Warta Kita.org – Berangkat dari persoalan kekeringan hingga pemanfaatan limbah sekam padi, penelitian Dwi Suci Lestariana, S.P., M.P. mengantarkannya menyelesaikan Program Doktor Ilmu Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) sempurna 4,00.
Dosen Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Boyolali (UBY) yang mendapat amanah sebagai Wakil Rektor Bidang Akademik tersebut berhasil menyelesaikan Ujian Tertutup, Rabu (12/8/2026).
Kelulusan itu sekaligus menempatkan Dwi sebagai doktor ke-102 yang diluluskan Fakultas Pertanian UNS.
Ujian dilaksanakan mulai pukul 09.00 WIB di Ruang Sidang 2, Gedung B Lantai 2 Fakultas Pertanian UNS.
Dalam forum akademik tersebut, Dwi mempertahankan disertasi berjudul “Mitigasi Stres Kekeringan Kedelai Hitam (Glycine max (L.) Merril) dengan Aplikasi Varietas Toleran, Bionanosilika, dan Mikoriza”.
Dwi mengaku bersyukur dapat menyelesaikan salah satu tahapan penting dalam perjalanan akademiknya.
Menurutnya, keberhasilan tersebut merupakan hasil dari proses panjang yang melibatkan dukungan banyak pihak.
“Alhamdulillah, saya sangat bersyukur dapat menyelesaikan ujian tertutup dengan baik dan memperoleh IPK 4,00. Capaian ini bukan semata-mata keberhasilan pribadi, tetapi hasil dari doa, bimbingan tim promotor, dukungan keluarga, kolega, Universitas Boyolali, dan banyak pihak yang membersamai perjalanan pendidikan saya,” ujar Dwi.
Menurutnya, gelar doktor bukan garis akhir perjalanan akademik.
Capaian tersebut justru membawa tanggung jawab lebih besar untuk menghasilkan penelitian dan inovasi yang memberikan manfaat nyata.
“Setelah ini tantangannya adalah bagaimana ilmu dan hasil penelitian dapat diterapkan. Saya berharap penelitian ini tidak berhenti sebagai dokumen akademik, tetapi dapat terus dikembangkan menjadi teknologi yang efektif, mudah diterapkan, dan terjangkau bagi petani,” katanya.
Disertasi Dwi berangkat dari persoalan meningkatnya risiko kekeringan yang menjadi salah satu tantangan sektor pertanian.
Keterbatasan air dapat mengganggu pertumbuhan, fotosintesis, penyerapan unsur hara hingga pembentukan dan pengisian biji kedelai hitam.
Melalui penelitiannya, Dwi mengintegrasikan penggunaan varietas toleran, bionanosilika berbahan baku abu sekam padi, dan fungi mikoriza arbuskula sebagai pendekatan untuk meningkatkan kemampuan tanaman menghadapi keterbatasan air.
“Penelitian ini terdiri atas tiga kajian yang saling berkesinambungan, mulai dari seleksi genotipe, pengungkapan mekanisme adaptasi tanaman terhadap kekeringan, hingga validasi teknologi di lapangan,” jelasnya.
Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan kemampuan adaptasi antarkultivar.
Malika menunjukkan tingkat toleransi lebih baik terhadap kekeringan.
Sedangkan Detam 2 memiliki tingkat kepekaan lebih tinggi terhadap keterbatasan air.
Malika mampu mempertahankan fungsi fisiologis tanaman saat menghadapi cekaman.
Sementara Detam 2 menunjukkan respons adaptif melalui penguatan sistem perakaran, kolonisasi mikoriza, serta akumulasi silika.
Aplikasi bionanosilika dan mikoriza membantu memperbaiki status air tanaman, mendukung fotosintesis dan efisiensi penggunaan air, memperkuat sistem perakaran, sekaligus menekan akumulasi hidrogen peroksida sebagai salah satu indikator stres oksidatif.
“Bionanosilika dan mikoriza bekerja melalui mekanisme berbeda tetapi saling melengkapi. Bionanosilika membantu memperkuat jaringan dan ketahanan fisiologis tanaman. Sedangkan mikoriza membantu akar memperoleh air serta unsur hara secara lebih efektif,” ungkap Dwi.
Dalam validasi lapangan, bionanosilika dosis 200 ppm memberikan respons terbaik terhadap pertumbuhan dan komponen hasil.
Perlakuan tersebut meningkatkan jumlah polong isi sebesar 14,8 persen sekaligus menurunkan jumlah polong hampa hingga 53,5 persen.
Pemanfaatan abu sekam padi sebagai bahan baku bionanosilika menjadi nilai penting penelitian tersebut.
Limbah pertanian yang mudah ditemukan di sentra produksi padi berpeluang dikembangkan menjadi bahan bernilai tambah untuk mendukung budidaya pertanian yang lebih berkelanjutan.
Teknologi Harus Membumi
Keberhasilan Dwi mendapat apresiasi dari berbagai kalangan.
Guru Besar Universitas Darul Ulum Islamic Centre Sudirman GUPPI (Undaris), Prof. Dr. Dra. Edy Dwi Kurniati, S.E., M.M., menilai capaian IPK 4,00 menunjukkan ketekunan, disiplin, dan konsistensi dalam menjalani pendidikan doktoral.
“Saya mengucapkan selamat dan sukses kepada Dwi Suci Lestariana atas keberhasilannya menjadi doktor ke-102 Fakultas Pertanian UNS dengan IPK 4,00. Ini merupakan capaian akademik yang membanggakan,” ujar Prof Edy.
Menurutnya, penelitian mengenai mitigasi kekeringan memiliki nilai strategis karena berkaitan dengan produktivitas pertanian, ketahanan pangan, serta kesejahteraan petani.
Apresiasi juga disampaikan tokoh wanita tani sekaligus tokoh Aisyiyah Klaten, Nyai Munarsih.
Ia berharap inovasi yang dihasilkan dapat diterjemahkan menjadi teknologi yang sederhana dan mudah diterapkan masyarakat.
“Petani membutuhkan teknologi yang membumi, tidak rumit dan biayanya terjangkau. Jika hasil penelitian ini dapat diterapkan dengan cara sederhana, tentu akan sangat membantu kelompok tani,” katanya.
Munarsih juga mengapresiasi pemanfaatan abu sekam padi.
Menurutnya, bahan tersebut banyak tersedia di perdesaan dan selama ini belum seluruhnya dimanfaatkan secara produktif
Direktur Rumah Monograf Indonesia, Ratno, M.M., turut memberikan apresiasi.
Menurutnya, tantangan seorang doktor tidak berhenti ketika dinyatakan lulus, tetapi berlanjut pada produktivitas penelitian, publikasi, inovasi dan pengabdian kepada masyarakat.
Ratno mendorong hasil disertasi Dwi dikembangkan menjadi buku monograf maupun buku referensi agar pengetahuan yang dihasilkan dapat menjangkau mahasiswa, dosen, peneliti dan praktisi pertanian.
“Penelitian disertasi jangan berhenti tersimpan di perpustakaan. Hasilnya perlu dikembangkan menjadi artikel ilmiah, buku monograf, buku referensi, bahkan bahan populer agar dapat dipahami masyarakat yang lebih luas,” tegas Ratno.
Apresiasi juga datang dari lingkungan masyarakat.
Ketua RT 05 Griya Bumi Boyolali, Mojosongo, Kusmantoro, mengatakan keberhasilan Dwi menjadi kebanggaan masyarakat tempat tinggalnya.
“Kalau ada warga yang berprestasi di bidang pendidikan, kami tentu ikut bangga. Mudah-mudahan keberhasilan Bu Dwi memberikan semangat kepada anak-anak dan generasi muda untuk sekolah setinggi mungkin,” katanya.
Menurut Kusmantoro, masyarakat berharap capaian akademik tersebut semakin memperkuat kontribusi Dwi bagi Universitas Boyolali dan masyarakat.
“Masyarakat tidak hanya membutuhkan akademisi dengan gelar tinggi, tetapi akademisi yang ilmunya dapat dirasakan. Kami berharap Bu Dwi terus berkarya dan semakin banyak memberikan manfaat,” ujarnya.
Ujian tertutup Dwi dipimpin Prof. Dr. Ir. Samanhudi, S.P., M.Si., IPU., ASEAN Eng., APEC Eng. sebagai ketua, didampingi Prof. Ir. Danar Praseptiangga, S.T.P., M.Sc., Ph.D. sebagai sekretaris.
Tim penguji terdiri atas Prof. Dr. Ir. Edi Purwanto, M.Sc., Dr. Ir. Muji Rahayu, S.P., M.P., Prof. Dr. Ir. Supriyono, M.S., Dr. Ir. Parjanto, M.P., dan Dr. Ummi Sholikhah, S.P., M.P.
Capaian IPK 4,00 dan status sebagai doktor ke-102 Fakultas Pertanian UNS menjadi babak baru perjalanan akademik Dwi Suci Lestariana.
Tantangan berikutnya adalah membawa hasil penelitian keluar dari ruang akademik menjadi inovasi yang dapat memperkuat pendidikan tinggi, mendukung pertanian berkelanjutan, dan memberikan manfaat nyata bagi petani serta masyarakat.









