Dukung Program “Kado Berkat”, Pendamping PIA Paroki Dan JKKI Simpul Wedi Kenalkan Santa Faustina Kepada Anak, Ajari Mereka Berdoa Koronka

Anak-anak dan pendamping PIA Paroki Wedi berfoto bersama para devosan Kerahiman Ilahi Simpul Wedi di Taman Doa Kerahiman Ilahi Komplek Gereja Paroki Wedi pada Minggu (25/8/2024) pagi.

WartaKita.org – Fokus pastoral Paroki Santa Maria Bunda Kristus Wedi, Kabupaten Klaten tahun 2024 ini yaitu “Keluarga Merawat Iman”.

Fokus pastoral ini dijabarkan ke dalam berbagai program.

Bacaan Lainnya

Diantaranya adalah Program “Kado Berkat” atau keluarga suka berdoa dan berbagi berkat yang dilakukan oleh Pendampingan Iman Anak (PIA) Paroki Wedi.

Berkaitkan dengan Program “Kado Berkat” tersebut, maka Pendamping PIA Santo Kristoforus Paroki Wedi mengadakan kegiatan “Berdoa dan Bergembira Bersama” dengan Jaringan Kerasulan Kerahiman Ilahi (JKKI) Simpul (Paroki) Wedi di Taman Doa Kerahiman Ilahi Komplek Gereja Paroki Wedi pada Minggu (25/8/2024) pagi.

Kegiatan pertemuan PIA Paroki Wedi ini mengusung tema “Yesus Engkau Andalanku”.

Dalam kegiatan ini, anak-anak diminta membawa rosario, minuman, dan snack. Kegiatan ini diisi dengan berdoa, mendengarkan kitab suci, mengenal Santa Faustina dan berlatih Doa Koronka, serta bermain bersama.

Pastor Paroki Santa Maria Bunda Kristus Wedi, Rama Basilius Edy Wiyanto, Pr menyambut baik apa yang telah dilakukan oleh Tim Pendamping PIA Paroki Wedi dan JKKI Simpul Wedi ini.

“Ini adalah salah satu upaya bagaimana kita merawat iman anak-anak. Untuk itu, terima kasih kepada Pendamping PIA dan JKKI Simpul Wedi yang telah memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk belajar, untuk berdoa. Karena anak-anak ini juga sudah diajak untuk berdoa Novena bersama bapak, ibunya di rumah. Maka, ceritakanlah pengalamanmu itu kepada teman-teman di sekolahmu. Supaya teman-temanmu juga tertarik dan kemudian mau ikut berdoa seperti yang kamu lakukan,” kata rama.

Rama Basilius Edy Wiyanto, Pr pun mengucapkan terima kasih kepada Pendamping PIA dan JKKI Simpul Wedi yang telah mau menerima anak-anak ini untuk belajar berdoa Koronka, mengenal Santa Faustina dan bermain bersama.

“Mungkin, ngunduh hasilnya tidak hari ini. Tetapi beberapa tahun yang akan datang. Tetapi setidaknya, anak-anak ini akan punya cerita. Di awal, yang tercatat memang ada 105 anak. Tetapi kita harus terus bersemangat. Karena dimana dua orang atau lebih berkumpul atas namaKu, Tuhan hadir di situ,” ujar rama.

Rama Basilius Edy Wiyanto, Pr menyambut baik kegiatan yang telah dilakukan oleh Tim Pendamping PIA Paroki Wedi dan JKKI Simpul Wedi ini.

Rama Edy menyatakan, kegiatan pagi ini menjadi event istimewa. Karena acara ini merupakan wujud dari upaya bersama untuk menumbuhkan iman pada diri anak-anak. Kegiatan ini menjadi gerak bersama umat Paroki Wedi dalam merawat iman.

“Paroki Wedi sepertinya menjadi pelopor dalam kegiatan “Keluarga Merawat Iman” ini. Maka silahkan kegiatan ini didokumentasikan, dipublikasikan, agar menjadi inspirasi bagi yang lain dalam upaya kita merawat iman. Kegiatan ini juga sejalan dengan Program “Kado Berkat” atau keluarga suka berdoa dan berbagi berkat. Keluarga yang suka berdoa, keluarga yang selalu diberkati Tuhan itu, tentunya mau berbagi berkat kepada sesamanya,” pesan rama.

Sedang Ketua Jaringan Kerasulan Kerahiman Ilahi (JKKI) Simpul (Paroki) Wedi, Ciclia Pudyastuti menjelaskan, JKKI Simpul Wedi mempunyai kegiatan rutin yaitu berdoa bersama Doa Kerahiman Ilahi setiap hari Jumat Minggu kedua dan keempat pada pukul 15.00 sore di Taman Doa Kerahiman Ilahi Komplek Gereja Paroki Wedi.

Selain itu, JKKI Simpul Wedi juga mengikuti kegiatan Safari Rohani JKKI Kevikepan Surakarta setiap dua bulan sekali dengan tempat berpindah-pindah.

“Kita bersyukur, karena pagi ini kita bisa berkegiatan bersama anak-anak PIA Paroki Wedi. Kita boleh mengajari anak berdoa Koronka dan mengenalkan Santa Faustina serta bermain bersama anak-anak. Ini sesuatu yang menggembirakan bagi kita semua,” ucapnya.

Sementara Pengurus JKKI Kevikepan Surakarta, Theresia Budi Wahyuni dalam kesempatan itu menceritakan tentang riwayat hidup Santa Faustina, Orang Kudus, yang juga Rasul Kerahiman Ilahi ini.

Helena Kowalska dilahirkan di Glogowiec, Polandia pada tanggal 25 Agustus 1905 sebagai anak ketiga dari 10 putera-puteri pasangan suami isteri Katolik yang saleh Stanislaw Kowalski dan Marianna Babel.

Helena hanya sempat bersekolah hingga kelas 3 SD saja. Ia seorang anak yang cerdas dan rajin, juga rendah hati dan lemah lembut hingga disukai orang banyak. Ketika berusia 16 tahun, Helena mulai bekerja sebagai pembantu rumah tangga agar dapat meringankan beban ekonomi keluarganya. Tetapi, setahun kemudian ia pulang ke rumah untuk minta ijin masuk biara.

Pengurus JKKI Kevikepan Surakarta, Theresia Budi Wahyuni saat menceritakan tentang riwayat hidup Santa Faustina kepada anak-anak PIA Paroki Wedi.

Pada tanggal 30 April 1926, Helena menerima jubah biara dan nama baru, yaitu Suster Maria Faustina; di belakang namanya, seijin kongregasi ia menambahkan “dari Sakramen Mahakudus”.

Pada tanggal 22 Februari 1931, Santa Faustina mulai menerima pesan kerahiman ilahi dari Kristus yang harus disebarluaskannya ke seluruh dunia. Kristus memintanya untuk menjadi rasul dan sekretaris Kerahiman Ilahi, menjadi teladan belas kasih kepada sesama, menjadi alat-Nya untuk menegaskan kembali rencana belas kasih Allah bagi dunia.

Meskipun sadar akan ketidaklayakannya, serta ngeri akan pemikiran harus berusaha menuliskan sesuatu, toh akhirnya, pada tahun 1934, ia mulai menulis buku catatan harian dalam ketaatan pada pembimbing rohaninya, dan juga pada Tuhan Yesus sendiri. Selama empat tahun ia mencatat wahyu-wahyu ilahi, pengalaman-pengalaman mistik, juga pikiran-pikiran dari lubuk hatinya sendiri, pemahaman serta doa-doanya.

Hasilnya adalah suatu buku catatan harian setebal 600 halaman, yang dalam bahasa sederhana mengulang serta menjelaskan kisah kasih Injil Allah bagi umatNya, dan di atas segalanya, menekankan pentingnya kepercayaan pada tindak kasih-Nya dalam segala segi kehidupan. Buku itu menunjukkan suatu contoh luar biasa bagaimana menanggapi belas kasih Allah dan mewujud-nyatakannya kepada sesama.

Santa Maria Faustina Kowalska dari Sakramen Mahakudus, rasul kerahiman ilahi, wafat pada tanggal 5 Oktober 1938 di Krakow dalam usia 33 tahun karena penyakit TBC yang dideritanya. Jenasahnya mula-mula dimakamkan di pekuburan biara, lalu dipindahkan ke sebuah kapel yang dibangun khusus di biara.

Pada tahun 1967, dengan dekrit Kardinal Karol Wojtyla, Uskup Agung Krakow (kelak menjadi Santo Paus Yohanes Paulus II), kapel tersebut dijadikan sanctuarium reliqui Abdi Allah Suster Faustina Kowalska.

Pada Pesta Kerahiman Ilahi tanggal 18 April 1993, Suster Faustina dibeatifikasi oleh Paus Yohanes Paulus II dan pada Pesta Kerahiman Ilahi tanggal 30 April 2000 ia dikanonisasi oleh paus yang sama. Pesta Santa Faustina dirayakan setiap tanggal 5 Oktober.

Kegiatan pertemuan PIA Paroki Wedi bersama para devosan Kerahiman Ilahi Simpul Wedi berlangsung menyenangkan.

Pada kegiatan itu, anak-anak juga diajari berdoa Koronka oleh Maria Sri Mulati Koespuranto.

Kegiatan pertemuan PIA Paroki Wedi ini berlangsung menyenangkan. Anak-anak diajak bernyanyi lagu Mari Kita Bersukaria, Di Sini Senang Di Sana Senang, Yesus Kau Andalanku, dan sebagainya.

Acara diakhiri dengan foto bersama antara anak-anak dan pendamping PIA Paroki Wedi serta para devosan Kerahiman Ilahi Simpul Wedi.

Pos terkait