WartaKita.org – Konferensi Cabang (Konfercab) XVI Nahdlatul Ulama Kabupaten Klaten 2020 digelar selama 2 hari (1 dan 15 Februari 2020) di 2 Pondok Pesantren (PP) yang berbeda.
Pada Sabtu (1/2/2020), Konferensi dilaksanakan di PP Al Muttaqien Pancasila Sakti yang dihadiri oleh Pengurus Cabang (PC) NU, Majelis Wakil Cabang (MWC) NU, dan Ranting NU se Kabupaten Klaten. Konferensi pada kesempatan ini membahas agenda Pleno Tata Tertib dan Sidang-sidang Komisi yang meliputi Komisi Bahtsul Masail, Komisi Program Kerja, Komisi Rekomendasi, dan Komisi Organisasi.
Sedang pada Sabtu (15/2/2020), Konferensi diadakan di PP Al Manshur Popongan dengan agenda Pleno Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) PCNU dan Lembaga NU Klaten masa khidmat 2014-2019 dan pemilihan Rois Syuriah dan Ketua Tanfidziyah PCNU Klaten masa khidmat 2019-2024 beserta pemilihan tim formatur.
Konfercab XVI Nahdlatul Ulama Kabupaten Klaten 2020 ini mengusung tema “Meneguhkan Kemandirian Jam’iyyah dan Jama’ah menuju Tercapainya Mas’ulliyah Diniyyah dan Mas’ulliyah Wathoniyyah”.
Ketua Tanfidziyah PCNU Klaten H Mujiburrahman menjelaskan, Konfercab XVI ini diadakan sehubungan dengan telah berakhirnya Kepengurusan Nahdlatul Ulama Kabupaten Klaten masa khidmat 2014 – 2019. Maka, diadakanlah evaluasi program dan perencanaan program untuk masa khidmat 5 tahun mendatang, serta pemilihan pengurus baru (Rois Syuriah dan Ketua Tanfidziyah PCNU Klaten) masa khidmat 2019-2024.
“Tanggung jawab kita selama 5 tahun kepengurusan telah kita kerjakan, yaitu terkait dengan Mas’ulliyah Diniyyah (agama) dan Mas’ulliyah Wathoniyyah (kebangsaan). Dan itu sudah kita upayakan sebaik mungkin. Tetapi jangan lupa, bahwa kita juga harus bertanggung jawab untuk menghidupi diri kita sendiri. Kita tidak boleh tergantung dengan siapa pun,” katanya.
H Mujiburrahman menyampaikan, untuk membiayai dirinya sendiri, maka di NU ada program Koin Berkah NU.
“Di setiap warga NU itu ada Kotak Berkah NU. Maka kalau ada jujul pasar (pengembalian dari belanja), jujul rokok kita masukan di situ (di kotak). Dan alhamdulillah cukup berhasil. Selama 5 tahun dikumpulkan hampir menembus Rp 7 milyar,” ujarnya.
H Mujiburrahman menyatakan, Koin Berkah NU ini terbukti memberi manfaat bagi jama’ah dan masyarakat.
“Sekarang di setiap ranting (meski belum semuanya), Koin Berkah NU sudah dapat memberikan kemanfaatan bagi masyarakatnya. Baik itu orang jompo, anak yatim, dan lainnya. Selain itu, Koin Berkah NU juga untuk pengembangan pendidikan dan pondok pesantren,” paparnya.
Menurut H Mujiburrahman, tantangan NU ke depan masih pada persoalan keagamaan dan kebangsaan. Dalam persoalan keagamaan, NU akan terus menjaga kearifan lokal dalam berdakwah. Karena di satu sisi, ada pihak lain yang mudah “mengkafirkan” orang lain ketika mereka berbeda pendapat.
“Sedang dalam persoalan kebangsaan, masih ada pihak yang menginginkan berdirinya negara Islam dengan sistem khilafah. Ini menjadi ancaman bagi kita. Karena Indonesia adalah negara kesepakatan yang berdasarkan Pancasila. Maka, NKRI ini harus dijaga oleh seluruh masyarakat Indonesia,” tandasnya.









