WartaKita.org – Gelaran Pemilihan Kepala Desa (Pilkdes) di Kabupaten Klaten akan diadakan pada pertengahan Maret 2019 mendatang. Kini, sejumlah warga yang berniat untuk mencalonkan diri sebagai bakal calon kepala desa sudah bermunculan. Mereka mulai bersosialisasi dan memperkenalkan diri kepada masyarakat.
Salah satu diantaranya adalah Suyadi, warga Dukuh Sendangharjo RT 01/RW 06, Desa Balak, Kecamatan Cawas, Kabupaten Klaten. Lalu, seperti apa sosok Suyadi ini?
Bapak kelahiran Klaten, 20 Juni 1972 ini adalah contoh dari seorang laki-laki pekerja keras dan pejuang tangguh. Dilahirkan dari sebuah keluarga sederhana, Suyadi kecil adalah anak sulung dari 6 bersaudara. Melihat kondisi ekonomi yang serba pas-pasan kala itu, dia pun berniat pergi merantau untuk bekerja ke Sulawesi.
“Saat itu, saya cuma Lulusan SMP. Keadaan orangtua waktu itu, ya kekurangan. Saya melihat ke bawah, saya ini anak sulung (mbarep) dan mempunya 6 adik. Saya tahu, adik-adik saya itu juga pengin sekolah. Melihat keadaan keluarga saya seperti itu, saya lalu berniat merantau ke Sulawesi. Tujuannya untuk membantu meringankan beban orangtua. Meskipun sebenarnya orangtua tidak memperbolehkan saya,” ungkapnya.
Karena tekadnya sudah kuat, maka Suyadi pun berangkat ke Sulawesi bersama temannya. Dia pergi berdua, dan hanya membawa “bekal” alamat. Sampai di Sulawesi, dia dan temannya itu malah “dimarahi” oleh orang yang dituju itu.
“Mengapa kamu kok nggak sekolah? Lha kamu ke sini mau apa? Kerja di sini itu juga rekasa lho. Nggak seperti yang dibayangkan,” kata orang itu.
Lalu, Suyadi menceritakan semuanya. Dan akhirnya, orang itu jadi mengerti keadaan keluarganya. Karenanya, Suyadi berjanji siap bekerja, apapun pekerjaannya.
Awalnya, Suyadi berjualan es potong keliling. Selang beberapa waktu kemudian, dia berkenalan dengan orang Cawas. Maka, dia lalu pindah atau berganti pekerjaan. Dia berkeliling menjual sepatu, perak bakar, kuningan, dompet, jamu, dan sebagainya. Dia keliling dari rumah ke rumah, door to dor, dan dari kantor ke kantor.
Setalah dua tahun merantau di Sulawesi, dia lalu pulang saat adiknya menikah. Suyadi tak ingin baik ke Sulawesi. Dia ingin merantau ke Jakarta. Akhirnya, dia bekerja di pabrik garmen dan pernah bekerja di pabrik keramik milik orang Korea.
“Setelah lima tahun bekerja di Jakarta, saya lalu menikah. Saya nggak pengin ke Jakarta lagi. Saya putuskan untuk ikut orang tua membuka usaha jualan nasi ayam di Jalan Menteri Supeno Semarang,” ujarnya.
Alhamdulilah, usaha jualan nasi ayamnya terus berkembang. Suyadi bisa menyekolahkan anak-anaknya sampai sarjana. “Ini suatu kebanggaan bagi keluarga saya. Dan inilah yang saya syukuri,” ucapnya.
Dan sebagai ungkapan syukur itu, Suyadi ingin membaktikan hidupnya untuk mengabdi dan melayani masyarakat Desa Balak. Dia berniat untuk mencalonkan diri pada Pilkades Balak pada Maret mendatang.









