Warta Kita.org – Perarakan Gunungan mewarnai peringatan Hari Pangan Sedunia (HPS) 2025 yang digelar di Gereja Santo Paulus Miki Salatiga pada Minggu (19/10/2025).
Gunungan diarak memasuki Gereja yang diusung oleh perwakilan Komunitas Mahasiswa Papua yag tergabung dalam Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI). Kemudian diikuti oleh para ibu Paroki dan Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) yang membawa tampah berisi pangan lokal Salatiga. Perarakan gunungan dan pangan lokal ini diiringi tarian anak anak dari SD Katolik Salatiga.
Ketua Panitia HPS 2025 Paroki Santo Paulus Miki Salatiga Albertus Heri Nugroho menyampaikan, perarakan gunungan dan pangan lokal ini merupakan wujud persembahan dan ungkapan syukur umat atas karunia sumber pangan yang telah mereka selama ini.
“Ini sebagai wujud persembahan dari masyarakat, dan wujud syukur bahwa kita telah dikaruniai sumber pangan lokal yang melimpah,” katanya.
Albertus Heri Nugroho menjelaskan, gunungan yang diarak ini berisi hasil bumi yang dipersembahkan oleh kelompok petani dari Serikat Petani Qaryah Thayyibah (SPPQT), Lembaga Pengembangan Pertanian Nadhatul Ulama (LPPNU), Kursus Pertanian Terpadu Taman Tani (KPTT) dan sejumlah petani mitra dari WKRI.
“Kami merasa bangga karena gunungan yang diarak di dalam gereja dan dibagikan kepada umat Katolik ini merupakan sumbangan dari petani yang kebetulan beragama muslim. Kami mencoba menyampaikan pesan toleransi beragama dan penghargaan kepada petani melalui event ini,” ungkapnya.

Sedang Pastor Paroki Paulus Miki Salatiga Rama Petrus Lasadi MSF dalam sambutan memberikan apresiasi yang dalam kepada kelompok tani yang sengaja dihadirkan di gereja paroki ini.
“Terima kasih teman teman kelompok tani. Yang namanya pangan itu tidak mengenal agama. Seperti pangan yang kita makan setiap hari. Ternyata ditanam juga oleh saudara saudara kita non kristianI,” ujar Rama Lala, sebutan akrabnya.
“Maka jangan pernah sisakan sedikitpun makananmu. Hargai jerih payah mereka. Sebutir nasi (yang kita makan itu) dihasilkan dari cucuran keringat mereka. Maka perayaan HPS ini sekaligus mengajak kita semua untuk menghargai pangan lokal. Dan mengajak kita berkomitmen dalam melestarikan bumi sebagai rumah kita,” ajak rama.
Peringatan HPS 2025 ini juga melibatkan semua elemen umat Katolik, sehingga ajakan untuk mendukung tema HPS 2025 tentang ketahanan pangan demi masa depan lebih baik ini bisa menjangkau seluruh umat Katolik di Salatiga.
Tidak terlewatkan, anak anak pun diberi ruang dengan 7 permainan tematik Hari pangan Sedunia 2025. Yang paling ramai adalah permainan Ular Tangga HPS 2025 yang sengaja disediakan oleh Komunitas Orang Muda Gereja Paulus Miki. Mereka bisa belajar tentang pangan lokal, kelestarian alam, dan apa yang sebaiknya dilakukan oleh anak anak. Melalui permainan ular tangga mereka belajar banyak hal.
“Saya senang bisa belajar sambil bermain. Banyak tebakan tebakan di setiap tangga yang ada di permainan ini. Walaupun susah, tapi permainan ini asyik,” kata Alena, salah satu peserta permainan yang di beri nama 7 Badge Challenge.

Setiap anak harus melewati 7 game atau tantangan, supaya mereka bisa mendapatkan badge yang disediakan. Badge tersebut akan ditempelkan di sebuah gambar dunia yang rusak.
“Dengan menempelkan badge atau stiker yang didapat anak-anak, mereka menyatakan bahwa bumi sebagai rumah kita semua harus dirawat. Anak anak ini pemilik masa depan, maka mereka kita ajak untuk bersama sama menjaga bumi ini,” ucap salah satu pentoalan orang muda Gereja Paulus Miki.
Untuk meramaikan acara perayaan Hari Pangan Sedunia 2025, selain gunungan dan permainan anak anak panitia HPS juga mengadakan bazar UMKM, workshop membatik bersama Komunitas Soramata, edukasi ketahanan pangan bersama KPTT dan lomba memasak bahan pangan lokal yang diikuti oleh ibu ibu perwakilan dari wilayah.
“”Semua elemen terlibat dalam kegiatan HPS 2025 ini, partisipasi seluruh umat menjadi penting bagi kami penyeleplnggara,” terang Markus Haryono, Ketua Tim Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) yang menjadi pengagas acara ini.









