Warta Kita.org – Rektor Universitas Widya Mataram (UWM) Yogyakarta Prof. Dr. Edy Suandi Hamid, M.Ec. memberikan sorotan tajam mengenai urgensi transformasi kepemimpinan dalam dunia pendidikan tinggi.
Dalam gelaran Leadership Conference 2026 yang diselenggarakan oleh Asosiasi Pendidikan Tinggi Farmasi Indonesia (APTFI) di Hotel Santika Premiere ICE BSD City pada Sabtu (18/4/2026), Prof. Edy menekankan bahwa masa depan institusi pendidikan sangat bergantung pada kualitas kepemimpinan yang adaptif dan visioner.
Kegiatan bergengsi ini dihadiri oleh sekitar 150 pimpinan Perguruan Tinggi Farmasi anggota APTFI, baik dari institusi negeri maupun swasta di seluruh Indonesia.
Acara dibuka secara langsung oleh Ketua APTFI Prof. Dr. apt. Yandi Syukri, M.Si. yang dalam sambutannya menekankan pentingnya forum ini sebagai wadah memperkuat kapasitas kepemimpinan akademik serta mendorong pengembangan pendidikan tinggi farmasi yang inovatif dan berdaya saing global.
Dalam pemaparannya yang bertajuk “Best Practices in Private University Governance”, Prof. Edy yang juga menjabat sebagai Ketua Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) DIY ini memperingatkan bahaya gaya kepemimpinan “auto pilot” yang hanya bersifat formalistik.
Ia menyatakan, pemimpin yang hanya menjalankan rutinitas administratif seperti menandatangani surat dan memimpin rapat tanpa memberikan arah strategis akan membuat institusi tertinggal.
“Kualifikasi seorang pemimpin bukan hanya soal menduduki jabatan, tetapi harus memiliki karakter kepemimpinan, integritas, kompetensi, komitmen, dan jaringan (networking) yang luas,” ujar mantan Ketua Forum Rektor Indonesia tersebut.
Ia menambahkan, pemimpin harus proaktif menganalisis data lokal maupun global untuk memastikan keberlangsungan institusi di tengah persaingan yang semakin ketat.
Selain membedah tata kelola, Prof. Edy juga menyinggung tantangan spesifik di sektor farmasi.
Ia menegaskan, profesi farmasi tidak akan terdisrupsi sepenuhnya oleh kecerdasan buatan (AI), melainkan akan bertransformasi menjadi lebih klinis dan berorientasi pada pelayanan pasien.
Konferensi hari pertama ini juga menghadirkan Dirjen Pendidikan Tinggi Prof. Dr. Khairul Munadi yang membahas mengenai tata kelola universitas. Rangkaian acara akan berlanjut pada hari kedua atau Minggu (19/4/2026) dengan menghadirkan narasumber pakar lainnya, yakni Dekan Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UGM Prof. Dr. Didi Achjari, S.E., M.Com., Ak., CA.
Partisipasi aktif para Dekan, Wakil Dekan, dan pimpinan institusi farmasi dalam forum ini diharapkan mampu melahirkan paradigma baru dalam pengelolaan perguruan tinggi yang lebih substansif dan responsif terhadap perubahan zaman.









