WartaKita.org – Berdirinya Posko Tanggap Pandemi (PTP) Paroki Santa Maria Bunda Kristus Wedi, Kabupten Klaten ini tidak terlepas dari masa pademi Covid-19 yang sudah berlangsung lama.
Pastor Kepala Paroki Santa Maria Bunda Kristus Wedi Rama Aloysius Gonzaga Luhur Prihadi, Pr menyampaikan, di awal pandemi, ketika pelaksanaan ibadah publik seperti perayaan Ekaristi dan pertemuan-pertemuan umat mulai diadakan dengan sejumlah pembatasan, maka Paroki Wedi membentuk tim layanan yang bernama Satuan Tugas atau Gugus Tugas Penanganan Dampak Covid-19. Kemudian berubah nama menjadi Tim Layanan Penanganan Dampak Covid-19 Paroki Wedi.
Di Tim Layanan Penanganan Dampak Covid-19 ini terdapat tim layanan liturgi, tim sarana prasarana, dan tim kesehatan yang semuanya mendukung tata peribadatan, dan ditambah tim layanan kesejahteraan.
Setelah pandemi memasuki siklus kedua atau gelombang kedua, yang mana mereka yang terpapar Covid-19 mengalami peningkatan yang sangat signifikan, dan bahkan umat Paroki Wedi juga cukup banyak yang terpapar, maka situasi ini ditanggapi sebagai situasi emergency atau situasi darurat.
“Oleh karena itu, untuk menanggulangi wabah pandemi ini dimana umat banyak yang terpapar, serta banyak yang membutuhkan pertolongan, dan bahkan banyak kematian dari mereka yang terpapar, lalu dibentuklah Posko Tanggap Pandemi (PTP) dengan semangat melayani,” kata rama.
Rama Aloysius Gonzaga Luhur Prihadi, Pr menyatakan, Posko Tanggap Pandemi ini berdiri atas ide dari banyak orang.
“Ide dari tim layanan, ide dari dewan paroki, dan ide dari pengurus harian yang peduli. Tentu kemudian disetujui, dan didukung oleh pengurus harian dewan pastoral paroki, yang tentu saja ada rama paroki. Jadi, ya ide banyak orang. Ide bersama yang peduli,” ujar rama.
Rama Luhur mengatakan, antusiasme umat untuk terlibat sebagai relawan di posko ini cukup baik. Antusiasme umat kalau dibandingkan dengan jumlah umat keseluruhan di Paroki Wedi tentu sangat kecil. Tetapi dari yang kecil ini mereka cukup antusias untuk menjadi relawan dan melayani umat. Umat sangat antusias menanggapi dengan adanya posko ini, terutama bagi mereka yang membutuhkan.
“Tentu bukan soal banyak sedikitnya (umat). Tetapi bahwa umat yang punya hati, yang peduli, yang melayani, yang mau terlibat sungguh-sungguh punya antusiasme yang tulus. Ini menjadi kekuatan bagi kelompok itu untuk melayani kelompok yang besar,” tandas rama.
Mantan Vikep Semarang ini mengemukakan, ada banyak umat yang terlibat menjadi relawan di posko ini. Kalau yang ada di Grup WhatsApp (WA) Posko Tanggap Pandemi, termasuk dewan harian pastoral paroki, itu ada sekitar 60-an orang. Itu sudah termasuk kelengkapan tim dari posko ini. Baik untuk emergency, untuk kesejahteraan, dan lainnya.
“Meskipun yang aktif kelihatan di posko tentu tidak sebanyak itu. Tetapi ini dirasa cukup,” ungkap rama.

Rama Luhur menjelaskan, di Posko Tanggap Pandemi Paroki Wedi peduli dan melayani ini ada beberapa tim.
Ada tim kesejahteraan yang pekerjaannya adalah memantau adanya isoman baru, kemudian menyiapkan bahan pokok pangan untuk dikirim ke keluarga-keluarga yang menjalani isolasi mandiri (isoman) di rumah. Tim kesejahteraan juga memantau kebutuhan pangan sehari-hari keluarga yang sangat kesulitan untuk mendapatkan pangan, lalu dikirim oleh tim.
Kemudian ada tim emergency yang bertugas untuk antar jemput pasien Covid-19, dan juga melayani pasien yang non Covid. Tim ini tugasnya menjemput pasien dari rumah sakit ke rumah, atau dari rumah ke rumah sakit dengan ambulans yang ada.
Tim emergency untuk para isoman atau yang terpapar ini juga didukung oleh tim kesehatan. Ini untuk memastikan kondisi, atau untuk memantau perkembangan secara emergency apakah pasien membutuhkan pertolongan segera ke rumah sakit atau tidak. Tim emergency juga melayani kebutuhan oksigen bagi pasien yang saturasinya terus menurun. Tim ini juga sekaligus mengisi, mencari pabrik oksigen, dan isinya.
Selanjutnya ada tim firdaus. Tim firdaus ini terkait dengan memandikan atau nyuceni jenazah. Sebelumnya, tim firdaus ini telah mendapat pelatihan mengenai pemulasaran jenazah Covid-19 dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Klaten.
Kemudian ada tim eksekutor yang membawa peti jenazah dari rumah (atau rumah sakit) ke makam, lalu memakamkannya separoh makam. Ada juga tim eksekutor yang bertugas mengurug makam sampai selesai. Dalam hal ini tim eksekutor bekerjasama dengan Foredi (Forum Relawan Wedi) untuk mempercepat proses pemakaman. Juga bekerjasama dengan relawan dari Desa Ngering, dari Kecamatan Gantiwarno, dan sebagainya. Jadi, kerjasama ini sangat bagus dan saling membantu.
Juga ada tim administratif yang bertugas membentuk Grup WA isoman. Di Grup WA ini para isoman dapat berbagi pengalaman, dan bisa menyampaikan apa yang dibutuhkan secara terbuka. Dan nantinya, dari posko segera menanggapi sesuai dengan kebutuhannya.
Di posko ini juga ada tim pangon. Tim pangon ini bekerja memberi informasi terkait dengan para isoman. Tim pangon ini anggotanya adalah para ketua lingkungan atau yang ditunjuk untuk memberi informasi mengenai warganya yang mulai isoman karena terpapar atau terkonfirmasi positif Covid-19.
Tim pangon kemudian memberikan informasi tentang kondisi kesehatan maupun kesejahteraan. Juga memberitahu kapan warganya mulai isoman, kapan berakhir, dan mengirim surat keterangan dari tempat menjalani swab atau PCR.
Selain itu juga ada tim pendoa. Tim pendoa ini bertugas melayani jenazah untuk berdoa. Untuk prosesi doanya bisa dilakukan di rumah saat pemberangkatan jenazah, atau juga di makam.
“Para pendoa ini tidak selalu prodiakon. Yang tidak prodiakon juga boleh. Karena nyatanya, yang prodiakon hanya sedikit yang bersedia menjadi tim pendoa untuk Posko Tanggap Pandemi,” kata rama.
Rama Luhur mengungkapkan, para relawan ini semuanya bekerja secara part time. Karena masing-masing mempunyai tanggung jawab untuk keluarga. Memang ada relawan yang mempunyai waktu luang cukup panjang, dan ada yang punya waktu singkat. Tetapi tidak mengurangi makna pelayanan, karena semua didasari oleh kepedulian dan kemauan untuk melayani.
Untuk relawan yang piket jaga (penanggung jawab) posko memang dijadwalkan 24 jam. Mulai dari jam 06.00 pagi sampai jam 06.00 pagi. Tetapi, mereka tidak harus sepanjang hari di posko.
Di rumah, para relawan tetap bekerja. Tetapi mereka stand by, siap siaga ketika dipanggil, lalu merapat. Kalau ada kepentingan yang lebih mendesak, diselesaikan terlebih dulu. Misalnya kepentingan untuk keluarga, untuk masyarakat, untuk pekerjaan, ya tentunya harus diselesaikan dan diutamakan lebih dulu.
“Jadi prinsipnya relawan. Yang penting rela, hati sukacita penuh kebahagiaan dalam melayani. Atau bahagia karena bisa melayani,” tandas rama.

Rama Luhur mengemukakan, sejak semula, dalam arti sejak pembentukan tim layanan untuk peribadatan sampai untuk pendirian posko, perekrutan relawan dilakukan secara terbuka, yaitu melalui pengumuman di gereja. Juga melalui gethok tular, kontak pribadi, dan sebagainya.
Dari tim layanan yang tadinya diumumkan dan terbentuk itu, juga ada yang siap untuk menjadi relawan posko. Dan seiring waktu berjalan, pertambahan dan pengurangan para relawan pun terjadi.
“Jadi, kapanpun orang bisa bergabung, dan bisa memilih, mau terlibat di bagian apa, sesuai dengan kompetensi atau kemampuan atau kemauannya. Tetapi juga, kapan saja (relawan) bisa berhenti. Ketika sudah tidak rela, sudah merasa capek, merasa cukup, ya bisa berhenti,” terang rama.
Rama Luhur menyatakan, tidak ada dana insentif bagi para relawan. Tidak ada yang dibayar, tidak ada yang diberi uang lelah. Tidak ada yang diberi imbalan jasa. Karena namanya relawan. Jadi ya rela melayani.
Tetapi tentu saja ada yang disiagakan. Misalnya saja untuk men-support, mendukung kebutuhan para relawan. Ya minum, snack, bahkan ada donatur-donatur yang memberi jaminan untuk makan, menyumbangkan baik uang, atau bekal langsung berupa makanan untuk para relawan.
Kemudian, posko juga menyiapkan vitamin untuk para relawan. Biasanya yang membutuhkan tenaga ekstra harus di-support dengan vitamin, baik vitamin B atau vitamin B Complex, atau multivitamin. Upaya ini bertujuan agar stamina mereka tetap terjaga.
“Kalau ada relawan yang agak cekrah-cekrih kurang sehat, mereka diberi kebebasan dan dianjurkan untuk istirahat sambil dipantau gejaja-gejalanya apa supaya tidak terlambat penanangannya. Dan jangan sampai, relawan sendiri terpapar Covid-19,” ucap rama.









