SETIAP tanggal 28 Oktober, kita kembali diingatkan pada Sumpah Pemuda. Di banyak tempat, momen ini selalu dikaitkan dengan semangat persatuan dan kebangkitan nasional.
Tapi, di zaman sekarang, apa artinya “persatuan” dan “kebangkitan” bagi generasi muda? Apakah cukup berhenti di rasa bangga sebagai bangsa? Atau lebih dari itu: sebuah kewajiban untuk menjaga Indonesia tetap layak dihuni di masa depan?
Ketika krisis iklim mengancam dengan bencana alam yang semakin sering, deforestasi yang masif, dan polusi di mana-mana, saatnya kita memaknai Sumpah Pemuda dalam konteks baru. Persatuan itu harus diwujudkan dengan gerakan bersama untuk menyelamatkan bumi, bukan hanya sebagai slogan, tapi melalui aksi nyata. Dan jujur saja, siapa lagi yang bisa jadi motor perubahan kalau bukan anak muda?
Sustainable Living Bukan Cuma Urusan Elit
Mari kita jujur dulu. Tidak sedikit orang yang melihat gaya hidup berkelanjutan (sustainable living) sebagai sesuatu yang mewah. Barang-barang ramah lingkungan—seperti reusable bag, sepeda listrik, hingga makanan organik—memang kadang harganya lebih mahal dibandingkan produk biasa. Ini yang bikin banyak orang berpikir: gerakan ramah lingkungan ini kayaknya cuma buat kalangan tertentu. Kalau harus “hijau”, kenapa harus mahal?
Tapi sebenarnya, sustainable living bisa dimulai dengan langkah sederhana. Tidak perlu langsung beli panel surya atau kendaraan listrik kalau belum sanggup. Kita bisa mulai dengan hal-hal kecil, seperti mengurangi plastik sekali pakai, bawa botol minum sendiri, atau naik transportasi umum daripada kendaraan pribadi. Perubahan gaya hidup ini mungkin tidak terlihat “wah”, tapi dampaknya besar kalau dilakukan bersama-sama.
Anak muda yang menguasai internet dan media sosial harus bisa mematahkan stigma bahwa hidup berkelanjutan itu hanya untuk elit. Pola pikir ini harus diubah: berkelanjutan bukan sekadar gaya hidup, tapi kebutuhan. Tanpa bumi yang sehat, tidak akan ada masa depan.
Apa Sebenarnya Peran Pemuda dalam Krisis Iklim?
Kita sedang menghadapi krisis yang serius. Cuaca ekstrem makin sering terjadi, hutan-hutan makin gundul, dan polusi sudah masuk ke tubuh kita melalui udara dan air. Sayangnya, banyak orang masih merasa ini bukan urusan mendesak. Krisis iklim sering dianggap sebagai masalah pemerintah atau ilmuwan saja. Padahal, siapa pun bisa berperan, terutama anak muda.
Pemuda punya energi, kreativitas, dan akses ke informasi yang lebih luas dibanding generasi sebelumnya. Di beberapa daerah, sudah banyak contoh anak muda yang bergerak. Ada yang bikin komunitas bank sampah, ada yang menginisiasi penanaman mangrove di pesisir, atau memulai usaha eco-friendly seperti bisnis refill station untuk produk rumah tangga. Mereka bukan sekadar peduli, tapi berbuat sesuatu. Bukan saatnya lagi menunggu orang lain bertindak. Generasi muda harus jadi pionir. Kalau tidak sekarang, kapan lagi?
Kendala Yang Harus Dihadapi: Dari Apatisme Hingga Akses Yang Tak Merata
Tentu saja, kita tidak bisa menutup mata pada kendala. Apatisme masih jadi musuh terbesar. Banyak pemuda yang merasa bahwa isu lingkungan itu terlalu besar dan jauh dari kehidupan sehari-hari. Selain itu, ada juga ketidaksetaraan akses. Pemuda di kota besar mungkin lebih mudah terlibat dalam gerakan hijau, tapi bagaimana dengan mereka yang tinggal di pedesaan atau komunitas adat? Mereka seringkali tidak punya platform atau akses yang sama.
Di sinilah pentingnya gerakan yang inklusif. Anak muda dari berbagai latar belakang harus diajak terlibat, karena persoalan lingkungan menyangkut semua orang, tidak peduli di mana mereka tinggal.
Kolaborasi Itu Penting: Pemuda, Pemerintah, Dan Sektor Swasta
Mengatasi krisis lingkungan juga tidak bisa dilakukan sendirian. Kolaborasi lintas sektor sangat penting. Pemerintah mungkin punya kebijakan, tapi anak muda harus ikut mengawal agar kebijakan itu benar-benar dijalankan. Sektor swasta juga harus ditekan untuk menerapkan praktik bisnis yang berkelanjutan dan bukan perkara gampang, tapi suara konsumen muda punya kekuatan besar.
Saat ini, konsep Environmental, Social, and Governance (ESG) mulai diterapkan oleh banyak perusahaan. Anak muda yang kritis bisa menggunakan kekuatan konsumen untuk mendesak perubahan dari boikot terhadap produk tidak ramah lingkungan, hingga mendukung bisnis yang berkelanjutan. Dengan cara ini, pemuda tidak hanya jadi penonton, tapi pemain utama dalam perubahan.
“Sumpah Pemuda Hijau”: Janji Untuk Masa Depan
Tahun ini, mari kita jadikan Sumpah Pemuda sebagai momentum deklarasi baru: Sumpah Pemuda Hijau. Persatuan di era sekarang berarti bersatu untuk menjaga bumi. Komitmen itu harus datang dari generasi muda karena di tangan kita, masa depan dipertaruhkan.
Tidak perlu jadi ahli lingkungan untuk ikut serta dalam perubahan karena yang dibutuhkan adalah kemauan untuk mulai, mulai mengurangi sampah, mulai memilih produk yang ramah lingkungan, dan mulai peduli dengan kebijakan yang mendukung keberlanjutan.
Sebagaimana Sumpah Pemuda 1928 menyatukan bangsa yang beragam, hari ini kita perlu bersatu menghadapi ancaman global: krisis lingkungan. Persatuan dan keberlanjutan harus berjalan beriringan. Hanya dengan begitu, Indonesia dan dunia bisa tetap menjadi tempat yang layak bagi generasi mendatang. Bumi tidak butuh pahlawan, tapi butuh orang-orang yang peduli. Jadi, mari kita mulai dari diri kita sendiri. Sekarang waktunya. Anak muda Indonesia, mari pimpin perubahan hijau!
(Januari Ayu Fridayani, Dosen Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Sanata Dharma)









