DI ERA yang modern ini bahasa menjadi salah satu kebutuhan primer yang digunakan masyarakat untuk berkomunikasi dengan sesama.
Dalam Web Wikipedia dijelaskan, bahasa merupakan kemampuan yang dimiliki manusia untuk berkomunikasi dengan manusia lain. Misalnya menggunakan kata dan gerakan.
Di sebagian besar daerah di Indonesia mempunyai bahasa daerah sendiri. Di Indonesia, terdapat beragam bahasa dan suku bangsa dengan keunikan dan keunggulannya masing- masing. Seperti Bahasa Jawa misalnya.
Hermadi (2010) dalam Official Web Kompasiana menjelaskan, Bahasa Jawa merupakan bahasa yang digunakan sebagai bahasa pergaulan sehari-hari di daerah Jawa, khususnya Jawa Tengah.
Dalam kedudukannya sebagai bahasa daerah, Bahasa Jawa memiliki fungsi sebagai (1) lambang kebanggaan daerah, (2) lambang identitas daerah, dan (3) alat perhubungan di dalam keluarga dan masyarakat daerah (Khalim dalam Tubiyono, 2008).
Dalam penggunaannya, Bahasa Jawa memiliki aksara sendiri, yaitu aksara Jawa, serta unggah-ungguh basa (etika berbahasa Jawa) yang berbeda. Bahasa Jawa dibagi menjadi 3 tingkatan bahasa, yaitu ngoko (kasar), madya (biasa), dan krama (halus) (anonim 2010 dalam Kompasiana).
Dalam Kompasiana menjelaskan bahwa tingkatan dalam Bahasa Jawa mengajarkan kita bagaimana bagaimana berkomunikasi dengan sesama. Dalam tingkatan bahasa, penggunaan bahasa berbeda-beda sesuai dengan lawan yang diajak berbicara.
Dalam keseharian, ngoko digunakan untuk berbicara dengan teman sebaya atau yang lebih muda, madya digunakan untuk berbicara dengan orang yang cukup resmi, dan krama digunakan untuk berbicara dengan orang yang dihormati atau yang lebih tua.
Dalam perkembangannya, belakangan ini Bahasa Jawa sepertinya mulai “ditinggalkan” oleh generasi muda. Karena di era modern ini banyak anak-anak dan generasi muda yang tidak mengerti Bahasa Jawa. Mereka juga tidak mau untuk mempelajarinya karena dianggap sulit. Dampaknya, banyak anak jaman sekarang yang lebih senang menggunakan Bahasa Indonesia dibandingkan dengan Bahasa Jawa. Hal ini karena kurangnya edukasi dari orangtua kepada anak-anaknya dalam berbahasa Jawa.
Selain dianggap rumit, Dr Supono dalam rri.co.id juga menyebut, kondisi ini diperparah oleh serbuan beragam budaya dan tuntutan penguasaan bahasa asing. Sebab untuk menjadi pemenang persaingan dunia harus menguasai bahasa asing. Oleh karena itu, pelestarian sekaligus pengembangan nilai-nilai budaya Jawa perlu dilakukan. Diantaranya melalui lomba pidato Bahasa Jawa, karena nilai budaya tidak terlepas dari bahasa.
Dalam Kompasiana menjelaskan, lunturnya Bahasa Jawa membuat kualitas budi pekerti dan tata krama para pemuda di Jawa semakin menurun. Karena cenderung tidak bisa berbahasa Jawa halus, mereka lebih memilih berbahasa Indonesia yang dianggap lebih mudah.
Oleh karena itu, pendidikan berbahasa Jawa yang baik dan benar perlu ditanamkan sejak dini supaya Bahasa Jawa tetap terjaga kelestariannya dan karakteristik mayarakat suku Jawa yang dikenal berbudi luhur dan memiliki tata krama yang baik itu tetap terjaga.
Selain, pendidikan perlu peran dari orangtua dalam membiasakan anak-anaknya menggunakan Bahasa Jawa dalam berinteraksi di setiap harinya. Karena dengan membiasakan anak menggunakan Bahasa Jawa yang baik dan benar, merupakan edukasi praktek secara langsung di masyarakat dan juga lingkungan sekitar.
Diharapkan, anak-anak yang mempelajari Bahasa Jawa mempunyai jiwa yang semangat, berbudi pekerti dan berjiwa rendah hati, ada kemauan dalam belajar Bahasa Jawa, serta menjadi badan atau pelopor dalam melestarikan Bahasa Jawa.
Bahasa Jawa bukanlah bahasa yang sulit untuk dipelajari. Hanya saja, orang yang mempelajarinya perlu membutuhkan ketekunan, kerajinan, dan pemahaman pada bahasa yang dipelajari. Mau mempelajari Bahasa Jawa adalah bukti dari upaya melestarikan Bahasa Jawa sebagai cagar budaya.










