WartaKita.org – Dampak pandemi covid-19 ini membuat banyak orang yang kehilangan pekerjaan dan terpaksa menjadi pengangguran.
Dan untuk mendapatkan penghasilan agar mereka tetap bertahan dan bisa memenuhi kebutuhan hidupnya , mereka pun mencoba berbagai cara.
Seperti yang dilakukan Wardigyo (48), pedagang sempol yang biasa mangkal di pinggir Jalan Prof Yohanes, Kelurahan Terban, Kecamatan Gondokusuman, Kota Yogyakarta.
Jualan sempol menjadi mata pencaharian utama Wardigyo untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Usaha ini dia rintis sejak 2 tahun yang lalu.
Wardigyo berjualan sempol karena sudah tidak berkerja lagi di Mall Galeria. Dia bekerja di Mall Galeria Yogyakarta selama 21 tahun. Pekerjaannya adalah merawat tanaman hias yang ada di mall tersebut.
Setelah dia tidak berkerja lagi di mall, Wardigyo lalu mencoba untuk merintis usaha kecil-kecilan seperti cilok dan sempol.
Untuk mencapai pada tahap ini, tentu bukan hal yang mudah dan memiliki banyak hambatan. Dulu sebelum ada pandemi covid 19, Wardigyo berjualan di sejumlah SD dan SMP di Kota Yogya.
Namun karena adanya pandemi covid-19, semua sekolah melakukan belajar mengajar dari rumah masing-masing atau online. Dan itu menjadi hambatan bagi Wardigyo, karena dia tidak bisa berjualan lagi. Ditambah lagi dengan adanya penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Dia harus berhenti berjualan.
Setelah diterapkannya new normal, Wardigyo mencoba menjalankan usahanya lagi. Karena sekolah masih belajar online, maka dia mencoba berjualan di pinggir jalan.
Pada awal berjualan di pinggir jalan itu, dia sangat ragu untuk mendapatkan penghasilan atau peluang untuk berkembang. Tetapi dengan tekad yang kuat untuk mencoba dan melangkah maju, akhirnya dia menjalankan usahanya dari nol lagi.
Di masa pandemi covid-19 ini, Wardigyo berjualan dari pukul 14.00 siang sampai pukul 18.00 petang. Ini karena dia belum berani untuk berjualan lama-lama. Padahal, dia sudah berencana untuk berjualan sampai malam.
Di pagi hari, dia manfaatkan waktu untuk mencari bahan dan menggiling adonan serta membentuk sempol dan mengukusnya. Sehingga sempol dapat bertahan lama dan tidak mudah basi.
Penghasilan yang dia dapatkan dalam sehari tidak menentu. Kadang ya lumayan, terkadang ya hanya balik modal saja.
“Di awal-awal saya berjualan, dalam sehari saya hanya dapat Rp10 ribu. Meski begitu, saya tetap bersyukur karena masih diberi rejeki. Tetapi sekarang, alhamdulilah sudah banyak peminatnya dan pendapatan saya terus bertambah,” tutur Wardigyo.









