Dinilai Ekonomis, Warga Manggung Dan KKN UP45 Yogyakarta Kembangkan Apotek Hidup Melalui Kampung Gotong Royong

Mahasiswa KKN UP45 Yogyakarta bersama warga Padukuhan Manggung sedang melakukan kegiatan berkebun apotek hidup.

WartaKita.org – Warga Padukuhan Manggung, Kalurahan Ngalang, Kapanewon Gedangsari, Kabupaten Gunungkidul bersama mahasiswa Kelompok 1 Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Proklamasi 45 (UP45) Yogyakarta mengembangkan apotek hidup.

Mereka mengembangkan budidaya sejumlah tanaman jenis herbal diantaranya jahe emprit, kencur, lengkuas, serai jahe merah, kunyit, temu lawak, dan lainnya.

Bacaan Lainnya

Warga RT 1 Padukuhan Manggung, Tukiran (60) saat melakukan pemetaan kebun apotek hidup bersama Kelompok KKN UP45 menyampaikan, budidaya tanaman apotek hidup ini untuk memanfaatkan lahan yang kosong di sana.

“Budidaya ini masih sebatas coba-coba dengan menanam berbagai jenis tanaman rempah-rempah yang ada, “ katanya.

Tukiran menyatakan, hasil budidaya tanaman tersebut akan dimanfaatkan sendiri oleh anggota keluarga karena hasilnya juga masih terbatas.

“Saat pandemi Covid-19 seperti ini, warga membutuhkan minuman rempah-rempah untuk menjaga kesehatannya,” ujarnya.

Sedang Umi Erawati (45), warga RT 4 Padukuhan Manggung mengatakan, jika hasil panen budidaya apotek hidup ini berlebih, maka ada warga yang akan menjualnya ke pasar. Jadi, bisa untuk tambahan penghasilan keluarga. Selain untuk dijual ke pasar, warga juga akan memanfaatkannya untuk tanaman obat.

“Namun kendala yang kami hadapi, selain tata cara budidaya tanaman dan pengolahan hasil panen, kami juga belum paham tata cara budidaya rempah yang baik sehingga hasilnya juga belum maksimal,” ungkapnya.

Umi Erawati berharap, warga dapat mengolah hasil pasca panen budidaya apotik hidup ini menjadi jenis olahan pangan yang dapat meningkatkan nilai tambah hasil panen. Misalnya menjadi minuman herbal atau lainnya.

“Saat pandemi Covid-19 seperti ini, kayaknya banyak yang membutuhkan. Minuman herbal tersebut mungkin juga dapat menjadi alternatif sajian kuliner di kawasan wisata Padukuhan Manggung ini. Kami berharap, bersama mahasiswa KKN UP45 dapat mengembangkan tanaman apotek hidup ini agar lebih optimal,” harapnya.

Kegiatan berkebun apotek hidup bisa bernilai ekonomis bila dikelola dengan baik.

Sementara itu Ketua Kelompok 1 KKN UP45 Yogyakarta, Adzi Yusuf (20) menjelaskan, sasaran program KKN UP45 tahun ini salah satunya terkait dengan tanggap pandemi Covid-19. Apotik hidup ini dipilih untuk dikembangkan bersama warga karena sangat strategis.

“Tanaman rempah-rempah ini sangat dibutuhkan setiap orang untuk menjaga kondisi kesehatan. Untuk itu, selain dapat dikonsumsi sendiri untuk warga, juga dapat dapat dijual ke pasar yang saat ini banyak yang membutuhkan. Jadi bernilai ekonomis juga,” tandasnya.

Lebih lanjut Yusuf mengemukakan, sebenarnya, daerah ini kaya potensi akan tanaman rempah-rempah. Warga juga memiliki lahan yang memadai dengan kondisi cuaca yang mendukung. Buktinya, warga telah membudidayakan tanaman apotek hidup.

“Untuk itu, apresiasi yang setinggi-tingginya bagi warga Manggung yang telah giat membudidayakan tanaman apotek hidup ini. Kedepan, budidaya ini dapat dikembangkan secara bersama atau gotong royong. Jadi warga yang sudah berhasil dan sukses membudidayakan apotik hidup untuk berkenan menjadi mitra warga lainnya,” pintanya.

Yusuf menambahkan, jika wilayah dalam salah satu RT atau RW atau Kampung itu sudah berhasil dan sukses dalam budidaya, diharapkan dapat menjadi mitra pembelajar dan mendampingi wilayah lainnya untuk membudidayakan tanaman apotik hidup tersebut.

“Pendekatan melalui “Kampung Gotong Royong” itu harapannya dapat semakin mengembangkan kapasitas usaha budidaya kebun apotik hidup kedepannya,” ucapnya.

 

Pos terkait

1 Komentar

  1. Bpk sbg Ketua LPPM yg baru sampaikan… sukses selalu dalam memberdayakan Masyarakat utk memanfaatkan sumberdaya yg ada.. semoga Allah SWT.. Tuhan’ YME senantiasa memberkati setiap aktivitasnya.. amiin

Komentar ditutup.