Monday, 23 Nov 2020


Wujud Rasa Syukur, Warga Adakan Ritual Sedekah Laut Di Pantai Kukup Gunungkidul

Ritual Sedekah Laut di Pantai Kukup, Rabu (16/9/2020).

WartaKita.org – Puluhan warga Kabupaten Gunungkidul dan dari daerah lain berkumpul di Pantai Kukup, Gunungkidul pada Rabu (16/9/2020) sekira pukul 13.30 WIB.

Mereka datang untuk menyaksikan dan mengikuti kesakralan upacara ritual Sedekah Laut atau Labuhan dalam rangka menyambut Tahun Baru Jawa.

Sejumlah sesaji disiapkan untuk ritual ini. Seperti dua gunungan yang berisikan hasil bumi dan kepala kambing.

Sesaji itu nantinya akan dilarung ke tengah laut. Namun sebelumnya, terlebih dulu didoakan melalui kenduri di tepi Pantai Kukup.

Sekitar 15 orang dari Keraton Surakarta dan warga sekitar, khususnya yang mengais rezeki di sekitar Pantai Kukup mengikuti kenduri tersebut.

Para warga yang mengenakan pakaian tradisional Jawa ini terlihat  bersungguh-sungguh merapalkan doa.

Beberapa menit kemudian, acara kenduri pun selesai. Sesaji itu lantas dibawa ke tepi pantai untuk kembali didoakan agar mereka mendapatkan keselamatan dan keberkahan.

“Sedekah laut ini dilakukan setiap tahun sekali. Tepatnya pada bulan Suro (bulan pertama pada Tahun Jawa). Hanya saja tahun ini agak sedikit telat waktu larungannya. Ritual ini adalah wujud rasa syukur karena berkat yang kita terima,” kata Dwijoyo, salah satu warga yang mengikuti ritual

Dwijoyo menjelaskan, sesaji berupa kepala kambing memiliki makna sebagai sarana tolak bala. Hal tersebut juga merupakan simbol dari sifat buruk manusia yang harus dibuang jauh-jauh.

“Selain itu, kepala kambing merupakan simbol dari pikiran manusia yang penuh kebodohan, kelicikan, dan kemalasan. Sehingga harus turut dibuang, agar manusia dalam berfikir bisa lebih positif, jernih, dan terhindar dari hal-hal kotor,” terangnya.

Ritual Sedekah Laut memang sudah menjadi tradisi turun-temurun sejak jaman dahulu. Karena hal tersebut dipercayai dapat mendatangkan rezeki dan keselamatan.

Sebagai masyarakat Jawa yang masih kuat dengan adat istiadat, mereka masih melakukan tradisi tersebut agar adat kebudayaan Jawa tidak luntur begitu saja. (Hana Theresia Dameni, mahasiswa ASMI Santa Maria Yogyakarta Program Studi Public Relations/ls)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *