WartaKita.org – Anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah Kadarwati melakukan reses tahun 2021 di Aula Kantor Kecamatan Trucuk, Kabupaten Klaten, Kamis (17/3/2021) pagi.
Reses yang mengusung tema “Ketahanan pangan bersama petani” ini dihadiri Camat Trucuk Bambang Haryoko, perwakilan Kelompok Tani (Poktan), Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), dan undangan lainnya.
Camat Trucuk Bambang Haryoko dalam sambutan mengucap syukur atas diadakannya reses anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah Kadarwati di Aula Kantor Kecamatan Trucuk ini. Karena untuk menghadirkan tokoh politik di level Provinsi atau Pusat itu tidak mudah.
“Alhamdulillah. Hari ini diadakan reses anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah Bu Kadarwati yang mengundang para petani di Kecamatan Trucuk. Kita tentu menyambut gembira. Kita juga berterima kasih atas kesediaan Bu Kadarwati yang telah mau membantu petani dan masyarakat Trucuk yang diwujudkan dalam bentuk aspirasi. Maka kalau ada permasalahan, mohon disampaikan di kegiatan reses ini,” katanya.
Sedang Anggota DPRD Jawa Tengah Kadarwati dalam paparan menyampaikan, ketahanan pangan itu penting. Karena kalau warga ingin beli baju, bisa ditunda. Tetapi kalau kebutuhan pangan, tidak bisa ditunda. Sebab jika tiga hari saja warga tidak makan, pasti kita akan merasa pusing, lemas, kelaparan, dan sebagainya. Apalagi kalau warga tidak makan seminggu.
“Maka ketahanan pangan menjadi pilar kebangsaan kita. Menjadi penguat kita. Karena sebagian besar wilayah di Kabupaten Klaten ini terdiri dari 391 desa, dan selama ini menjadi penyangga pangan, atau bisa menghasilkan pangan,” katanya.
Anggota Komisi B DPRD Jawa Tengah ini menyatakan, pola tanam yang padi, padi, pantun dan berlangsung lama itu sangat berbahaya bagi kesuburan tanah. Karena bisa merusak kontur tanah. Sebab terjadi eksploitasi tanah, karena pupuknya hanya itu-itu saja.
“Maka perlu inovasi yang baru. Perlu keberanian yang baru dari para petani, dari Gapoktan, untuk mensosialisasikan tumpang sari. Karena itu, (petani) jangan langsung apriori. Langsung menolak. Wah, (tumpang sari itu) tidak cocok. Tidak boleh seperti itu,” pesannya.
Anggota DPRD Jawa Tengah dari Daerah Pemilihan (Dapil) Jawa Tengah VII yang meliputi Kabupaten Klaten, Sukoharjo, dan Kota Surakarta ini menjelaskan, dalam program tumpang sari itu misalnya kedelainya gagal, petani masih bisa panen dari jagung. Selain itu, struktur tanah juga sudah mulai berubah karena ada pupuk di situ.
“Nah, program yang bagus dari Pemerintah Pusat ini kita sampaikan ke provinsi, labupaten, dan desa-desa. Program (tumpang sari) ini sangat bagus. Karena ada bantuan bibit kedelai dan jagung. Dan juga ada bantuan saprodi (berupa pupuk) yang selama ini dikeluhkan para petani. Ini bukan pupuk bersubsidi, tetapi pupuk gratis semua. Maka, monggo kita akses program (tumpang sari) itu,” ajaknya.
Kadarwati menambahkan, program tumpang sari ini terbuka bagi para petani di Kabupaten Klaten. Jadi tidak hanya untuk empat kecamatan (Delanggu, Kebonarum, Trucuk, dan Pedan) saja.

Reses Kadarwati di Kebonarum ini disambut antusias petani. Ada sejumlah “keluhan” yang disampaikan kepada Dewan asal Desa Jatipura, Kecamatan Trucuk ini. Diantaranya mengenai kartu tani, pupuk yang kadang langka dan harganya mahal, harga gabah petani yang anjlok saat panen, bank pakan, perbaikan irigasi pertanian, dan sebagainya.
Menanggapi “keluhan” dari petani tersebut, Kadarwati mengatakan bahwa persoalan petani itu cukup komplek, dan tidak bisa diselesaikan di tingkat kabupaten ataupun provinsi saja.
“Seperti pupuk dan Kartu Tani. Itu adalah kewenangan Pemerintah Pusat. Jadi, kami bisanya hanya mengkomunikasikan ke pihak terkait, agar permasalahan tersebut segera tertangani,” jelasnya.
Di akhir acara reses, untuk menyemangati para petani, Camat Trucuk Bambang Haryoko mengajak hadirin untuk menyanyikan sebuah lagu yang pernah dinyayikan oleh penyanyi keroncong terkenal Waljinah berjudul Ayo Ngguyu….









