Warga Disabilitas Dan ODGJ Di Prambanan Hasilkan Batik Ciprat, Diminati Konsumen Dari Berbagai Daerah

Camat Prambanan Puspo Enggar Hastuti bersama Ketua TP PKK Desa Kemudo Reni Susanti saat mendampingi para ODGJ dan penyandang disabilitas yang sedang membuat batik ciprat di Kantor Desa Kemudo, Kamis (4/11/2021).

WartaKita.org – Jangan pernah menyepelekan siapapun. Termasuk kepada warga penyandang disabilitas fisik dan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ).

Buktinya, dengan pelatihan dan pendampingan yang serius, sejumlah penyandang disabilitas dan ODGJ di Desa Kemudo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten mampu menghasilkan karya batik ciprat yang diminati para konsumen dari berbagai daerah.

Bacaan Lainnya

Ketua Tim Penggerak (TP) Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Desa Kemudo Reni Susanti Hermawan saat ditemui di kompleks kantor desa setempat, Kamis (4/11/2021), menyampaikan, kegiatan pelatihan membuat batik ciprat ini merupakan bagian dari kegiatan Shelter Workshop Peduli (SWP) Tombo Ati. Di dalamnya ada kegiatan membatik ciprat ini.

“Total ada 25 orang dari ODGJ dan penyandang disabilitas di Desa Kemudo dan lima orang dari Desa Brajan (Kecamatan Prambanan). Meski ada ODGJ dan penyandang disabilitas, tetapi hasil karya mereka (batik ciprat) sangat bagus,” katanya.

Reni Susanti menjelaskan, kreativitas para ODGJ dan penyandang disabilitas di Desa Kemudo ini bermula setelah mengikuti pelatihan membuat batik ciprat yang difasilitasi Balai Kartini Temanggung, Jawa Tengah pada pertengahan September 2021 lalu.

“Pembuatan batik ciprat ini sangat sederhana. Dimulai dengan menyiapkan kain polos berwarna putih. Selanjutnya, batik itu diciprati dengan malam. Cipratan malam disesuaikan dengan kebutuhan. Terkadang dengan teknik vertikal, horizontal, atau pun secara asal atau sembarangan. Begitu sudah diwarnai, kain batik ciprat dikeringkan,” ujarnya.

Para ODGJ dan penyandang disabilitas sedang membuat batik ciprat di Kantor Desa Kemudo, Kamis (4/11/2021).

Istri Kepala Desa Kemudo ini menyatakan, satu potong batik ciprat berukuran 210 cm X 115 cm dengan motif satu warna dijual dengan harga Rp120 ribu. Sedangkan motif ciprat dengan dua warna atau lebih biasanya dijual Rp175 ribu. Hingga sekarang, mereka sudah membuat sekitar 100 potong.

“Dalam batik ciprat ini tidak ada motif khusus. Pemasaran batik ciprat masih sebatas dilakukan di kawasan Kemudo dan sekitarnya. Pemasaran menyasar ke sejumlah pengunjung yang kebetulan studi banding atau pun kunjungan kerja (kunker) ke Pemerintah Desa (Pemdes) Kemudo,” terangnya.

Reni menambahkan, pelatihan membuat batik ciprat ini menjadi aktivitas positif bagi ODGJ dan penyandang disabilitas di Kemudo. Karena mereka yang tadinya hanya di rumah, saat ini bisa bersosialisasi dan membuat batik di sini.

“Aktivitas membuat batik ciprat ini dilakukan pada hari Selasa dan Kamis. Biasanya dimulai pukul 08.00 WIB sampai 12.00 WIB. Dari hasil dari kegiatan ini, para ODGJ dan penyandang disabilitas memiliki pemasukan. Rencananya akan diambil Desember mendatang,” paparnya.

Sedang Kepala Desa (Kades) Kemudo Hermawan Kristanto mengatakan, Pemdes Kemudo melakukan berbagai pendekatan ke anggota keluarga ODGJ dan penyandang disabilitas agar warga berkebutuhan khusus itu dapat berkreasi bersama.

“Dengan kegiatan ini, para ODGJ dan penyandang disabilitas yang selama ini hanya di rumah, sekarang bisa berkarya di sini. Dan selama mengikuti pelatihan membuat batik ciprat berjalan lancar. Tidak ada ODGJ yang mengamuk,” tandasnya.

Sejumlah pola batik ciprat yang sudah dihasilkan para ODGJ dan penyandang disabilitas di Kantor Desa Kemudo, Kamis (4/11/2021).

Sementara itu Camat Prambanan Puspo Enggar Hastuti mengapresiasi kegiatan positif para ODGJ dan penyandang disabilitas di Kemudo ini. Dia berharap, kegiatan tersebut dapat menginspirasi desa lainnya di Kecamatan Prambanan.

“Saya mengapresiasi dan menyambut baik kegiatan ini. Saya sendiri sudah memesan batik ciprat di sini untuk membantu promosi,” tegasnya.

Terkait, salah seorang penyandang disabilitas di Desa Kemudo, Novi Daniar (33) mengaku senang bisa mengikuti kegiatan membuat batik ciprat ini.

“Dulu, saya menjahit. Begitu punya anak, saya berhenti. Ternyata, di sini ada kegiatan membuat batik ciprat. Saya lalu ikut. Membuat batik ciprat itu menyenangkan. Karena motif batik ciprat ini tidak ada yang salah. Dan cara membuatnya juga gampang,” ucapnya.

Pos terkait