WartaKita.org – Iklim menjelang Pileg dan Pilpres yang semakin memanas dirasakan oleh sebagian besar komunitas perempuan cinta damai di Desa Ngglinggi, Kecamatan Klaten Selatan dan Desa Gemblegan, Kecamatan Kalikotes, Kabupaten Klaten.
Karenanya, Wahid Foundation saat ini aktif memberikan pemberdayaan kepada perempuan desa melalui program Desa Damai dengan mengambil momentum menjelang pemilihan umum ini. Tujuannya untuk saling mengingatkan dan mencegah terjadinya politik elektoral yang memang rentan terhadap isu-isu negatif tentang suku, agama, ras dan antar golongan (SARA).
Hal ini disampaikan Koordinator wilayah program Wahid Foundation di Jawa Tengah, Nurul.
“Kami menyadari bahwa masyarakat masih minim pengetahuan tentang politik. Itulah sebabnya Desa Nglinggi dan Desa Gemblegan bekerjasama dengan Wahid Foundation menggelar acara dengan tema “Nonton dan Sinau Bareng: Menjaga Keberagaman, Guyub Rukun, dan Adem Ayem ing Atine Menjelang Pemilu 2019.” Acara ini diadakan pada hari Senin dan Selasa (17 dan 18/12/2018) di Balai Desa setempat,” katanya.
Nurul menuturkan, selain ajang belajar bersama tentang politik, acara ini juga sebagai serangkaian memeringati haul ke 9 Almarhum KH Abdurahman Wahid atau Gus Dur.
“Acara diawali dengan doa lintas iman yang diwakili oleh pemuka agama-agama yang ada di Desa Nglinggi, dilanjutkan dengan pemutaran film “Nyalon” yang diproduseri oleh Nia Dinata, dan diskusi tentang peran perempuan, edukasi politik, dan juga penerapan nilai-nilai pluralisme yang diwariskan oleh Gus Dur,” ujarnya.
Nurul mengatakan, peserta nonton bareng ini memang terbuka untuk masyarakat Desa Nglinggi dan Gemblegan, terutama kaum perempuan yang rentan menjadi korban money politik. Selain perempuan, acara ini juga menyasar ke kaum muda agar lebih mengerti bahwa perdamaian dan persatuan bangsa berada di atas kepentingan politik elektoral.
“Kaum muda diharapkan mampu menjadi agen perubahan dalam cara-cara berpolitik, agar gesekan yang rentan menghasilkan konflik di masyarakat dapat diolah dengan baik,” ucapnya.
Nurul menambahkan, selain edukasi politik bagi masyarakat, acara yang mempromosikan 9 Nilai Gus Dur ini diharapkan bisa mengedukasi warga, bakal calon kades, caleg, dan juga tim sukses, agar benar-benar memahami arti politik dan tujuan berdemokrasi di Indonesia.
“Pesta demokrasi bukanlah sebuah acara yang mana ketika berjoget, saling menyenggol lalu tawuran dan akhirnya kehilangan sebuah arti kata pesta, yang seharusnya menjadi kegembiraan bersama. Dalam menghadapi Pilkades maupun Pemilu, kita harus tetap menjaga keragaman dan kerukunan,” terangnya.









