WartaKita.org – Pembangunan desa berbasis pariwisata menjadi salah satu strategi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa dan mengurangi tingkat kemiskinan. Kolaborasi berbagai pihak dalam pengembangan wisata desa menjadi kunci penting untuk menciptakan perubahan yang berkelanjutan.
Melalui inisiatif bersama, kegiatan pariwisata di desa tidak hanya meningkatkan ekonomi lokal tetapi juga memperkuat identitas budaya, membuka lapangan kerja, dan memberikan akses terhadap infrastruktur yang lebih baik.
Demikian disampaikan Ketua Tim Perintis Asosiasi Pemerintahan Desa Seluruh Indonesia (TP-APDESI), Sukro Nur Harjono di sela acara Festival Kali OYO 2024 yang diadakan Kawasan Wisata Lembah OYO Kalurahan Selopamioro, Kapanewon Imogiri, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta pada Minggu (27/11/2024).
“Festival Merti Kali Oya dan peluncuran Kedung Jati Zoo ini salah satu upaya untuk mengembangkan wisata berbasis potensi lokal. Untuk itu, kita perlu kolaborasi dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat dan pemangku kepentingan khususnya kelompok masyarakat pengelola wisata setempat. Salah satunya kolaborasi dengan Lembaga Satu Desa. Lembaga Satu Desa telah bekerja sama dengan banyak pihak termasuk TP-APDESI untuk mengembangkan daya tarik wisata sehingga dapat meningkatkan kunjungan wisata yang ada,” ujar Sukro, panggilan akrabnya
Sukro Nur Harjono menyatakan, kemajuan wisata tersebut diharapkan secara tidak langsung juga dapat berfungsi mengatasi kemiskinan melalui peningkatan akses terhadap peluang pekerjaan dan aset untuk wirausaha.
Masyarakat desa mendapatkan kesempatan untuk memanfaatkan berbagai peluang ekonomi, termasuk membuka usaha kecil seperti kios, warung kuliner, souvenir, penginapan, atau jasa pemandu wisata.
“Harapannya, hal ini berdampak pada pengentasan kemiskinan di desa,” jelas Sukro Nur Harjono yang juga mantan Kepala Desa Selopamioro ini.

Sementara itu Direktur Lembaga Satu Desa Nurhadi mengatakan, untuk mengembangkan daya tarik wisata, kuncinya pengelola wisata harus inovatif. Layanan wisata perlu terus menerus dikembangkan berbasis potensi lokal. Contohnya, Desa Wisata dengan karakter agraris dapat dikembangkan dengan layanan agro wisata.
Langkah ini sekaligus dapat memberdayakan petani setempat dalam memperkuat tradisi taninya. Harapannya, petani semakin produktif dan ekonominya meningkat sehingga terentaskan dari kemiskinan.
“Hal tersebut juga dapat mendukung ketahanan pangan di masa depan,” terang Nurhadi yang juga sebagai akademisi ini.
Nurhadi mengungkapkan, pengembangan wisata desa memiliki potensi yang signifikan untuk menjadi motor penggerak bagi perekonomian lokal. Hal tersebut sekaligus melestarikan budaya dan menciptakan lapangan pekerjaan.
Upaya ini memerlukan sinergi antara masyarakat, pemerintah, dan sektor swasta untuk menciptakan dampak yang berkelanjutan dan mendukung kesejahteraan masyarakat desa.
“Ujungnya, pengentasan kemiskinan dapat dicapai dengan mendorong masyarakat desa untuk berpartisipasi aktif dalam pembangunan ekonomi mereka sendiri, menciptakan kemandirian ekonomi yang kuat di tingkat desa, dan menjadikan desa-desa Indonesia lebih sejahtera, mandiri, dan berdaya saing,” harap Nurhadi.









