Warta Kita.org – Peristiwa Sumpah Pemuda yang diikrarkan pada Kongres Pemuda Ke II pada tanggal 28 Oktober 1928 menjadi salah satu momen atau titik sejarah terpenting bagi perjalanan sejarah bangsa dan negara Indonesia.
Sumpah Pemuda menyatukan pemuda dari berbagai daerah untuk mengikrarkan satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa, yaitu Indonesia. Peristiwa ini menjadi tonggak penting dalam sejarah pergerakan kemerdekaan Indonesia.
“Sumpah Pemuda menjadi salah satu titik sejarah terpenting bagi bangsa dan negara Indonesia. Bahwa pergerakan itu dimulai dari pemuda. Gerakan itu untuk mewujudkan persatuan dan kesatuan Indonesia. Kalau tidak ada persatuan dan kesatuan, sulit untuk mencapai Indonesia merdeka. Nah, setelah Indonesia merdeka, baru saatnya kita berusaha untuk mencapai Indonesia Emas,” kata Anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah Kadarwati saat ditemui di rumahnya pada Sabtu (1/11/2025).
Kadarwati menyatakan, setelah Indonesia merdeka, maka bangsa dan negara ini pun bercita-cita untuk menjadi Indonesia (yang) maju.
“Lha, untuk menjadi Indonesia maju, memang harus disiapkan sejak awal. Terutama para generasi milenial (mereka yang lahir antara tahun 1981 dan 1996), generasi Z (mereka yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012), dan generasi Alpha (mereka yang lahir antara tahun 2012 sampai sekarang)-nya. Mereka ini harus tahu apa itu Pancasila, bagaimana Pancasila itu sebagai dasar negara, sebagai sumber dari segala sumber hukum, sebagai pandangan hidup bangsa kita dan sebagainya,” ujar Anggota Komisi B DPRD Provinsi Jawa Tengah ini.
Anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah dari Fraksi PDI Perjuangan ini mengatakan, Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa berarti bahwa Pancasila dijadikan pedoman atau petunjuk hidup bagi seluruh warga negara Indonesia dalam setiap aspek kehidupan. Hal ini mencakup bagaimana bersikap, bertingkah laku, dan membuat keputusan, yang semuanya harus dijiwai oleh nilai-nilai luhur Pancasila.
“Dengan kata lain, Pancasila adalah “way of life” atau pegangan hidup yang memandu kehidupan pribadi, sosial, dan kenegaraan bangsa Indonesia,” tandasnya.
Anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah asal dari Desa Jatipuro, Kecamatan Trucuk ini mengemukakan, untuk mencapai cita-cita bersama, yaitu Indonesia maju, maka generasi muda harus mempersiapkan diri sejak dini dan harus memahami bagaimana Pancasila itu menjadi bintang penuntun bangsa.
“Pancasila menjadi bintang penuntun bangsa untuk mencapai cita-cita, gagasan para leluhur bangsa kita, yang salah satunya adalah Bung Karno, pendiri negara ini. Maka sekarang, adik-adik milenial, generasi Z dan generasi alpha harus memahami bagaimana Pancasila itu menjadi bintang penuntun bangsa. Kenapa Pancasila harus menjadi bintang penuntun bangsa? Karena kalau generasi muda tidak tahu Pancasila, maka akan kehilangan arah. Ketika kehilangan arah, meski ilmu dan pikirannya bagus, kecerdasannya baik, fisik dan energinya kuat, tetapi bisa jadi “berlawanan” dengan cita-cita luhur bangsa ini, yaitu Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, makmur, dan sejahtera,” ungkapnya.
Ibu dari Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo ini menerangkan, untuk mencapai cita-cita bersama itu, maka generasi muda harus mempersiapkan diri. Bagi yang masih sekolah, mereka harus rajin belajar. Kemudian, mereka juga harus berinteraksi sosial dengan masyarakat dan lingkungan sekitar. Di samping itu, mereka harus mulai memahami pentingnya toleransi beragama.
“Dari toleransi beragama itulah kita bisa menghargai sesama hidup. Dengan bisa menghargai sesama hidup, mereka akan peka dan peduli. Dengan peka dan peduli, maka mereka akan mempunyai nilai-nilai yang luhur, yaitu berbudi luhur, berkepribadian, ulet, tangguh, dan bergotong royong, ada sifat kemanusiaan,” paparnya.
Kadarwati menambahkan, generasi muda juga perlu mempelajari sejarah bangsa.
“Ingat pesan Bung Karno, jasmerah, jangan sekali-kali melupakan sejarah. Karena sejarah itu memuat nilai-nilai history yang sangat penting, menjadi bahan bagaimana perenungan kita, menjadi bahan bagaimana sejarah itu ada, bagaimana sehingga generasi muda punya arah yang baik, menghargai pahlawan kita dengan nilai-nilai yang ada di situ, dan sebagainya,” pesan Kadarwati.









