Menilik Manfaat Skema 4-Day Work Week

Sumber: Spiceworks

BARU – BARU INI, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengemukakan kemungkinan penerapan skema compress working schedule pada perusahaan BUMN.

Skema ini memungkinkan pegawai BUMN untuk bekerja empat hari saja dalam seminggu, dengan syarat pegawai sudah bekerja 40 minggu dan dilakukan maksimal dua kali dalam satu bulan. Dengan skema tersebut, artinya pegawai bisa berlibur tiga hari dalam seminggu.

Bacaan Lainnya

Program semacam Compress Working Schedule ternyata sudah mulai diterapkan di banyak negara sejak beberapa tahun terakhir. Namun lebih dikenal luas sebagai skema 4-Day Work Week.

Penerapan model ini menjadi salah satu isu hangat di dunia ketenagakerjaan dan pengelolaan sumber daya manusia. Model ini menjadi salah alternatif jawaban atas tuntutan masyarakat modern saat ini yang semakin memperhatikan keseimbangan antara bekerja dan menikmati waktu bebas (work–leisure balance).

Bahasan kali ini mencoba untuk menjelaskan rasionalisasi yang mendasari skema 4-Day Work Week.

Potensi peningkatan optimalisasi produksi karena 4-Day Work Week

Esensi kehadiran tenaga kerja (pekerja) dalam dunia usaha adalah menjadi salah satu sumber daya (input) untuk menggerakkan produksi. Produksi yang berkelanjutan akan mendorong penciptaan keuntungan dan perkembangan dunia usaha.

Setiap perusahaan, yang menjadi elemen dunia usaha, mengharapkan setiap tenaga kerja mampu berkontribusi optimal bagi produksi perusahaan. Artinya, setiap tenaga kerja dapat memproduksi sejumlah barang tertentu pada sejumlah waktu tertentu yang diberikan (dengan bahan dan teknologi tertentu yang tersedia).

Dari sisi tenaga kerja yang bekerja untuk perusahaan, optimalitas kerja seorang tenaga kerja tidak semata-mata dipengaruhi oleh kemampuan dan keterampilan saja. Namun juga pada bagaimana perusahaan mengenali dan memenuhi kebutuhan tenaga kerja dalam rangka mencapai kesejahteraan.

Dalam konteks ketenagakerjaan, cara seorang pekerja untuk mewujudkan kesejahteraan, secara teori, dapat dibagi menjadi tiga model, yaitu: (1) menghabiskan (hampir) seluruh waktunya untuk bekerja, (2) menghabiskan (hampir) seluruh waktunya untuk menikmati waktu bebas, dan (3) mengkombinasikan antara bekerja dan menikmati waktu bebas.

Model pertama dilakukan oleh orang yang sangat gila kerja (workaholic). Model yang kedua dilakukan oleh orang yang sangat suka bersantai. Model pertama dan kedua ini menjadi kasus unik di tengah masyarakat. Sementara itu, model ketiga adalah yang paling umum dan banyak kita temui di dunia nyata.

Mari kita berfokus pada model ketiga yang cenderung menjadi pilihan sebagian besar masyarakat saat ini.

Ketika kita lebih jauh memperhatikan model ketiga tersebut dan menempatkannya pada budaya kerja masyarakat saat ini, terdapat fakta menarik bahwa generasi masa kini cenderung menuntut alokasi bekerja lebih kecil dan alokasi untuk menikmati waktu bebas yang semakin besar agar menjadi sejahtera (bahagia).

Semakin banyak pribadi yang menyadari bahwa kesejahteraan tidak hanya bisa diwujudkan dengan menghabiskan banyak waktu untuk bekerja (tentunya dengan kompensasi berupa imbalan yang besar). Kesejahteraan juga bisa diwujudkan dengan adanya waktu bebas untuk menjamin istirahat yang cukup, kesempatan untuk melakukan rekreasi atau berbagai bentuk aktivitas healing, serta memelihara kebersamaan dengan keluarga.

Alokasi untuk menikmati waktu bebas yang memadai memungkinkan seorang pekerja untuk hidup sehat, terhindar dari stress akibat jam aktivitas kerja,  serta mewujudkan hubungan yang harmonis dengan keluarga terdekat. Situasi positif tersebut menjadi pendukung bagi pekerja tersebut untuk bekerja dengan lebih gembira, fokus, teliti, dan produktif. Hal ini selanjutnya dapat mengoptimalkan kapasitas produksi di perusahaan dimana yang bersangkutan bekerja.

Skema 4-Day Work Week berupaya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat untuk menikmati waktu bebas yang lebih besar. Kajian di sejumlah negara telah menunjukkan bahwa penerapan 4-Day Work Week mampu meningkatkan produktivitas perusahaan.

Sebagai contoh, sebagaimana diberitakan Gartner dalam “The 4-Day Work Week, Explained”. Percobaan penerapan 4-Day Work Week di Inggris pada lebih dari 60 perusahaan teridentifikasi mengurangi stress yang dialami pekerja dan mempertahankan talent dimilikinya, selanjutnya, mendukung kenaikan pendapatan rata-rata perusahaan sebesar 1,4 persen.

Sementara itu, World Economic Forum dalam tulisan “Surprising benefits of four-day working week” menyatakan bahwa percobaan penerapan di Valencia (Spanyol) yang melibatkan 360 ribu pekerja menunjukkan bahwa skema 4-Day Work Week dirasakan mengurangi tingkat stress pekerja serta meningkatkan kebahagiaan dan kepuasan kerja mereka.

Dalam artikel tersebut, diungkapkan pula penerapan skema ini mendorong produktivitas pekerja pada sejumlah percobaan yang dilakukan pada sejumlah perusahaan di Inggris dan Jepang.

Peran 4-Day Work Week dalam perbaikan kondisi lingkungan

Selain menciptakan prakondisi yang membuat pekerja semakin produktif, skema 4-Day Work Week juga memberikan dampak positif bagi lingkungan. Dalam hal ini, skema empat hari kerja tersebut berpotensi mengurangi proses pergerakan masyarakat (pekerja) menuju dan dari tempat kerja.

Jika hal ini terwujud, maka penggunaan bahan bakar dan penciptaan emisi karbon karena kendaraan juga dapat dikurangi. Jika hal ini dapat terwujud secara konsisten, dalam jangka panjang, eksploitasi lingkungan untuk pemenuhan kebutuhan bahan bakar dan polusi lingkungan akibat emisi karbon dari aktivitas transportasi juga dapat dikurangi. Hal ini akan menjadi sumbangsih positif bagi peningkatan kualitas lingkungan.

Stephanus Eri Kusuma

Dosen Program Studi Ekonomi Universitas Sanata Dharma

 

Pos terkait