni. Lewat kaul kemurnian ini, saya mempersembahkan dan membaktikan diri secara penuh kepada Tuhan dengan tanpa ikatan pernikahan. Kaul kemurnian mengantar pada penghayatan dan pengabdian diri kepada Tuhan.

Saya memiliki satu keyakinan dalam diri saya, yakni bahwa “Tuhan mencintai saya dan Tuhan memanggil saya”. Tuhan memanggil, maka saya datang menanggapi panggilan-Nya. Kiranya dengan rahmat Tuhan senantiasa meneguhkan saya dalam panggilan ini di tengah dunia yang semarak dan penuh tantangan hingga akhirnya saya mampu tetap setia sampai akhir.

Doa menjadi sumber kekuatan saya. Pada perayaan Ekaristi Kudus, saya merasakan sentuhan kasih Tuhan yang menyapa saya lebih dekat lagi. Sikap terbuka akan bimbingan dan arahan Tuhan ini menjadi kunci dalam membangun kesetiaan.

Ketika seseorang memiliki keutamaan ini dengan sendirinya ia akan mampu menemukan Tuhan dalam setiap peristiwa hidupnya dan tidak akan mudah digoyahkan oleh godaan dalam iman dan kasih pada Tuhan dan sesama.

 

Pos terkait