WartaKita.org – Ada ungkapan “a blessing in disguise”. Atau selalu ada berkat yang tersembunyi di balik suatu peristiwa yang terjadi.
Pandemi Covid-19 yang terjadi mulai Maret 2020 lalu nampaknya juga menjadi “berkat” bagi Keluarga Besar Yoso Suparno yang tinggal di Desa Kalikebo RT 03 RW 10, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Klaten ini.
Karena pandemi, para cucu Mbah Yoso Suparno yang masih kuliah itu terpaksa belajar daring. Maka, muncullah ide untuk membuat usaha angkringan di salah satu rumah kosong milik keluarga besar yang berada di Jalan Kalikebo – Klaten. Ini dilakukan untuk mengisi waktu luang mereka di masa pandemi.
Dan seiring perjalanan waktu, respon masyarakat atas Angkringan Mbah Yoso ini semakin bagus. Karenanya, angkringan tersebut kemudian dikelola secara lebih serius dengan tambahan menu dan hiburan, perubahan jam buka, dan lainnya.
Manager Angkringan Mbah Yoso, Agus Hardaya, saat ditemui pada Selasa (4/1/2022) menyampaikan, nama angkringan dipilih agar orang tidak takut datang (ke angkringannya). Karena kalau pakai nama angkringan, terkesan harganya murah. Harganya merakyat.
“Maka konsep kita, dengan harga angkringan, pelanggan kita bawa ke tempat yang nyaman. Seperti tempat joglo ini. Yang penting pelanggan nyaman. Untuk harga, bisa dilihat dan dibandingkan dengan harga yang di pinggir jalan,” katanya.
Agus Hardaya menjelaskan, angkringan ini dibuka pada awal pandemi, atau Maret 2020. Alasannya, karena dia kasihan dengan banyaknya pengangguran di sekitar mereka. Makanya mereka kemudian merekrut lima tenaga yang bekerja secara shift.
“Diantara tenaga angkringan itu ada yang suaminya buruh, tidak ada kerjaan. Maka, istrinya diajak bekerja di sini. Ada juga tukang sound system. Karena pandemi, praktis usahanya macet. Maka, mereka diajak bergabung, dan sampai sekarang masih ikut dengan angkringan. Mereka masuk shift malam. Sehingga kalau siang masih bisa kerja,” ujarnya.

Dosen STIA Madani Klaten ini menyatakan, dari segi menu, memang menu khas angkringan yang disajikan. Seperti nasi kucing, sate-satean, gorengan, aneka minuman, dan sebagainya. Berbagai menu ini dimasak sendiri. Biar makanannya higienis dan bersih. Otomatis, makanan yang dijual disini juga halal karena dimasak sendiri.
Karena permintaan pelanggan, maka sekarang ada menu tambahan. Diantaranya ayam penyet, kwetiau, bakmi godog, cap jay, dan lain-lain.
“Kita juga menerima pesanan nasi box. Jadi konsepnya memang angkringan, tetapi juga mengikuti pelanggan. Maka sekarang ini banyak pelanggan yang booking tempat untuk sekadar meeting, rapat kecil, reuni, atau pertemuan komunitas gowes. Semuanya kita layani dengan senang hati,” terangnya.
Agus Hardaya mengatakan, awalnya, angkringan buka dari pukul 16.00. Tetapi seiring perkembangan, pelanggan minta agar angkringan dibuka lebih awal, yaitu pukul 10.00 WIB.
Dan mulai tahun 2022 ini, khusus hari Sabtu dan Minggu, angkringan buka pukul 06.00 pagi, dengan tambahan menu soto. Karena kebanyakan mereka yang gowes itu suka soto. Angkringan buka sampai pukul 22.00 malam.
Agus menambahkan, untuk membuat orang agar semakin tertarik ke angkringan, maka diadakan live musik seminggu empat kali. Mulai pukul 20.00 sampai 22.00 WIB. Live musik digelar setiap Senin malam, Selasa malam, Jumat malam, dan Sabtu malam.
“Di angkringan ini, justru mereka yang nyanyi itu malah membayar. Karena banyak komunitas yang suka nyanyi. Maka kita siapkan player. Per lagu Rp6.000 untuk playernya. Otomatis angkringan juga akan ramai. Pelanggan juga bisa menyanyi sesuka dia. Kita siapkan 3 player, biar pelanggan nggak jenuh,” tandasnya

Menu andalan angkringan ini adalah wedang rempah yang dipatok dengan harga Rp6.000 saja. Karena benar-benar harga angkringan. Untuk ayam penyet Rp10.000. Sedang bakmi godog dan kwetiau Rp12.000.
“Padahal kalau di pinggir jalan, harganya bisa lebih dari itu. Tetapi yang penting pelanggan nyaman. Dengan harga segitu kita masih untung kok. Bisa membayar karyawan. Kalau ada lebihnya, kita bisa menikmati,” paparnya.
Agus mengemukakan, menu wedang rempah paling laris. Sehari bisa lebih dari 20 gelas. Karena itu, untuk wedang rempah kadang dibatasi. Biar pelanggan nanti ke sini lagi. Ini adalah bagian dari strategi marketing.
Untuk menu makanan andalan adalah kwetiau goreng. Rasanya mantap. Sambal ayam penyetnya juga oke.
Kedepan, Angkringan Mbah Yoso ini akan melakukan pengembangan. Mereka sudah ada rencana mau buka angkringan khusus kopi dan steak. Tempatnya di Joglo Mbah Yoso.
“Kita sudah rencanakan. Paling 2 atau 3 bulan lagi. Kalau untuk persiapan menunya sudah siap. Tinggal tempatnya,” katanya.
Sementara itu mantan Anggota DPRD Kabupaten Klaten, Sunarto menyambut baik berkembangannya usaha Angkringan Mbah Yoso ini.
“Saya senang, karena keberadaan Angkringan Mbah Yoso ini memberi manfaat pada banyak orang. Bisa memberi rejeki pada warga sekitar. Karena prinsip kita, hidup itu harus bermanfaat bagi orang lain, syukur pada banyak orang,” ucap kakak pertama dari Agus Hardaya ini.










Tetap lancar2 dan sukses terus ……👍🙏 semakin maju dan berkembang…….. Nikmat dan Lezat….. Halal….lagi