Perkuat Karakter, Remaja Jangan “Alay”

  • Whatsapp
Eva Mintarsih

PADA hakikatnya perilaku sangat dipengaruhi oleh lingkungan.

Menurut Ensiklopedi Amerika, perilaku diartikan sebagai suatu aksi dan reaksi organisme terhadap lingkungannya. Hal ini berarti bahwa perilaku baru akan terwujud apabila ada sesuatu yang diperlukan untuk menimbulkan tanggapan yang disebut rangsangan. Dengan demikian maka suatu rangsangan tertentu akan menghasilkan perilaku tertentu pula (Robert Y Kwick 1972).

Bacaan Lainnya

Seperti contoh adanya julukan “anak alay” di kalangan masyarakat. Julukan itu sudah tidak asing di telinga kita, karena sudah sering digunakan dalam masyarakat. Kata itu kita dengar ketika seseorang melihat ada anak yang berpakaian berlebihan dan berbicara dengan menggunakan bahasa gaul. Mereka lalu akan mengatakan: “Alay, tinggal ngomong biasa aja, terus ngga usah pake pakaian yang berlebihan begitu”.

Selain itu, kita juga pernah melihat tayangan di televisi pada acara musik yang membenarkan adanya anak alay. Istilah itu biasanya ditujukan untuk mereka kaum remaja yang terlalu berlebihan dalam mengekspresikan diri mereka sendiri.

Sebagian besar remaja saat ini telah terkena virus alay. Mengapa remaja? Karena pada masa itu remaja sangat mudah terpengaruh oleh semua hal dan memiliki emosi yang labil. Dapat kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari seperti di acara televisi, biasanya anak alay menjadi penonton bayaran yang sangat heboh, ramai.

Bukan hanya itu, tak jarang juga dari mereka yang menggunakan bahasa gaul seperti: “ Eh cyiinn rempong amat lu..”

Ada juga yang digunakan di media sosial seperti Facebook, BBM, Twitter, Instagram, Whatsapp, dan lainnya.  Mereka hanya sekadar mengirim pesan pendek kepada teman-temannya seperti: “ Nt4r Qw x3 rmhx lu d3ch..”.

Bahkan sampai ada kamus bahasa alay. Sehingga memudahkan anak remaja yang ingin    mempelajari bahasa yang biasanya digunakan oleh anak-anak alay lainnya.

Untuk mengetahui apakah dia anak alay atau bukan, kita tidak perlu bertanya apakah kamu anak alay atau bukan. Kita dapat mengetahui dengan mudah hanya dengan cara melihat penampilannya saja. Karena biasanya mereka selalu berpenampilan aneh dari anak remaja biasanya.

Mereka akan menggunakan baju berwarna mencolok seperti hijau, merah, orange, dan lainnya, memakai aksesoris yang berlebihan dan aneh yang kadang malah tidak sesuai dengan gaya dan warna bajunya.

Dan yang lebih mengejutkan lagi adalah hal itu bukan hanya terjadi kepada remaja yang tinggal di daerah perkotaan saja. Tetapi remaja desa yang sejatinya tidak mungkin akan meniru hal seperti itu, malah ternyata lebih parah daripada remaja yang tinggal di kota. Karena fenomena alay sangat mudah dan cepat sekali menyebar. Mereka cenderung merasa malu ketika mereka masih menggunakan bahasa daerahnya sendiri, seperti Bahasa Jawa, Bahasa Sunda, Bahasa Batak, dan sebagainya. Mereka akan menggunakan bahasa gaul atau Bahasa Indonesia yang tidak baku dan disisipi dengan bahasa gaul.

Terkadang malah ada yang mencela temannya sendiri ketika ada salah seorang yang masih mengggunakan bahasa daerahnya sendiri dengan perkataan: “ehh masih jaman pake bahasa begituan, pake bahasa gaul dikit dong biar keliatan modern dan nggak ketinggalan jaman!!” Maka dari itu, mereka yang mendapat perkataan seperti itu akan menggunakan bahasa gaul yang lebih modern dan tidak ketinggalan jaman supaya tidak dicemooh oleh temannya sendiri.

Kejadian itu dapat dijumpai di sekolah. Karena persaingan yang seperti itu sudah tidak asing lagi. Secara tidak langsung, itu yang membuat hilangnya kebudayaan bangsa Indonesia dalam hal bahasa.

Seperti kita ketahui bahwa Indonesia sangat luas, memiliki lebih dari 17 ribu pulau, dari Sabang hingga Merauke dan memiliki bahasa yang berbeda-beda pada setiap daerahnya. Kebudayaan yang beragam itulah yang menjadi keunikan Bangsa Indonesia.

Semua itu dapat terjadi karena berbagai macam faktor seperti masuknya kebudayaan asing. Faktanya budaya asing telah menjadi kiblat bagi generasi muda, mulai dari cara berpakaian, gaya hidup, hingga dalam hal berbahasa.

Budaya asing sangat mudah masuk kedalam kehidupan para remaja dengan didukung oleh teknologi yang super canggih. Para remaja akan sangat dimudahkan dalam hal mengakses internet, untuk mencari tahu hal-hal yang membuat kita menjadi tidak ketinggalan jaman atau yang disebut dengan gaul. Remaja dapat mengakses bahasa gaul, trend baju, dan lain-lain.

Kita tidak bisa menolak adanya teknologi, tetapi kita harus menyikapi teknologi dengan sebaik mungkin. Jangan sampai kita mati karena teknologi yang sekarang ini sudah masuk hingga kepelosok negeri.

Lalu, rasa ingin tahu yang tinggi. Karena pada masa ini remaja ingin mencoba berbagai macam hal baru dengan diikuti rasa penasaran yang sangat besar tanpa memikirkan dampak positif atau negatif yang akan ditimbulkan jika melakukan hal itu. Apakah akan merugikan atau menguntungkan baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain.

Selain itu, peran orang tua dalam mengawasi anak-anaknya juga sangat diperlukan. Jangan sampai anak salah langkah dalam melakukan berbagai hal. Kesibukan orang tua yang kadangkala menjadikan anak mendapat sangat sedikit perhatian dan pengawasan. Walaupun orang tua sangat sibuk sekalipun, anak harus tetap diperhatikan dan diawasi bagaimana perkembangan kehidupan mereka, terutama dalam pergaulannya. Kerena bisa saja seorang remaja yang tadinya biasa-biasa saja tiba-tiba berubah menjadi berlebihan baik itu dalam hal berpenampilan, sikap, penggunaan bahasa aneh yang terkadang tak banyak orang mengerti apa arti dan maksud dari bahasa itu.

Semua itu dapat terjadi karena pengaruh teman dan pergaulan yang salah. Dengan begitu maka kita harus memberi perhatian dan pengawasan kepada anak terutama remaja karena di tangan merekalah masa depan Indonesia. Seperti menanamkan nilai patriotisme dan nasionalisme agar lebih mencintai negeri sendiri.

Yang paling penting adalah menanamkan pendidikan karakter kepada para remaja, baik itu di sekolah maupun di rumah. Jika remaja memiliki karakter yang kuat, maka dia tidak akan melakukan suatu hal yang dapat merusak negaranya sendiri.

Hal tersebut bukan hanya kewajiban dari peran sekolah atau orangtua saja untuk mendukung, tetapi masyarakat dan lingkungan juga harus ikut dan terlibat dalam menanamkan karakter kepada remaja.

Kita perlu menjunjung bahasa persatuan yaitu Bahasa Indonesia yang telah tercantum dalam isi Sumpah Pemuda 1928. Jangan sampai bahasa persatuan hilang karena kesalahan kita sendiri. Kita sebagai pemuda-pemudi generasi penerus bangsa sudah seharusnya memiliki semangat perjuangan dalam menjaga dan mempertahankan NKRI. (ls)

 

Eva Mintarsih

Mahasiswa ASMI Santa Maria Yogyakarta

Prodi Public Relations

 

 

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *