BANYAK lembaga keuangan mikro menggunakan skema pinjaman dengan cicilan kecil yang dibayar secara rutin dan jadwalnya ketat.
Cara ini memang membantu lembaga menjaga disiplin pembayaran, namun tidak selalu cocok untuk peminjam yang pendapatannya naik-turun.
Bagi mereka yang tidak punya pekerjaan tetap atau aset yang cukup, jadwal cicilan yang kaku justru bisa menyulitkan dan membuat manfaat dari pinjaman menjadi tidak optimal.
Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa jadwal pembayaran yang terlalu kaku dapat menghambat peminjam untuk berinvestasi di awal usaha, menambah biaya administrasi, dan dalam kasus tertentu membuat peminjam harus menjual aset atau meminjam ke tempat lain untuk menutup cicilan (gali lubang tutup lubang). Bahkan ada yang mengalami penurunan konsumsi dan tekanan mental akibat beban angsuran.
Karena berbagai keterbatasan tersebut, muncul inovasi berupa pinjaman fleksibel. Bentuk fleksibilitas ini berbeda-beda, mulai dari menunda angsuran di awal periode atau umum disebut grace period, kesempatan menunda pembayaran angsuran selama periode pinjaman, sampai skema pembayaran yang menyesuaikan pendapatan.
Bagi rumah tangga dan pelaku usaha kecil yang pendapatannya tidak menentu, fleksibilitas ini sangat membantu dalam menjaga arus kas dan, selanjutnya, kesejahteraan keluarganya. Skema ini juga memberi kesempatan bagi peminjam untuk berinvestasi lebih besar dan mengantisipasi kondisi darurat (shock).
Sejumlah studi menunjukkan bahwa pinjaman fleksibel berpotensi meningkatkan pendapatan usaha dan rumah tangga. Namun, fleksibilitas juga membawa risiko. Ada kemungkinan kedisiplinan angsuran menurun dan risiko gagal bayar meningkat.
Dari sisi lembaga penyedianya, operasional pinjaman dengan skema pembayaran fleksibel juga bisa lebih rumit, menuntut pengelolaan likuiditas yang lebih hati-hati, dan membuka peluang fraud jika tidak diawasi dengan baik. Hasil penelitian pun belum sepenuhnya sejalan, dimana sebagian menemukan risiko gagal bayar naik, sementara lainnya menunjukkan penurunan.
Praktek Pada Credit Union Kridha Rahardja
Di Indonesia, Credit Union Kridha Rahardja (CUKR) sudah mulai mengembangkan pinjaman fleksibel melalui produk ‘pinjaman sebrakan’. Produk ini potensial digunakan untuk membiayai kebutuhan modal usaha yang mendesak ataupun kebutuhan konsumtif atau darurat.
Produk ini memberikan grace period hingga satu tahun, dengan kewajiban membayar bunga setiap bulan. Pembayaran pokoknya juga sangat fleksibel. Pinjaman bisa dicicil rutin, dicicil tidak terjadwal, atau dibayar sekaligus sebelum atau saat jatuh tempo.
Kinerja pinjaman sebrakan pun terus membaik. Nilai pinjaman yang beredar naik dari 269,7 juta pada awal 2023 menjadi 1,78 miliar rupiah pada pertengahan 2025. Jumlah peminjam juga naik dari 41 menjadi 165 orang.
Meskipun porsinya masih kecil terhadap total pinjaman beredar CUKR, minat anggota terhadap skema yang lebih fleksibel tampak semakin tinggi.
Dengan perkembangan tersebut, penting bagi CUKR untuk terus mendorong pemanfaatan pinjaman sebrakan sebagai sarana memperkuat kondisi keuangan anggota. Fleksibilitasnya berpotensi meningkatkan kesejahteraan anggota, khususnya yang pendapatannya tidak stabil.
Meskipun demikian, dalam konteks penerapan pinjaman fleksibel ini, pastikan anggota memiliki kedisiplinan finansial dan tidak terlalu ambil risiko dalam menggunakan pinjaman.
Inilah pesan dari sebuah penelitian Giorgia Barboni dan Parul Agarwal, dua orang peneliti keuangan mikro yang konsisten mendalami dampak pinjaman mikro dengan skema fleksibel.
Fleksibel bukan berarti bebas tanpa aturan, namun memfasilitasi ruang bagi anggota untuk mengelola usaha dan anggarannya dengan lebih leluasa untuk kesejahteraan mereka.
Agar pertumbuhan pinjaman sebrakan tetap sehat, CUKR juga perlu senantiasa memperhatikan pengelolaan risiko dengan rutin memantau arus kas usaha anggota pengakses pinjaman sebrakan untuk menjamin keberlanjutan layanan.
(Stephanus Eri Kusuma, Dosen Program Studi Ekonomi, Universitas Sanata Dharma)









