(Didasarkan pada gagasan Paulo Nogueira Batista Jr.)
DALAM beberapa dekade terakhir, dunia bergerak memasuki era baru yang ditandai pergeseran kekuatan dari Barat menuju Asia dan negara-negara berkembang.
Paulo Nogueira Batista Jr.—ekonom Brasil, mantan Direktur Eksekutif IMF, dan salah satu pendiri New Development Bank (NDB)—memahami perubahan ini bukan sekadar fenomena geopolitik, melainkan transformasi peradaban yang membawa peluang sekaligus ketegangan.
Melalui refleksi dan kuliahnya, ia mengajak kita memandang dunia dari perspektif Global South (Selatan Selatan): kelompok negara berkembang yang selama ini menjadi objek sistem dunia, tetapi kini mulai menegaskan perannya sebagai subjek.
Menurut Batista, tatanan internasional yang dibangun Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya setelah Perang Dunia II kini kehilangan legitimasi. Di saat yang sama, Tiongkok—bangsa yang telah lama tidur—telah terbangun dengan kekuatan, kepercayaan diri, dan kontinuitas sejarah yang luar biasa.
Pertanyaannya: apa yang dapat dipelajari Global South dari kebangkitan Tiongkok? Dan bagaimana negara-negara seperti Indonesia dapat menavigasi perubahan global ini secara mandiri?
Ketika Tiongkok Terbangun Dan Barat Panik
Batista memulai dengan pengamatan yang semakin sulit dibantah: Tiongkok telah bangkit, dan kebangkitannya mengubah wajah dunia. Tetapi yang lebih menarik adalah reaksi Barat. Alih-alih menyambut prestasi ekonomi terbesar dalam sejarah modern, Amerika Serikat dan banyak negara Eropa menunjukkan apa yang oleh Batista disebut sebagai “rasa iri yang jahat”—dorongan untuk menghambat, membatasi, bahkan menggagalkan kemajuan Tiongkok.
Embargo teknologi, perang dagang, pembatasan investasi, pelarangan perusahaan Tiongkok, hingga apa yang kerap disebut “de-risking” hanyalah beberapa contoh dari upaya sistematis untuk memperlambat laju Tiongkok. Semua ini mencerminkan kegelisahan mendalam Barat yang merasa posisinya terancam.
Sebaliknya, bangsa-bangsa di Global South cenderung merasakan “rasa iri yang baik”—kekaguman yang mendorong keinginan untuk belajar. Banyak negara berkembang melihat Tiongkok bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai contoh bahwa modernisasi dapat dicapai tanpa mengikuti resep Washington Consensus.
Tiongkok Membangun Jalannya Sendiri
Bagi Batista, inti keberhasilan Tiongkok terletak pada keberaniannya menyusun strategi pembangunan yang original, bukan copy-paste dari Barat, bukan versi lain dari Uni Soviet. “Sosialisme dengan karakteristik Tiongkok” bukan slogan kosong, tetapi kerangka nyata pembangunan jangka panjang.
Batista menyoroti beberapa ciri khas model tersebut:
Pertama, negara yang menetapkan arah, pasar yang melakukan tugasnya.
Di Tiongkok, negara menata panggung, pasar memainkan peran. Bank-bank milik negara pun saling bersaing meningkatkan kinerja, namun tetap tunduk pada tujuan strategis nasional. Sektor privat tumbuh pesat, tetapi tidak dibiarkan mendominasi kebijakan publik.
Kedua, perubahan yang bertahap.
Tiongkok menolak jalan pintas yang ditempuh Rusia dan beberapa negara Amerika Latin: liberalisasi mendadak, privatisasi masif, atau pembukaan arus modal secara penuh. Di Tiongkok, semua perubahan dilakukan bertahap, terukur, dan diawasi ketat.
Ketiga, sikap keras terhadap plutokrasi, kleptokrasi, dan kakistokrasi.
Ini salah satu argumen paling tajam dari Batista. Ia membandingkan Tiongkok dengan Amerika Serikat. Dia Tiongkok, para miliarder ada, tetapi tidak mengontrol kebijakan publik. Mereka tidak boleh mengangkangi negara atau mempengaruhi sistem politik. Korupsi (kleptokrasi) dihukum keras, nahkan hingga hukuman mati, juga untuk para pejabat tinggi partai.
Di Amerika Serikat, menurut Batista, “mereka yang memiliki uang, memiliki kekuasaan.” Demokrasi berubah menjadi plutokrasi, dikuasi oleh donatur besar, lobi korporasi, dan kepentingan finansial.
Ia menambahkan bahwa sistem politik Barat sering menghasilkan kakistokrasi—pemerintahan oleh mereka yang tidak kompeten atau yang hanya mencari kepentingan diri. Sebaliknya, Tiongkok, menurut Batista, membangun meritokrasi yang tidak sempurna tetapi berfungsi. Para pemimpinnya ditempa melalui evaluasi internal bertahun-tahun sebelum naik ke puncak kekuasaan, menghasilkan stabilitas dan konsistensi kebijakan.
Keempat, peradaban yang tidak pernah putus.
Tiongkok memiliki modal yang sulit ditiru: kontinuitas budaya selama ribuan tahun, yang memberi fondasi identitas, disiplin kolektif, dan kemampuan merespon krisis secara koheren. Tradisi, hierarki moral, dan cara pandang dunia tetap bertahan meski mengalami perang, invasi, dan revolusi. Kombinasi antara menghormati leluhur dan keberanian untuk berinovasi memberi Tiongkok daya lenting yang tidak dimiliki banyak bangsa.
Batista tidak menutupi masalah internal Tiongkok: perlambatan pertumbuhan, pasar ekspor yang menurun, pengangguran kaum muda, sistem pensiun yang belum matang, hingga tantangan demografi. Namun ia menegaskan bahwa masalah ini tidak menggoyahkan struktur fundamental Tiongkok. “Ini bukan krisis sistemik,” katanya, “melainkan tantangan yang dapat dikelola.”
Apa Yang Bisa Dipelajari Global South
Menurut Batista, yang harus dilakukan Global South bukanlah meniru Tiongkok, karena setiap negara memiliki sejarah, skala, dan institusi yang berbeda. Namun ada beberapa pelajaran strategis yang dapat diadaptasi:
Pertama, berpikir mandiri.
Negara-negara Global South harus berani mengambil keputusan berdasarkan kepentingan nasional, bukan tekanan geopolitik atau dogma ekonomi yang diimpor. Resepsi buta terhadap neoliberalime telah menghancurkan lebih banyak negara berkembang daripada yang diperbaikinya.
Kedua, membangun institusi negara yang kuat.
Liberalisasi tanpa institusi negara yang kuat adalah resep kegagalan. Negara harus memperkuat kapasitas birokrasi, mengelola investasi strategis, dan menjaga kontrol terhadap sektor kunci seperti energi, infrastruktur, dan keuangan.
Ketiga, meritokrasi dalam pemerintahan.
Tantangan bagi Global South bukan sekadar korupsi, tetapi dominasi mediokritas dalam politik. Negara yang menyerahkan masa depannya pada politisi yang tidak kompeten akan kesulitan mengejar pembangunan.
Keempat, pertahankan ruang otonomi.
Dalam dunia yang semakin terpolarisasi, negara berkembang harus menjaga jarak dari intervensi dan tekanan geopolitik, terutama ketika terkait teknologi, keamanan data, dan sistem keuangan.
Kelima, membangun arsitektur baru untuk Selatan-Selatan.
Batista menekankan pentingnya lembaga-lembaga alternatif seperti NDB, sistem pembayaran non-dolar, kerja sama teknologi Selatan–Selatan, dan pendalaman perdagangan intra-BRICS.
Di Mana Posisi Indonesia?
Sebagai negara besar di Asia Tenggara, Indonesia berada di posisi strategis. Indonesia memiliki ruang manuver unik untuk bekerja dengan Tiongkok dan negara maju lain dalam pembangunan infrastruktur, transisi energi, dan penguatan industri nasional, tanpa harus kehilangan otonomi atau terseret dalam rivalitas AS–Tiongkok.
Indonesia dapat mengambil inspirasi dari prinsip-prinsip yang digarisbawahi Batista dengan cara yang lebih kontekstual dan sesuai realitas nasional.
Yang pertama, Indonesia perlu berpikir merdeka, tidak langsung menelan mentah-mentah model pembangunan Barat maupun Tiongkok, tetapi menilai sendiri mana yang relevan dan mana yang harus dimodifikasi.
Kemandirian berpikir ini menjadi fondasi bagi langkah berikutnya: menata ulang kebijakan industri agar tidak berhenti pada proyek jangka pendek, tetapi benar-benar membangun kemampuan produksi nasional yang berkelanjutan dan bernilai tambah tinggi.
Agar strategi jangka panjang itu tidak mudah digagalkan kepentingan tertentu, negara harus memperkuat institusi publiknya: membangun sistem yang tangguh, transparan, dan tahan dari pembajakan oligarki yang sering kali menghambat transformasi struktural.
Dalam menghadapi dinamika global, Indonesia perlu menjalin hubungan yang cerdas dan kritis dengan Tiongkok dan negara maju lain: memanfaatkan peluang ekonomi dan teknologinya, tetapi dengan negosiasi yang berimbang, memastikan manfaat terbesar kembali kepada rakyat dan pembangunan nasional.
Akhirnya, penting juga bagi Indonesia memanfaatkan arsitektur baru BRICS+, NDB, dan lembaga non-Barat untuk memperluas akses pembiayaan pendidikan, infrastruktur, dan teknologi.
Di sinilah relevansi pemikiran Batista: Indonesia membutuhkan keberanian intelektual dan politik untuk memposisikan diri sebagai negara berkembang besar yang mampu memanfaatkan perubahan global, bukan sekadar menontonnya.
Menuju Tata Dunia Yang Lebih Plural
Dari perspektif Batista, dunia sedang bergerak menuju multipolaritas, di mana tidak ada satu negara atau blok yang memonopoli aturan. Tiongkok telah membuka jalan, bukan dengan memaksakan ideologi, tetapi dengan menunjukkan bahwa negara non-Barat mampu bangkit melalui jalur sendiri.
Bagi Global South, pelajarannya jelas: jangan takut bermimpi besar, jangan tunduk pada narasi inferior, dan jangan menunggu izin dari siapa pun untuk membangun masa depan nasional.
Tiongkok telah menulis kisahnya sendiri. Kini giliran Global South—termasuk Indonesia—untuk menulis kisah mereka, membangun jalannya sendiri, dan menjadi aktor utama dalam tatanan dunia yang tengah berubah.***
Antonius Sumarwan, SJ
Dosen Universitas Sanata Dharma, Peneliti pada Global Development Research Center (GDRC) dan Indonesia China Partnership Studies (INCHIPS)
Sumber:









