WartaKita.org – Sejumlah nama bakal calon bupati (Bacabup) mulai bermunculan menjelang Pilkada Klaten 2024.
Salah satu nama yang belakangan viral di media sosial yaitu Wijanarko, S.Sos, MM (53) atau yang akrab disapa Mas Eko.
Pria kelahiran Desa Wanglu, Kecamatan Trucuk, 24 Desember 1973 ini mengaku siap mencalonkan diri menjadi Bupati Klaten periode 2024 – 2029.
Saat ditemui Wartakita.org di Waroeng Penyet Banyuwangi miliknya, di Jalan Kopral Sayom Nomor 38 Kampung Jetak Kidul, Desa Karanganom, Kecamatan Klaten Utara pada Senin (29/4/2024), Wijanarko mengatakan, keinginan dirinya untuk maju sebagai Calon Bupati Klaten itu karena melihat perkembangan Kabupaten Klaten yang selama ini masih stagnan.
“Saya kan lama meninggalkan Klaten itu ya sekitar 18 tahun. Karena saya berkarier di BRI selama 27 tahun. Berawal dari bekerja di Balikpapan (Kalimantan Timur), Banjarmasin (Kalimantan Selatan), Kalimantan Tengah, Klaten, Solo, Jogja, dan Sleman. Nah, pada tahun 2005, saat saya dari Kalimantan pindah ke Klaten, saya melihat Klaten ini masih diperlukan kondisi yang lebih baik. Karena perkembangan kotanya dari dulu ya sama. Itu yang menggugah saya. Paling tidak, Klaten itu ya seperti Jogja dan Solo. Mudahnya seperti itu,” katanya.
Mas Eko berkeinginan, Klaten bisa sejajar dengan Kota Solo atau Jogja.
“Saya ingin, universitas yang terkenal ada (di Klaten), ekonominya juga berimbang dengan Solo dan Jogja. Sehingga orang tidak mengatakan, kalau nginep itu di Jogja atau Solo. Tetapi nginepnya di Klaten. Maka di Klaten diperlukan adanya hotel-hotel yang berbintang dan pusat perbelanjaan yang besar dan lengkap,” ujarnya.
Hal lain yang mendasari warga yang tinggal di Jalan Kopral Sayom Gang Mijil Nomor 4 RT 2 RW 9 Desa Karanganom, Kecamatan Klaten Utara itu untuk mencalonkan diri menjadi Calon Bupati Klaten adalah karena potensi Klaten yang luar biasa.
“Potensi Klaten itu sangat banyak sekali. Dan potensi ini masih banyak yang harus ditumbuhkembangkan. Sehingga sebenarnya diperlukan Pilkada yang bersih, jujur, tanpa uang. Sebab dengan Pilkada yang tanpa uang, maka anggaran (dari APBD atau APBN) itu bisa pure (murni), 100 persen untuk masyarakat. Kan itu logikanya,” ungkapnya.
Untuk mewujudkan keinginannya itu, maka Owner Waroeng Penyet Banyuwangi Group Klaten ini pun sudah melakukan silaturahmi atau lawatan ke sejumlah pengurus partai politik (parpol) yang ada di Klaten.
“Saya sudah melakuan lawatan ke ketua-ketua partai politik di Klaten. Dan mereka membuka pintu. Saya juga sudah lakukan penjajagan ke para pengurus partai politik yang ada di Klaten. Mereka bilang, silahkan untuk berkompetisi, karena itu hak warga negara. Teman-teman semua partai itu ya kayaknya “welcome”. Tetapi terkait mereka punya visi, misi sendiri, ya kita tidak tahu. Nah, sekarang ini tinggal menunggu kabegjan. Kalau wahyu dan kabegjan itu ada di saya. Ya semua pasti akan terjadi,” paparnya.
Direktur Utama PT Jaya Bersama MyGas ini menjelaskan, ia telah menyiapkan sejumlah program unggulan pada visi dan misinya sebagai Calon Bupati Klaten.
“Yang jelas, saya ingin meningkatkan ekonomi dan SDM (sumber daya manusia) masyarakat Klaten. Itu yang paling utama. Kita ingin cetak SDM yang pinter-pinter. Itu akan jadi prioritas. Anak warga yang miskin tapi pinter, akan kita sekolahkan sampai S3,” tandasnya.
Sedang di sisi ekonomi, lulusan terbaik S2 Magister Management Jurusan Manajemen Pemasaran di STIE Surakarta ini berkeinginan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat.
“Semua masyarakat minimal harus punya pendapatan dua sampai tiga kali UMR (upah minimal regional). Sehingga kita itu sejahteranya di level menengah ke atas. Dan itu sangat bisa menurut saya. Karena potensi kita itu di (Pulau) Jawa ini transportasinya gampang, produknya banyak. Tinggal kreatifitas kita,” terangnya.

Pendiri Yayasan Sosial dan Keagamaan Cipta Indonesia Karya Mukti (Cikati) ini mengemukakan, karena ia ahli di bidang kuliner, maka dirinya akan membuat program kuliner sampai tingkat desa dan jualan sembako murah.
“Di situ akan kita buat konsep sambil jual sembako murah. Sistemnya kita ambil barang dari pabrik, lalu kita jual di Klaten. Lalu dikasihkan ke orang-orang di desa itu untuk jualan kuliner pakai sepeda listrik atau gerobak, sambil membawa beras, minyak, sama gula,” jelasnya.
Sedang program yang kedua, imbuh mantan Ketua Umum Serikat Pekerja BRI tingkat Provinsi DIY, adalah memasarkan potensi produk Klaten sampai ke luar negeri.
“Potensi produk Klaten itu luar biasa. Ceker ayam misalnya. Itu digemari orang Cina dan Hongkong. Dan sampai hari ini, Klaten tidak ada yang ekspor ke sana. Kalau Klaten bisa ekspor ceker ayam, nanti bahan bakunya bisa kurang,” urainya
Menurutnya, dua skema itu diyakini bisa membuat masyarakat berdaya.
“Agar orang bisa berdaya, maka kita berikan (program) kuliner dan jualan sembako. Itu orang pasti butuh. Ini tentu saja di luar program-program pemerintah yang sudah berjalan itu untuk terus dikembangkan,” tegasnya.
Tak hanya itu, pemilik 10 Waroeng Penyet Banyuwangi ini juga memprogramkan penggalakan dan pemanfaatan CSR (corporate social responsibility) dari perusahaan yang ada.
“CSR dari perusahaan-perusahaan akan digalakkan dan dimanfatkan secara optimal. Termasuk penyerapan CSR dari perusahaan nasional. Karena CSR ini untuk kemaslahatan masyarakat. Bisa dipakai untuk pengadaan air bersih, pembangunan sekolah, dan sebagainya,” katanya.
Mas Eko menambahkan, untuk meningkatkan lapangan kerja, maka ia memprogramkan pro investasi.
“Pabrik kita mudahkan ke sini. Tapi diwajibkan untuk menerima karyawan dari warga Klaten dulu. Setelah karyawan cukup, baru menerima karyawan dari daerah lain,” ucapnya.









