Kenalkan Tantangan Hidup Dan Tumbuhkan Panggilan, Calon Penerima Komuni Pertama Paroki Wedi Ikuti Laku Wening Tumuju Giriwening

Anak-anak calon penerima komuni pertama Paroki Wedi berfoto bersama Rama Basilius Edy Wiyanto, Pr di Gua Maria Wahyu Ibuku Giriwening Sengonkerep pada Sabtu (24/5/2025) malam.

WartaKita.org – Sebanyak 130 orang mengikuti kegiatan “Laku Wening Tumuju Giriwening” pada Sabtu (24/5/2025) sore hingga malam.

Mereka terdiri dari 36 anak calon penerima komuni pertama Paroki Santa Maria Bunda Kristus Wedi, para orang tua (calon penerima komuni pertama), para frater, bruder dan suster yang mengikuti kegiatan live in di Paroki Wedi dan anggota Komunitas Margiem (Margi Dalem).

Bacaan Lainnya

Rombongan berangkat dari halaman Gereja Paroki Wedi pada pukul 15.00 WIB. Setelah melalui perjalanan yang panjang dan melelahkan, maka sampailah mereka di Gua Maria Wahyu Ibuku Giriwening di Dusun Sengonkerep, Kalurahan Sampang, Kapanewon Gedangsari, Kabupaten Gunungkidul.

Selanjutnya, mereka mengikuti Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Rama Basilius Edy Wiyanto, Pr. Ekaristi diiringi dengan lagu-lagu Taize. Misa malam itu juga dihadiri umat Lingkungan Santa Monica Sengonkerep.

Ketua Bidang (Kabid) Pewartaan Paroki Wedi Antonius Yunianto, Rabu (28/5/2025), menyampaikan, kegiatan “Laku Wening Tumuju Giriwening” ini bertujuan untuk mengenalkan tantangan yang ada dalam hidup menggereja terutama bagi anak-anak. Dengan berjalan kaki diharapkan anak-anak mempunyai semangat tidak menyerah dan niat yang kuat.

“Selain itu, kegiatan ini juga untuk mengenalkan dan menumbuhkan benih panggilan kepada anak-anak. Karena para frater, bruder dan suster yang mengikuti kegiatan live in di Paroki Wedi juga membersamai atau ikut berjalan bersama anak-anak dalam kegiatan ini,” katanya.

Antonius Yunianto menjelaskan, dalam kehidupan iman Katolik, Sakramen Ekaristi merupakan sumber dan puncak seluruh kehidupan Kristiani. Anak-anak yang sedang mempersiapkan diri untuk menerima komuni pertama ini perlu dibimbing tidak hanya secara pengetahuan, tetapi juga dalam pembentukan iman yang hidup dan panggilan batin yang mendalam.

“Melalui kegiatan “Laku Wening Tumuju Giriwening” bersama Komunitas Margiem ini anak-anak diajak mengalami secara langsung suasana hening dan reflektif yang menjadi ruang tumbuhnya benih iman dan panggilan,” ujarnya.

Kegiatan yang mengusung tema “Tapak Tapak Langkahmu: Menumbuhkan Benih Panggilan Dan Iman Anak-Anak Calon Komuni Pertama Melalui Laku Wening Tumuju Giri Wening Bersama Para Biarawan Dan Biarawati” ini diharapkan menjadi momen istimewa bagi anak-anak untuk mengenal Tuhan lebih dekat, mendalami makna panggilan hidup, serta merasakan kedalaman spiritualitas hidup religius.

Laku Wening, sebagai jalan keheningan batin akan membantu anak-anak untuk belajar mendengarkan suara Tuhan dalam hati mereka. Sedang Tumuju Giri Wening, menggambarkan perjalanan menuju tempat yang hening dan tinggi, sebagai simbol pencarian akan yang Ilahi. Dengan bimbingan para biarawan dan biarawati, anak-anak diajak mengenal teladan hidup religius dan mengalami suasana kontemplatif yang menumbuhkan benih panggilan, entah sebagai imam, bruder, suster, maupun sebagai pribadi Katolik yang beriman teguh.

“Dengan kegiatan ini diharapkan anak-anak calon komuni pertama tidak hanya siap secara lahiriah, tetapi juga memiliki kedalaman batin dalam menyambut Kristus, serta terbuka pada kemungkinan panggilan hidup sesuai kehendak Tuhan,” harap Yunianto.

Kegiatan “Laku Wening Tumuju Giriwening” ini mendapat tanggapan yang baik dari anak-anak calon penerima komuni pertama. Anak-anak merasa senang dan gembira, meskipun ada beberapa orang tua yang awalnya was was.

“Saya senang, bisa jalan-jalan sampai di Giriwening bersama teman-teman, bersama para frater, bruder dan suster. Meski capek, tetapi saya merasa senang,” ucap Hilaria Renata Putri kinasih.

Hal senada juga disampaikan Suster Nancy Clara Sinaga MC.

“Perjalanan ke Giriwening ini sungguh menjadi pengalaman yang berkesan, dan tak akan terlupakan sepanjang hidup saya,” ungkap Suster asli dari Kabupaten Samosir, Sumatera Utara ini, Senin (26/5/2025).

Dalam perjalanan pulang, rombongan sempat diguyur hujan. Namun puji Tuhan, semuanya berjalan lancar, sehat dan selamat.

Pos terkait