Warta Kita.org – Tim Pelayanan Keutuhan Ciptaan dan Lingkungan Hidup (KCLH) Paroki Santa Maria Bunda Kristus Wedi, Kabupaten Klaten mengadakan kegiatan “Tapa Ngrame Sedulur Alam” di Balai Mandala Gereja Paroki Wedi pada Minggu (8/3/2026) pagi.
Koordinator Tim Pelayanan KCLH Paroki Wedi Lukas Awi Tristanto menyampaikan, kegiatan “Tapa Ngrame Sedulur Alam” ini bertujuan untuk pertama, terjadinya pembelajaran bersama tentang spiritualitas ekologis dalam semangat Ensiklik Laudato Si’. Kedua, menghidupkan semangat Ensiklik Laudato Si’ dalam hidup menggereja dan memasyarakat. Dan ketiga, terbentuknya Paguyuban KCLH “Santo Fransiskus Asisi” Paroki Wedi.
“Kegiatan “Tapa Ngrame Sedulur Alam” ini mengusung tema Merawat bumi dalam perspektif Ensiklik Laudato Si’. Sedang pesertanya perwakilan dari lingkungan, paguyuban, yayasan pendidikan, tarekat hidup bakti, tim pelayanan, ketua bidang, dan umat peminat isu ekologi,” katanya.
Sedang Kabid Pelayanan Kemasyarakatan Paroki Wedi Thomas Tamtama mengapresiasi kegiatan “Tapa Ngrame Sedulur Alam” ini.
“Setahu saya, ini adalah kegiatan pertama kali yang diadakan Tim Pelayanan KCLH Paroki Wedi, dan mendapat tanggapan yang baik dari umat. Semoga kegiatan ini memberi manfaat bagi kita semua, utamanya dalam upaya merawat lingkungan di sekitar kita,” ujarnya.
Kegiatan “Tapa Ngrame Sedulur Alam” ini menampilkan narasumber Pastor Paroki Wedi Rama Basilius Edy Wiyanto, Pr.
Rama Edy menyampaikan materi bertajuk “Pertobatan Ekologis”.
Dalam paparan Rama Edy menjelaskan, dalam konteks Laudato Si’, pujian pada Tuhan dilaksanakan dalam konteks krisis ekologi dan perjuangan mewujudkan semesta menjadi satu kesatuan hidup manusia yang terus dirawat dan ditumbuhkembangkan. Bumi adalah saudari yang berbagi hidup.
“Karenanya, Bapa Puas Fransiskus menyerukan: (saat ini) bumi saudari kita menjerit! Dan ironisnya: saudaranya sendiri yang menjadi penyebab hadirnya jeritan kepedihan. Manusia merusak semesta. Dan perusakan (semesta) ini adalah dosa. Maka, butuh pertobatan,” ungkap rama.

Rama Edy menegaskan, sebagai bentuk pertobatan, maka manusia perlu merubah perilaku mereka. Dari konsumsi menjadi pengorbanan, dari keserakahan menjadi murah hati, dari pemborosan menjadi berbagi.
“Sebab barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayananmu. ( Mat 20: 25-26). Maka, tanggungjawab manusia dan saudarinya (semesta) adalah meneruskan karya penciptaan. Tanggung jawab ini dilandasi keyakinan bahwa alam tidak hanya menyatakan Allah, tetapi juga merupakan tempat kehadiran Allah,” terang rama.
Rama Edy menyatakan, kesadaran dan perjuangan ekologi perlu masuk dalam pengembangan diri.
“Hal itu bisa diwujudkan dalam penghormatan untuk kehidupan, upaya dan kesadaran tentang keberlanjutan dalam hidup, perjuangan demi keadilan dan perdamaian, serta perayaan hidup yang penuh sukacita,” papar rama.
Rama menambahkan, Yubelium Santo Fransiskus Asisi berlangsung dari 10 Januari 2026 sampai 10 Januari 2027.
Umat beriman diundang untuk menjadikan Fransiskus sebagai contoh dalam mengikuti Kristus yaitu: hidup lebih dekat dengan Tuhan, meneladani kesederhanaan, kerendahan hati dan kasih, serta menjadi pembawa damai di keluarga, lingkungan dan masyarakat
Tahun Yubileum Fransiskan ini merupakan undangan bagi dunia untuk menjadi pembawa damai: damai dengan Tuhan, damai dengan sesama, dan dengan ciptaan.
Dalam kesempatan itu, Rama Edy mengajak umat untuk merawat lingkungan di sekitarnya, dan memanfaatkan lahan kosong atau terlantar untuk menumbuhkan kemandirian.
“Saya mengajak umat untuk mengamati lingkungan di sekitarnya. Kalau ada lahan kosong, mari kita tanami, mari kita manfaatkan. Dari apa yang kita tanam, pasti akan tumbuh, dan menghasilkan. Hasilnya, kita kelola bersama. Prinsipnya, kita harus saling bantu, kita harus saling peduli, sehingga tumbuh kemandirian. Dana yang ada di APP (Aksi Puasa Pembangunan) bisa dimanfaatkan untuk kegiatan itu,” ajak rama.
Ada yang menarik dalam kegiatan ini. Peserta diminta untuk berkontemplasi dan mengamati seputar apa yang ada di kawasan Gereja Paroki Wedi. Selanjutnya, peserta dibagi kedalam 10 kelompok untuk men-sharing-kan kontemplasi dan pengamatannya, menyampaikan perasaannya, dan merumuskan gerakan yang akan mereka lakukan.









