PAUS FRANSISKUS merilis Seruan Apostolik baru, Laudate Deum, kepada semua orang yang berkehendak baik terkait krisis iklim pada tanggal 4 Oktober 2023. Dokumen ini dimaksudkan untuk menindaklanjuti ensiklik Paus Fransiskus tahun 2015 yaitu Laudato Si.
Laudato Si dan Laudate Deum
Laudato Si adalah ensiklik kedua Paus Fransiskus yang diperkenalkan pada tahun 2015.
Mengutip ulasan Komisi Kataketik Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) berjudul “Ajaran Paus Fransiskus, Laudato Si”, melalui Laudato Si, Paus mengritik konsumerisme dan pembangunan yang tak terkendali, menyesalkan terjadinya kerusakan lingkungan dan pemanasan global, serta mengajak semua orang di seluruh dunia untuk mengambil aksi global yang terpadu dan segera.
Kemunculan Laudate Deum bertolak dari pandangan bahwa tindak lanjut upaya penanganan perubahan iklim belum cukup berjalan signifikan.
Merujuk pada tulisan Catholic Agency for Overseas Development “Laudate Deum: Your questions answered on Pope Francis Apostolic Exhortation”, perwakilan dari 190 negara telah bertemu setiap tahun sejak Laudato Si diterbitkan untuk membahas isu perubahan iklim. Meskipun ada beberapa kemajuan, prinsip-prinsip yang disepakati belum dilaksanakan, dan kepentingan nasional terlalu sering didahulukan daripada kebaikan bersama. Di tingkat mikro, kepentingan individu dan kepuasan diri yang mengabaikan perhatian terhadap bumi juga masih mengemuka.
Laudate Deum merupakan seruan mendesak untuk mengatasi krisis iklim. Manusia perlu menyadari bahwa waktu terus berjalan dan kerusakan lingkungan telah terjadi. Gejala-gejala seperti fenomena cuaca ekstrem, panas yang tidak normal, dan kekeringan telah banyak terjadi dalam 1 dekade terakhir. Paus Fransiskus menyatakan bahwa krisis iklim adalah nyata dan disebabkan oleh aktivitas manusia.
Menurut Paus, hal yang diperlukan tidak hanya sekadar mencari solusi teknologi yang membawa kemajuan ekonomi. Yang terutama perlu diperhatikan adalah kesadaran manusia bahwa dunia bukanlah objek eksploitasi sehingga perlu dihindarkan dari penggunaan yang tidak terkendali dan ambisi yang tidak terbatas.
Kritik dan alternatif terhadap model pembangunan saat ini
Salah satu bagian dalam dokumen “Laudato Deum: Seruan Apostolik Paus Fransiskus kepada Semua Orang yang Berkehendak Baik tentang Krisis Iklim” mengungkap bahwa cara pandang pembangunan yang terlalu teknokratis menjadi salah satu basis terhadap proses terjadinya kerusakan lingkungan hidup yang terjadi saat ini. Cara pandang ini, pada intinya, menekankan seolah-olah kenyataan, kebaikan, dan kebenaran dapat mengalir sendirinya dari kekuatan teknologi dan ekonomi.
Hal itu ditambah dengan belum cukupnya kebijaksanaan dalam menggunakan teknologi. Akibatnya, muncul obsesi dan ambisi untuk mengembangkan teknologi tanpa batas yang memacu kemajuan ekonomi dan kepuasaan diri atau pihak tertentu. Hal tersebut berimplikasi pada penguasaan teknologi dan investasi yang digenjot demi pertumbuhan ekonomi dan kepuasan pihak-pihak tertentu.
Sementara itu, kebutuhan untuk menjaga alam diabaikan. Eksploitasi alam ditolerir dengan alasan kemajuan ekonomi dan kesejahteraan. Sebagai contoh, teknologi mensyaratkan ketersediaan sumber daya alam seperti litium, silikon, berbagai jenis sumber bahan bakar yang sifatnya terbatas. Apabila penggunaannya wajar, hal ini mungkin tidak menimbulkan masalah dalam jangka panjang.
Namun, hal yang menjadi permasalahan besar adalah cara pandang yang mendasari obsesi kemajuan teknologi dan ekonomi, di mana realitas yang bukan manusia (termasuk alam) hanyalah menjadi sumber daya yang melayani kepuasan manusia. Jika ini yang terjadi, alam hanya menjadi objek yang bisa dengan bebasnya dieksploitasi.
Di tingkat individu dan keluarga kita, masih banyak yang berorientasi pada pemenuhan kepuasan pribadi yang difasilitas teknologi sehingga memicu perilaku-perilaku tidak ramah lingkungan.
Di tingkat global, ada tren menekankan keterpenuhan diri, nasionalisme, proteksionisme, individualism telah memicu berbagai konflik antar negara, dan kemudian mempengaruhi pola penggunaan teknologi dan energi serta kerusakan bumi.
Ambisi untuk mencapai kemajuan teknologi dan ekonomi tanpa disertai perhatian terhadap alam bisa menjadi bumerang bagi keberlanjutan hidup manusia.
Berseberangan dengan cara pandang teknokratis tersebut, ada cara pandang alternatif yang melihat dunia tidak hanya sebatas entitas yang melayani. Menurut cara pandang ini, alam bukanlah objek eksploitasi, penggunaan yang tidak terkendali, dan ambisi yang tanpa batas. Alam bukan hanya sebagai ruang eksperimen untuk proyek kemajuan manusia semata. Prinsip yang perlu dipegang, menurut cara pandang alternatif ini, adalah manusia menjadi bagian dari alam dan perlu membangun harmoni dengan alam. Cara pandang inilah yang lebih sesuai untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan, pembangunan yang memenuhi kebutuhan hidup masa sekarang dengan mempertimbangkan pemenuhan kebutuhan hidup generasi mendatang.
Dalam praktek individu dan keluarga kita, marilah kita mulai dengan membangun kesadaran untuk membangun sikap bijak terhadap penggunaan teknologi dan energi serta memperhatikan kelestarian bumi. Lakukan dengan hal-hal kecil seperti tidak mengkonsumsi energi secara berlebihan, mengolah limbah rumah tangga menjadi energi atau produk alternatif, atau membatasi mobilitas dengan kemdaraan yang boros energi. Bagi industri, gunakanlah teknologi yang ramah lingkungan dan terapkan produksi yang berkelanjutan.
Dalam konteks global, perlu dibangun konsolidasi multilateral yang mendorong kepedulian dan solidaritas global untuk semakin memperhatikan bumi dan meminimalkan ambisi untuk menjadi yang terbesar dan terkuat antara satu dan yang lainnya.
Mari kita bersama dipanggil untuk mengubah masyarakat melalui tindakan individu, keluarga, dan komunitas kita, serta menyerukan kepada berbagai pihak yang berkuasa untuk bersama menyelamatkan bumi.
Stephanus Eri Kusuma
Dosen Program Studi Ekonomi Universitas Sanata Dharma









