WartaKita.org – Proyek Low Carbon Rice menggelar panen padi petani mitra di Desa Klumutan, Kecamatan Saradan, Kabupaten Madiun pada Selasa (20/8/2024).
Ini sebagai bagian dari proses sinergi menghadirkan beras sehat rendah karbon.
Panen padi ini dilaksanakan di sekitar lahan sawah kelompok tani (poktan) Tani Rejo, yang bermitra dengan penggilingan padi kecil dampingan Proyek Low Carbon Rice PPK UD Sri Langgeng dengan total luasan seluas 54 Ha dan potensi produksi mencapai 378 ton gabah.
PJ Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Madiun, Sodik Hery Purnomo menyambut baik panen padi mitra Proyek Low Carbon Rice ini.
“Saya melihat kemitraan ini langkah yang tepat untuk menjaga lingkungan kita. Dengan bersinergi, kita dapat menghadirkan beras yang sehat dan rendah karbon,” kata Hery Purnomo saat membuka acara.
Sedang Manajer Program Delegasi Uni Eropa untuk Indonesia dan Brunei Darussalam, Novita Sari menyampaikan, Uni Eropa sebagai donor dari Proyek Low Carbon Rice turut menyambut baik kegiatan panen padi petani mitra di Madiun ini.
“Kami melihat kemitraan ini strategis dan menjadi sinyal positif yang komplementer terhadap berbagai capaian proyek di wilayah Kabupaten Madiun. Kami mengapresiasi dukungan Pemerintah Daerah dan pemangku kepentingan di Madiun, sehingga proyek ini berjalan lancar dan dapat memberikan manfaat bagi petani dan penggiling padi di Madiun,” tutur Novita Sari.

Sebagai bentuk rasa syukur atas hasil panen padi yang telah didapat, maka kegiatan dibuka dengan tradisi wiwitan.
Kemudian, kegiatan berlanjut ke sesi diskusi bersama untuk membahas pengembangan model kemitraan dan kebijakan yang tepat untuk membangun rantai nilai beras berkelanjutan.
Sementara itu Lead Project Manager Proyek Low Carbon Rice, Angga Maulana menyatakan, panen ini menjadi langkah konkret proyek dalam memperkuat sektor perberasan yang ada di Indonesia.
“Di dalam model kemitraan ini turut ditekankan pentingnya penerapan praktik-praktik produksi beras yang ramah iklim dan bertanggung jawab sosial. Seperti beralihnya penggilingan padi kecil dari mesin diesel ke listrik, dan efisiensi rantai pasok yang berpotensi meningkatkan pendapatan bagi petani dan penggiling padi kecil,” ungkapnya.
Angga Maulana menambahkan, di tingkat pascapanen, Proyek Low Carbon Rice telah berhasil mendampingi 34 penggilingan padi kecil beralih dari mesin diesel ke listrik.
“Sedang penggilingan padi yang lainnya sedang dalam proses pengajuan dan atau menunggu terkumpulnya dana,” terangnya.
Terkait, Ketua Umum Perkumpulan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia (PERPADI) Sutarto Alimoeso mengemukakan, kegiatan pendampingan di penggilingan padi kecil ini meliputi pendampingan teknis oleh para fasilitator lokal, advokasi ke PLN, dan capacity-building untuk para pemilik penggilingan.
“Peralihan ke listrik ini pun telah terbukti begitu menguntungkan penggilingan padi dengan potensi efisiensi biaya produksi mencapai 40 persen dan pengurangan tingkat emisi di penggilingan padi mencapai 80 persen,” ucap Sutarto Alimoeso.

Dukungan akan praktik produksi beras yang lebih berkelanjutan di wilayah Madiun juga ditunjukkan oleh Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) setempat.
Dinas PMD Kabupaten Madiun berkolaborasi dengan penggilingan padi Proyek Low Carbon Rice melalui skema kemitraan mendukung produksi beras yang dapat menjaga kualitas lahan, iklim, dan stabilitas suplai pangan di wilayah Madiun.
Respons positif dari berbagai pemangku kepentingan ini juga merupakan buah hasil dari forum beras berkelanjutan yang diinisiasi oleh Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) untuk Proyek Low Carbon Rice.
Forum ini menjadi roda penggerak yang membuat berbagai pihak, khususnya Pemerintah Kabupaten Madiun, untuk terus mendukung berjalannya proyek.
“Ini adalah awal dari jalan yang masih panjang ke depannya. Namun dengan terwujudnya hasil panen dari kemitraan produksi ini, menunjukkan bahwa aktor perberasan Indonesia semakin siap untuk menyambut beras berkelanjutan,” ucap Angga Maulana.
Untuk diketahui, Proyek Low Carbon Rice bertujuan untuk mengurangi emisi karbon dari praktik produksi beras di Indonesia. Proyek ini didanai oleh SWITCH-Asia Grants Programme milik Uni Eropa.
Proyek ini dijalankan di Jawa Tengah dan Jawa Timur oleh Preferred by Nature berkolaborasi dengan Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) dan Perkumpulan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia (PERPADI).
Sedang SWITCH-Asia dari Uni Eropa diluncurkan tahun 2007. SWITCH-Asia adalah program donor terbesar Uni Eropa yang mempromosikan Produksi dan Konsumsi Berkelanjutan di 42 negara di Asia, Timur Tengah, dan wilayah Pasifik.
Melalui EU Green Deal dan Global Gateway, Uni Eropa berkomitmen untuk mendukung transisi berbagai negara ke arah yang rendah karbon, efisien secara pengelolaan sumber daya, dan ekonomi sirkuler sembari mempromosikan pola Produksi dan Konsumsi Berkelanjutan di benua Asia dan rantai pasok yang lebih hijau di antara Asia dan Eropa.









