WartaKita.org – Indonesia akan menggelar Pemilu serentak, yaitu Pemilihan Legislatif (Pileg) dan Pemilihan Presiden (Pilpres) pada tanggal 14 Februari 2024 mendatang.
Pada Pemilu ini, warga akan memilih DPRD Kabupaten/Kota, DPRD Provinsi, DPR RI, dan DPD serta memilih Presiden dan Wakil Presiden secara langsung.
Umat Katolik sebagai bagian dari bangsa Indonesia dan sesuai “jargon” Uskup Mgr Albertus Sugiyopranoto yaitu 100 persen Katolik dan 100 persen Indonesia, diharapkan menggunakan hak politiknya. Dan bahkan, harus berperan penuh mensukseskan pesta demokrasi 5 tahunan ini. Umat Katolik perlu merawat demokrasi sebagai wujud nyata dari cintanya kepada Indonesia.
Rangkuman ini mengemuka pada acara Sarasehan Kebangsaan yang diadakan Forum Masyarakat Katolik Indonesia (FMKI) Kabupaten Klaten di Gedung Ekokapti Klaten pada Jumat (22/12/2023).
Sekretaris FMKI Kabupaten Klaten, Caecilia Heru M menyatakan, Sarasehan Kebangsaan yang diadakan FMKI Klaten ini mengusung tema “Umat Katolik Merawat Demokrasi”. Bertindak sebagai narasumber sarasehan adalah Pengamat Sosial dan juga Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, pengusaha dan penulis, yakni Prof Rhenald Kasali, PhD.
Sedang Sekretariat Panitia Sarasehan Kebangsaan menyampaikan, Sarasehan Kebangsaan ini dihadiri sebanyak 280 peserta.
Mereka berasal dari perwakilan 10 Paroki se Rayon Klaten Raya dan Stasi Senden, serta perwakilan ormas Katolik Klaten. Seperti FMKI, Ikatan Sarjana Katolik (ISKA), Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI), Pemuda Katolik (PK), mahasiswa dan pelajar SLTA Katolik, serta perwakilan FMKI Jawa Tengah.
Wartakita.org mengabarkan, begitu tiba di Gedung Ekokapti, para tamu dan undangan langsung dipersilakan menikmati makan malam dengan soto khas Klaten.
Acara Sarasehan Kebangsaan dimulai pukul 18.00 WIB. Acara yang dipandu oleh Agus Munadi, MC muda spesialis hajatan kejawen ini dimulai dengan menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya. Kemudian dilanjutkan Doa Pembuka oleh perwakilan Orang Muda Katolik (OMK) Paroki Klaten, Bachtiar.
Setelah itu, acara sambutan dari Ketua FMKI Kabupaten Klaten, A Alfrit Maryanto.

Dalam sambutan, aktifis Paroki Ketandan ini menyampaikan, di Klaten telah terbentuk pengurus FMKI periode baru secara definitif. Pengurus FMKI merupakan perwakilan dari ormas-ormas Katolik di Klaten dan bekerja sama dengan Paguyuban Kabid Pelayanan Kemasyarakatan (Pelkem) Paroki se Rayon Klaten Raya, sebagai perwujudan Rumah Bersama Umat Katolik Klaten Raya.
FMKI mempunyai program-program yang diturunkan ke dalam bidang-bidang, yakni Bidang Advokasi dan Hukum, yang mempunyai rencana membantu permasalahan perijinan-perijinan dan aset Gereja.
Bidang Kaderisasi untuk mendampingi orang-orang muda menjadi kader muda Katolik dengan membentuk organisasi atau Paguyuban Siswa Katolik dan Mahasiswa Katolik se Kabupaten Klaten.
Bidang Pemberdayaan Ekonomi yang mempunyai program pendampingan UMKM umat.
Bidang Budaya yang mempunyai program melestarikan budaya, antara lain dengan pelatihan pembawa acara dalam Bahasa Jawa, dan pelatihan karawitan di berbagai paroki.
“Sebagai wadah kegiatan Rasul-Rasul Awam Katolik, maka FMKI Klaten membantu memberi pendidikan politik kepada umat, yaitu dengan mengadakan Sarasehan Kebangsaan dan mengenalkan caleg-caleg Katolik,” katanya.
Acara dilanjutkan dengan sambutan Rama Moderator FMKI Klaten, yaitu Rama Aloysius Gonzaga Luhur Prihadi, Pr dari Paroki Wedi.
Setelah sejumlah sambutan selesai, diperkenalkan Calon Legislatif Katolik dari berbagai Partai Politik, baik tingkat Kabupaten dan Tingkat Provinsi yang akan berkompetisi di Pemilu 2024.

Sarasehan Kebangsaan kali ini menampilkan narasumber Prof Rhenald Kasali, PhD. Sedang bertindak selaku moderator adalah C Andri WD.
Dalam sarasehan ini, Prof Rhenald Kasali memaparkan kilas balik perkembangan sejarah demokrasi di Indonesia. Diawali Pemilu 1997 yang mengakibatkan gelombang reformasi, karena dianggap tidak demokratis. Kemudian masuk ke era reformasi, yang mana diadakan Pemilu tahun 1999, yang sangat damai, demokratis, dan multi partai.
“Sekarang menjadi tugas bersama untuk menjaga kondisi Indonesia, terutama demokrasi selalu dalam kondisi baik. Dengan menolak segala praktek-praktek yang akan mengancam keberlangsungan demokrasi, menjaga tetap berlangsungnya kebebasan bersuara dan berekspresi, netralitas aparat Negara dalam Pemilu, hukum sebagai panglima, serta mencegah perilaku KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme),” terangnya.
Prof Rhenald mengatakan, Pemilu diharapkan menghasilkan pemimpin-pemimpin yang telah teruji. Maka perlu dilihat juga rekam jejak dan kompetensinya. Perlu diwaspadai juga kepentingan-kepentingan luar yang ingin menguasai sumber daya alam (SDA) Indonesia dengan intervensi Pemilu. Perlu dicermati juga peran negatif media sosial yang hanya dikuasai segelintir orang.
“Politik Indonesia harus dibangun dengan tetap dilandasi value (nilai) yakni idealisme dan ideologi, bukan sekadar pragmatis dan kepentingan kelompok,” tandasnya.

Usai pemaparan materi dilanjutkan dengan sesi dialog dan tanya jawab.
Pada sesi 1 ini, ada 3 OMK yang bertanya. Bagus bertanya tentang ancaman demokrasi karena Pemilu marak money politik. Kemudian Reina bertanya mengenai ancaman demokrasi karena hoaks dan intoleransi. Dan Bachtiar bertanya bagaimana mengajak anak muda agar mau terlibat di politik.
Sedang pada sesi 2 ada 4 penanya. Budi dari Paroki Jombor bertanya mengenai adanya KIP, BPJS, Bansos terkait demokrasi atau Pemilu. Yosep bertanya mengenai bahaya AI dalam demokrasi. Suharno dari FMKI Jawa Tengah bertanya soal bahaya oligarki dan penegakan hukum yang timpang. Dan Chris dari Paroki Klaten bertanya mengenai bagaimana membuat umat gereja berubah, mau terlibat dan bagaimana membangun UMKM umat.
Selesai diskusi, acara ditutup dengan doa oleh Ch Sri Andayani dan berkat dari Rama Luhur, serta berfoto bersama.









