Lebaran: Momentum Cermati Kapabilitas Keuangan

Kapabilitas keuangan menjawab pertanyaan “semampu dan terampil apa aku menerapkan prinsip pengelolaan keuangan yang baik dalam kehidupanku sehari-hari?”

LEBARAN merupakan salah satu momentum perayaan yang paling ditunggu oleh banyak masyarakat di Indonesia.

Selain memiliki makna religiusitas yang mendalam, lebaran juga merupakan sebuah fenomena sosial yang menghidupi tradisi untuk mengedepankan budaya kekeluargaan dan solidaritas sebagai ciri khas bangsa Indonesia.

Bacaan Lainnya

Tradisi ini mencakup mudik (kembali ke kampung halaman), silaturahmi, makan ketupat dan berbagi hidangan, serta membagi uang kepada anak-anak. Di balik euforia perayaan lebaran, kapabilitas keuangan menjadi sebuah aspek yang penting untuk diperhatikan supaya tidak muncul kesulitan keuangan setelah lebaran.

Kapabilitas versus literasi keuangan

Kapabilitas keuangan menjawab pertanyaan “semampu dan terampil apa aku menerapkan prinsip pengelolaan keuangan yang baik dalam kehidupanku sehari-hari?”

Secara sederhana, kapabilitas keuangan dapat didefinisikan sebagai kombinasi pengetahuan, sikap dan perilaku dalam mengelola keuangan. Kapabilitas keuangan, mengacu pada Microfinance Opportunities mencakup 3 area utama, yaitu:

  1. Perilaku dasar pengelolaan keuangan.

Area ini mencakup praktek hidup sehari-hari yang kita lakukan terkait pengelolaan keuangan, seperti kebiasaan merencanakan keuangan, menabung, menggunakan uang, meminjam, menghasilkan uang, berinvestasi, serta mengakses lembaga keuangan.

  1. Karakteristik personal terkait pengelolaan uang.

Area ini mencakup sikap pribadi dalam mengelola uang seperti kehati-hatian dalam menggunakan uang, kepercayaan diri membuat keputusan keuangan, dan sikap antisipatif terhadap kondisi di masa depan.

  1. Hubungan-hubungan yang menyertai pengelolaan keuangan.

Area ini mencakup kemandirian keuangan dan semangat solidaritas/komunalitas yang mendasari penggunaan uang.

Lalu, apa bedanya kapabilitas keuangan dari literasi keuangan?

Literasi keuangan menjawab pertanyaan sejauh mana aku tahu dan paham tentang prinsip pengelolaan keuangan yang baik?” Jadi, orang yang kapabel secara keuangan tidak hanya tahu atau paham konsep pengelolaan keuangan dasar (seperti menyusun anggaran rumah tangga, mengalokasikan pengeluaran, menabung, berinvestasi, dan mengantisipasi kondisi darurat).

Pertama-tama orang yang memiliki kapabilitas keuangan mampu mengenali kondisi keuangan yang dialaminya serta bisa memprediksi risiko-risiko yang diterima dari keputusan-keputusan keuangan yang akan diambilnya. Selanjutnya, orang yang kapabel secara keuangan mengambil keputusan keuangan secara sadar dengan mempertimbangkan kondisi keuangan rumah tangganya, perhitungan risiko dan alternatif potensial, serta prinsip-prinsip keuangan dasar.

Mengelaborasi aspek kapabilitas keuangan dalam konteks lebaran

Idealnya, orang yang kapabel secara keuangan sudah merencanakan jauh-jauh hari rencana kegiatan lebaran yang akan dilakukannya, mulai dari tradisi mudik hingga tradisi lainnya. Dalam hal ini, ada dana yang sudah disiapkan atau dikumpulkan untuk mengantisipasi kebutuhan dana untuk lebaran. Meskipun demikian, seringkali ada kondisi eksternal tak terduga yang mempengaruhi alokasi anggaran, seperti pendapatan yang tidak sesuai dengan target atau biaya hidup yang meningkat.

Dalam kondisi ini, orang yang kapabel secara keuangan peka terhadap kondisi keuangan rumah tangganya dan segera melakukan penyesuaian terhadap anggarannya berdasarkan skala prioritas. Penyesuaian ini bisa beragam dan mungkin bisa mempengaruhi rencana untuk menyelenggarakan tradisi lebaran.

Hal ini bukan berarti kita meniadakan rencana penyelenggaraan tradisi lebaran yang akan kita lakukan, namun penyelenggaraannya bisa kita sederhanakan tanpa mengurangi maknanya bagi diri kita. Sebagai contoh, kita gunakan moda transportasi mudik yang lebih efisien, pengurangan jumlah kunjungan silaturahmi secara langsung, penyederhanaan menu hidangan, atau penggantian ‘uang lebaran’ dengan bingkisan lebaran yang terjangkau.

Selamat merayakan hari lebaran bagi umat yang merayakan dan semangat membangun kapabilitas keuangan untuk mewujudkan hidup sejahtera.

(Stephanus Eri Kusuma, Dosen Program Studi Ekonomi Universitas Sanata Dharma)

Pos terkait