Inklusi Saja Tak Cukup, Diperlukan Kapabilitas Keuangan

Melalui pendidikan (pelatihan) literasi keuangan yang terprogram, credit union mengupayakan agar masyarakat yang dilayaninya memiliki kapabilitas keuangan yang mumpuni untuk mengoptimalkan kesejahteraan finansialnya.

BERAGAM jasa keuangan menjadi semakin mudah diakses seiring dengan perkembangan teknologi keuangan digital serta masifnya upaya pemerintah berbagai negara untuk mendorong inklusi keuangan.

Kendati demikian, di tengah akses terhadap jasa keuangan yang semakin merata, tidak sedikit masyarakat yang terjerumus dalam kesulitan ekonomi karena kurangnya kehati-hatian dan kebijaksanaan dalam memanfaatkan jasa keuangan.

Bacaan Lainnya

Sebagai contoh, karena mudahnya mengakses pinjaman, sejumlah masyarakat terlalu berani berhutang tanpa memperhitungkan kemampuannya untuk membayar sehingga harus ‘gali lubang tutup lubang’ untuk memenuhi kewajiban hutangnya.

Contoh lainnya adalah sejumlah orang berinvestasi tanpa terlalu memperhatikan risikonya, sehingga terjerumus dalam kasus kegagalan investasi atau bahkan terjebak dalam  investasi ‘bodong’ atau ‘gagal bayar’

Fakta tersebut mengungkap bahwa inklusi keuangan (financial inclusion) saja—dalam artian tersedianya akses jasa keuangan yang sesuai kebutuhan masyarakat dengan harga terjangkau (menurut definisi Bank Dunia)— tidak cukup untuk menjamin kesejahteraan umum.

Untuk menjamin kesejahteraan masyarakat yang berkelanjutan, diperlukan kapabilitas keuangan (financial capability) yang merata di tengah masyarakat.

Apa itu kapabilitas keuangan?

Kapabilitas keuangan didefinisikan sebagai kemampuan individu untuk menerapkan pengetahuan keuangan secara tepat dan menerapkan perilaku keuangan yang optimal untuk mencapai kesejahteraan finansial.

Mengacu pada Allied Financial Inclusion (2017), orang yang memiliki kapabilitas keuangan  adalah orang dengan pengetahuan, keterampilan, sikap, dan perilaku yang memungkinkan mereka memperoleh informasi, mengambil keputusan yang bertanggung jawab mengenai keuangan personal mereka, dan mengambil tindakan yang tepat sesuai dengan situasi yang terjadi.

Pengetahuan adalah stok informasi tentang suatu isu, topik, atau subjek terkait keuangan yang diperoleh dan diingat oleh seseorang. Keterampilan adalah kemampuan seseorang untuk menggunakan pengetahuan keuangannya. Sikap adalah kemauan dan kesiapan seseorang untuk mencurahkan waktu dan sumber daya lain yang dibutuhkan untuk menerapkan pengetahuan dan melatih keterampilannya. Sementara itu, perilaku adalah penerapan pengetahuan, keterampilan, dan sikap dalam kehidupan sehari-hari.

Masih mengacu pada Allied Financial Inclusion, setidaknya ada 7 kategori perilaku yang mencirikan seseorang memiliki kapabilitas keuangan, yaitu perilaku terkait:

  1. Economic impact (and institutions): mempertimbangkan potensi dampak ekonomi yang mungkin mempengaruhi kondisi keuangan personal. Misalnya mengikuti indikator keuangan dan ekonomi makro yang penting (seperti inflasi, pertumbuhan ekonomi, tingkat bunga, kebijakan ekonomi pemerintah), serta mengikuti perkembangan berbagai jenis lembaga keuangan;
  2. Budget planning: membuat perencanaan anggaran dan mengelola keuangan berdasarkan anggaran (membelanjakan pendapatan berdasarkan anggaran, memantau penggunaan anggaran);
  3. Savings & long-term planning: menabung secara rutin untuk memenuhi kebutuhan umum dan mencapai tujuan-tujuan khusus yang ditargetkan di masa mendatang dan memiliki dana hari tua;
  4. Debt management: menggunakan jalur formal dan mempertimbangkan anggaran pribadi ketika mengakses pinjaman serta memiliki jadwal pembayaran utang yang terencana sehingga dapat melunasi semua utang tepat waktu;
  5. Shopping around: mengumpulkan informasi dari berbagai sumber dan membuat perbandingan fitur sebelum memilih layanan keuangan;
  6. Right protection: membaca kontrak transaksi keuangan sebelum menandatanganinya dan berkomunikasi dengan otoritas resmi yang bertanggung jawab untuk menangani jika ada permasalahan;
  7. Safety: memperhatikan informasi terkait (potensi) penipuan keuangan dan tidak serta merta menolak semua layanan dan penawaran keuangan yang mencurigakan tanpa terlebih dahulu menjalani pemeriksaan berbasis risiko.

Mewujudkan kapabilitas keuangan dengan edukasi keuangan

Kapabilitas keuangan terwujud ketika masyarakat menunjukkan sejumlah kategori perilaku di atas. Kendati demikian, pembentukan perilaku di atas perlu diawali dengan penanaman (penciptaan) pengetahuan dan keterampilan terkait keuangan. Proses penanaman (penciptaan) ini dapat dilakukan melalui edukasi keuangan (financial education).

Bahasan dalam edukasi keuangan setidaknya perlu mencakup sejumlah topik besar berikut, yaitu: (1) pengenalan situasi ekonomi dan ragam lembaga keuangan, (2) perancangan dan pengelolaan anggaran rumah tangga, (3) pengelolaan tabungan dan dana hari tua, (4) pengelolaan pinjaman, (4) pengenalan dan analisis kritis ragam layanan keuangan, serta (5) risiko-risiko dan mekanisme perlindungan transaksi keuangan.

Edukasi keuangan perlu ditanamkan sejak dini kepada masyarakat sejak usia muda oleh banyak pihak, terutama lembaga pendidikan. Kendati demikian, lembaga keuangan sebagai sektor yang bersentuhan langsung dengan keuangan dan kaya dengan pengalaman riil di dunia keuangan juga perlu menjadi pilar penggerak edukasi keuangan di tengah masyarakat.

Salah satu lembaga keuangan yang konsisten dalam melakukan edukasi keuangan adalah credit union. Melalui pendidikan (pelatihan) literasi keuangan yang terprogram, credit union mengupayakan agar masyarakat yang dilayaninya memiliki kapabilitas keuangan yang mumpuni untuk mengoptimalkan kesejahteraan finansialnya.     

Stephanus Eri Kusuma

Dosen Program Studi Ekonomi Universitas Sanata Dharma

 

 

Pos terkait