PERNAHKAH Anda terbangun di pagi hari, membuka ponsel, dan tiba-tiba menyadari ada rentetan notifikasi tagihan dari berbagai aplikasi perbelanjaan atau layanan berlangganan?
Anda mungkin mengernyitkan dahi, mencoba mengingat kembali kapan tepatnya Anda menyetujui semua pengeluaran tersebut.
Jika Anda pernah mengalaminya, Anda tidak sendirian. Kita saat ini sedang hidup di tengah pusaran era digital, di mana batas antara apa yang kita inginkan dan kapan kita bisa memilikinya menjadi sangat kabur.
Transaksi finansial saat ini dapat diselesaikan hanya dalam hitungan detik; entah itu melalui pindai kode QRIS di warung kopi, atau dengan menggunakan koin virtual dalam gim daring favorit Anda.
Secara sekilas, semua ini tampak seperti puncak dari kemudahan teknis peradaban modern. Namun, jika kita telaah lebih jauh, kemudahan ini ternyata bukan sekadar inovasi teknologi belaka.
Ini adalah sebuah bentuk “Amnesia Finansial” yang terjadi secara sistematis.
Evolusi metode pembayaran saat ini pada dasarnya telah menggeser paradigma transaksi kita. Kita berpindah dari sebuah pertukaran fisik yang nyata dan dapat diraba, menuju sebuah abstraksi digital yang sama sekali tidak kasat mata.
Untuk memahami mengapa kita menjadi begitu mudah mengeluarkan uang di era digital, kita harus berkenalan dengan sebuah konsep psikologis yang dikenal sebagai Pain of Paying (PoP) atau “Rasa Sakit saat Membayar”.
Konsep ini pertama kali dipopulerkan oleh dua orang peneliti bernama Prelec dan Loewenstein pada tahun 1998 untuk menjelaskan ketidaknyamanan psikologis yang kita rasakan saat harus mengeluarkan uang.
Secara neurologis, proses berbelanja dan membayar ini sangatlah menarik. Saat Anda melepaskan sumber daya finansial Anda, misalnya menyerahkan selembar uang pecahan seratus ribu rupiah, aktivitas ini memicu stimulasi pada bagian otak yang disebut insula.
Hebatnya, insula adalah bagian otak yang sama yang merespons ketika tubuh kita merasakan sakit secara fisik. Dengan kata lain, secara biologis, otak kita memproses kehilangan uang mirip dengan sensasi ketika kita tidak sengaja menyandung kaki meja.
Intensitas dari sinyal neurologis negatif atau rasa sakit ini ternyata tidak bersifat statis, melainkan sangat bergantung pada dua faktor utama.
Faktor pertama adalah transparansi pembayaran, yakni tentang seberapa terlihat atau nyata wujud uang yang keluar dari tangan kita.
Faktor kedua adalah waktu pembayaran, yaitu kapan tepatnya uang tersebut keluar dari kantong kita jika dibandingkan dengan saat kita menikmati barang atau jasa yang kita beli.
Evolusi alat pembayaran modern berlomba-lomba untuk memanipulasi kedua faktor ini demi satu tujuan: mereduksi rasa sakit tersebut.
Mari kita bernostalgia sejenak ke masa di mana uang tunai adalah raja. Ketika berbicara tentang Pain of Paying, pembayaran tunai adalah standar tertinggi dari rasa sakit itu sendiri. Mengapa demikian? Karena uang tunai memberikan umpan balik sensorik yang maksimal kepada penggunanya.
Bayangkan momen ketika Anda harus membayar belanjaan bulanan dengan uang tunai. Anda harus membuka dompet, menghitung lembar demi lembar, dan melihat secara visual bagaimana tumpukan fisik uang Anda perlahan berkurang. Anda juga merasakan tekstur kertas tersebut saat berpindah tangan ke kasir.
Berdasarkan penelitian klasik yang dilakukan oleh Zellermayer pada tahun 1996, pembayaran tunai terbukti memiliki tingkat “transparansi” yang paling tinggi.
Transparansi tingkat tinggi ini memaksa kita sebagai konsumen untuk secara langsung dan instan menghadapi realitas pahit bahwa kekayaan atau saldo kita telah berkurang.
Umpan balik fisik yang berupa visual dan taktil (sentuhan) ini serta waktu pembayaran yang terjadi seketika (immediate) membuat intensitas PoP menjadi maksimal. Rasa sakit inilah yang sebenarnya sangat kita butuhkan. Ketidaknyamanan psikologis ini berfungsi sebagai “rem alami” yang sangat efektif untuk mencegah kita dari perilaku belanja yang berlebihan.
Seiring berjalannya waktu, teknologi finansial mulai berinovasi untuk mencari cara agar konsumen bisa berbelanja dengan lebih “nyaman”. Di sinilah kartu kredit mengambil peran revolusionernya.
Kartu kredit hadir dengan memperkenalkan sebuah konsep psikologis baru yang disebut payment decoupling (pemisahan waktu pembayaran).
Melalui metode ini, kenikmatan atau manfaat dari sebuah produk bisa Anda terima dan rasakan sekarang juga, namun “sakitnya” membayar sengaja ditunda hingga akhir bulan saat tagihan datang. Jeda waktu atau delayed payment ini sangat berpengaruh terhadap cara otak kita memproses transaksi.
Peneliti bernama Soman pada tahun 2001 berpendapat bahwa kartu kredit secara efektif mengurangi transparansi pembayaran.
Coba pikirkan: Anda menggunakan satu kartu plastik yang sama persis untuk membeli kopi, membayar tiket pesawat, hingga menyicil televisi baru. Karena wujud fisiknya tidak berubah dan tidak berkurang setelah digesek, otak kita menjadi kesulitan untuk menghubungkan satu pengalaman pembelian yang spesifik dengan berkurangnya saldo rekening secara real-time.
Akibatnya, transparansi transaksi menurun ke tingkat sedang, umpan balik sensorik menjadi minimal, dan intensitas rasa sakit (PoP) berubah menjadi moderat. Anda baru akan merasakan sakitnya saat tagihan kumulatif datang menumpuk di akhir bulan.
Jika kartu kredit adalah langkah awal dalam memanipulasi rasa sakit, maka fitur Buy Now Pay Later (BNPL) atau yang sering kita sebut “Paylater” adalah bentuk evolusi selanjutnya yang jauh lebih canggih. BNPL saat ini bagaikan sebuah fenomena luar biasa yang sangat populer, terutama di kalangan generasi milenial dan Gen Z.
Apa yang membuat BNPL begitu “berbahaya” namun sangat digemari? Berbeda dengan kartu kredit konvensional yang membutuhkan proses pengajuan yang panjang dan terpisah, BNPL sering kali sudah terintegrasi langsung di dalam ekosistem aplikasi belanja daring itu sendiri. Mereka menawarkan sistem cicilan tanpa bunga yang dikemas sedemikian rupa sehingga terlihat sangat ringan dan masuk akal.
Menurut sebuah penelitian terbaru yang dipublikasikan oleh Liu dkk. pada tahun 2023, BNPL berhasil menciptakan sebuah ilusi keterjangkauan. Cara kerjanya adalah dengan memecah total harga sebuah barang yang mahal menjadi angka-angka cicilan kecil yang tampak remeh.
Sepatu seharga dua juta rupiah mungkin terasa berat, tetapi jika dipecah menjadi seratus ribuan per bulan, otak kita akan menerimanya sebagai pengeluaran kecil.
Fenomena memecah harga ini, ditambah lagi dengan adanya fitur langganan otomatis (auto-subscription), membuat konsumen dengan mudahnya kehilangan jejak terhadap jumlah kumulatif pengeluaran mereka. Waktu pembayaran menjadi sangat terfragmentasi atau terpecah-pecah.
BNPL secara brilian, sekaligus mengerikan, telah secara efektif menghilangkan hambatan psikologis terakhir yang ada dalam transaksi digital. Mereka mengubah keputusan finansial yang besar dan berat menjadi sekadar serangkaian “klik” kecil di layar ponsel yang sama sekali tidak menyakitkan.
Dalam komparasi metode pembayaran, BNPL memiliki tingkat transparansi yang rendah dan umpan balik sensorik yang hampir nol (hanya berupa notifikasi singkat di layar), sehingga intensitas Pain of Paying-nya pun menjadi minimal atau bahkan sepenuhnya teranestesi.
Tingkat digitalisasi yang semakin tinggi ternyata berbanding lurus dengan semakin rendahnya rasa sakit yang kita rasakan. Hal ini akhirnya berujung pada peningkatan konsumsi impulsif secara besar-besaran. Namun, BNPL bukanlah ujung dari segalanya.
Analisis fenomena terkini menunjukkan bahwa ada bentuk lain dari abstraksi uang yang jauh lebih ekstrem, yaitu penggunaan koin dalam gim (in-app currency) dan pembayaran digital praktis seperti QRIS.
Penggunaan koin di dalam permainan daring adalah bentuk paling ekstrem dari penghilangan Pain of Paying. Ketika uang rupiah yang nyata di rekening Anda dikonversi menjadi bentuk “Gems”, “Diamond”, atau koin virtual lainnya, nilai intrinsik dari uang tersebut seketika hilang dalam persepsi Anda sebagai pengguna. Anda tidak lagi merasa sedang membelanjakan uang hasil jerih payah bekerja, melainkan sekadar menukarkan poin mainan.
Hal yang hampir serupa juga terjadi pada mekanisme pembayaran menggunakan kode QRIS yang kini menjamur di setiap sudut jalan. Membayar dengan QRIS menghilangkan interaksi fisik dengan uang secara total. Proses mengangkat ponsel, membuka kamera, dan memindai kode QR dirasakan oleh otak kita lebih mirip seperti aktivitas bermain media sosial daripada sebuah aktivitas finansial yang serius.
Fenomena ini dicatat dengan apik oleh Harto & Kusuma (2024), yang menyoroti bahwa ketiadaan gesekan fisik membuat tindakan membayar terasa begitu ringan dan tanpa beban.
Menghadapi realitas ini, tantangan terbesar kita ke depan bukan lagi sekadar belajar berhitung atau menabung. Pendidikan dan literasi keuangan di masa depan harus memiliki pendekatan baru, yaitu berfokus pada cara mengembalikan “rasa sakit” yang sehat tersebut ke dalam kebiasaan finansial kita.
Rasa sakit saat mengeluarkan uang adalah mekanisme pertahanan diri yang harus dihidupkan kembali. Salah satu caranya mungkin dengan menuntut inovasi alat pemantauan saldo di perbankan digital yang jauh lebih visual dan interaktif, agar kita kembali “merasakan” uang yang keluar. Sebab, tanpa adanya rasa sakit finansial, kita hanya akan terus menari dalam ilusi kemudahan, membiarkan dompet terkuras habis hanya dengan sentuhan satu klik belaka.
Fajar Santoso
Dosen UIN Raden Mas Said Surakarta









