Jadikan Acara 17-an Jalan Pembangunan, Melampaui Seremonial

Momen 17 Agustus-an di Indonesia sebenarnya. (doc. ist) merupakan potret nyata modal sosial dalam masyarakat kita.

SETIAP menjelang bulan Agustus, suasana kampung dan kompleks perumahan di Indonesia berubah drastis.

Bendera Merah Putih berkibar di setiap sudut jalan, anak-anak sibuk berlatih lomba atau pawai 17an, sementara para ibu dan bapak bergotong royong menyiapkan acara dan tirakatan  yang meriah. Semangat kolektif menyala.

Bacaan Lainnya

Kemudian, setelah 17 Agustus berlalu, suasana menjadi tenang. Euforia meredup, kegiatan selesai, dan warga kembali ke rutinitas masing-masing.

Momen 17 Agustus-an di Indonesia sebenarnya merupakan potret nyata modal sosial dalam masyarakat kita.

Mengacu pada definisi Francis Fukuyama, modal sosial adalah kemampuan orang untuk bekerja sama demi tujuan bersama.

Dalam konteks 17 Agustus-an, hal itu terlihat jelas mulai dari kerja bakti membersihkan lingkungan, urun rembug mengadakan acara bersama, hingga mendayagunakan berbagai potensi untuk mendukung keberhasilan acara yang sudah digagas.

Selain modal sosial, sebenarnya ada modal ekonomi yang ikut berputar.

Seperti yang didefinisikan dalam literatur pembangunan, “economic capital includes money in all its various forms… used to purchase physical objects such as buildings, equipment, and also intangible assets like intellectual property and designs.”

Acara 17-an melibatkan pembelanjaan kolektif warga: sewa tenda, konsumsi, hadiah, bahkan pemasukan bagi pedagang lokal.

Sayangnya, semua energi itu sering kali berhenti setelah tanggal 17 Agustus. Belum banyak yang memikirkan, bagaimana menjadikan semangat itu sebagai awal dari sesuatu yang lebih berdampak.

Apakah bisa euforia tahunan ini menjadi jalan menuju kesejahteraan yang berkelanjutan?

Bayangkan jika panitia 17-an tak hanya mengatur lomba, tapi bagaimana lomba dikaitkan dengan upaya pelatihan keterampilan warga. Atau, bagaimana jika iuran warga untuk 17-an dimulai lebih awal dan dikelola sebagai dana pinjaman untuk UMKM lokal? Tirakatan malam 17-an juga bisa diisi dengan diskusi ringan tentang impian warga untuk mewujudkan impian menuju peningkatan kesejahteraan bersama.

Dalam hal ini, momen 17-an bisa lebih dari sekadar perayaan, namun menjadi tonggak untuk membangun komunitas yang aktif dan produktif.

Mengacu pada Nanetti dan Holguin, hal ini disebut sebagai koordinasi sosial yang menghasilkan barang publik untuk kesejahteraan bersama. Ketika warga mampu berkoordinasi dengan baik, mereka bisa menciptakan hal-hal nyata yang meningkatkan kualitas hidup bersama.

Revitalisasi Kelembagaan: Dari Koordinasi Acara Ke Penggerakan Komunitas

Tentu saja, kiat tersebut membutuhkan lebih dari semangat sesaat. Perlu ada kelembagaan (institusi) dan pengorganisasian warga untuk menjembatani energi kolektif ini.

Ekonom Douglas North menyebut institusi sebagai ‘aturan main’ dalam masyarakat, baik yang tertulis maupun yang telah menjadi kebiasaan. Institusi yang sehat bisa membuat warga terlibat lebih aktif, merasa memiliki, dan percaya bahwa setiap kontribusi mereka berarti.

Daron Acemoglu menambahkan bahwa institusi yang inklusif memberi ruang bagi partisipasi dan mendorong kreativitas warga. Institusi inklusif menjadi kunci utama kesejahteraan jangka panjang.

Meskipun acara seremonial tetap perlu dilakukan, sudah saatnya panitia 17-an berpikir lebih jauh terkait bagaimana caranya agar modal sosial dan modal ekonomi yang terakumulasi saat momen 17 Agustus-an agar tetap bertumbuh dalam masyarakat secara berkelanjutan (tidak berhenti saat 17-an selesai).

Berikut adalah beberapa cara yang bisa dipertimbangkan untuk mewujudkan hal tersebut.

Pertama, adaptasi lomba 17an menjadi sarana pembelajaran praktis untuk meningkatkan keterampilan warga dan bisa dimanfaatkan langsung oleh warga.

Contohnya adalah lomba memasak yang disertai pelatihan penataan menu atau usaha catering, lomba membuat dekorasi yang disertai dengan pelatihan dekorasi, lomba fotografi yang diawali dengan workshop fotografi, lomba membuat produk daur ulang yang diawali dengan pelatihan eco-print atau pembuatan kerajinan dengan bahan baku alternatif.

Kedua, ajak warga untuk memanfaatkan sebagian uang iuran 17an menjadi ‘uang tumbuh’. Langkah pertama adalah edukasi warga tentang penggunaan iuran tahunan, dimana iuran tidak harus habis untuk satu acara, namun bisa menjadi investasi sosial yang menguntungkan bagi masyarakat.

Ambil porsi kecil dari iuran tahunan (misalnya 10 sampai 20 persen) untuk disimpan sebagai modal awal usaha bersama warga. Gunakan modal awal untuk usaha mikro yang sederhana tapi berguna bagi warga, misalnya penyewaan alat lomba (kursi, bendera, sound system), warung RT (titipan produk warga).

Ketiga, menyisipkan diskusi komunitas secara ringan untuk mendengarkan gagasan pengembangan warga dan rencana pengurus rukun warga. Dalam hal ini, tirakatan bisa menjadi pemantik gagasan dan arena ‘soft-launch ide’ yang  hasilnya dibawa ke forum warga di bulan berikutnya

Menangkap Semangat, Memelihara Dampak

Kita sudah punya semangat, kepercayaan antarwarga, serta tradisi gotong royong. Yang perlu dibangun sekarang adalah keberlanjutan dan arah. Jangan biarkan semangat kolektif warga yang begitu besar hanya lewat begitu saja setiap tahun.

Mari ubah 17 Agustus dari sekadar selebrasi, menjadi fondasi untuk kemajuan sosial dan ekonomi warga. Hal ini karena sejatinya merdeka bukan hanya soal bebas dari penjajahan, namun juga bebas untuk menentukan arah masa depan bersama—dari warga, oleh warga, untuk warga.

(Stephanus Eri Kusuma, Dosen Program Studi Ekonomi Universitas Sanata Dharma)

Pos terkait