WartaKita.org – Anggota Komisi A DPRD Provinsi Jawa Tengah Stephanus Sukirno menggelar Sosialisasi Non Perda di Dukuh Kalikuning, Desa Jomboran, Kecamatan Klaten Tengah, Kabupaten Klaten, Senin (13/11/2023) malam.
Sosialisasi Non Perda ini dihadiri Anggota DPRD Kabupaten Klaten dari Fraksi PDI Perjuangan Widodo Gendut dan warga sekitar.
Ketua RW 10 Dukuh KalikunIng, Sugeng Raharjo dalam sambutan mengucapkan terima kasih kepada Anggota Komisi A DPRD Provinsi Jawa Tengah Stephanus Sukirno yang telah mengadakan acara Sosialisasi Non Perda di dukuhnya.
“Semoga Sosialisasi Non Perda ini bisa menjadi awal pertemuan dengan warga Dukuh Kalikuning. Kita bisa semakin rumaket, dan menjadi seperti keluarga sendiri. Karena Desa Jomboran ini menjadi desa binaan Pak Widodo Gendut dan Pak Sukirno, mohon nantinya diperhatikan dan dibantu. Sebab selama 5 tahun ini wilayah ini tidak menerima bantuan aspirasi dari dewan. Kami ikut berdoa, semoga Pak Widodo Gendut dan Pak Sukirno bisa sukses di Pemilu nanti. Kita bisa semakin rumaket dan mbateh,” katanya.
Sedang Anggota DPRD Kabupaten Klaten dari Fraksi PDI Perjuangan Widodo Gendut mengatakan, tanpa bantuan dan dukungan dari masyarakat, ia tidak bisa menjadi wakil rakyat.
“Karena itu, kami mohon dukungan dari warga di sini. Agar kedepan kita bisa bersama-sama lagi. Kita bisa membangun Desa Jomboran ini. kita bisa saling kerjasama. Karena maju mundure, apik eleke daerah binaan itu sangat tergantung dengan Dewan yang mengampu wilayah tersebut,” ujarnya.

Sementara itu Anggota Komisi A DPRD Provinsi Jawa Tengah Stephanus Sukirno menyampaikan, betapa pentingnya budaya mengantri. Sampai-sampai seorang guru di Australia menekankan muridnya untuk lebih memahami dan melaksanakan kebiasaan mengantri dibandingkan dengan mengerti tentang Matematika.
“Kebiasaan mengantri memiliki implikasi luas dan berjangka panjang. Dalam dunia pendidikan, budaya mengantri menunjukkan tingkat kesadaran sosial yang tinggi pada anak-anak. Sebuah kesadaran tentang betapa pentingnya menghargai hak orang lain dalam kehidupan sosial. Kesadaran anak untuk terbiasa mengantri merupakan hasil pendidikan yang dilakukan secara terus menerus dan berkelanjutan,” terangnya.
Mantan Rektor Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Semarang ini menjelaskan, budaya mengantri memiliki manfaat baik secara pribadi maupun dimensi sosial yang lebih luas.
“Beberapa manfaat dari budaya mengantri itu di antaranya anak belajar manajemen waktu, jika ingin mengantri paling depan, mereka harus persiapan lebih awal dan datang lebih awal. Anak belajar sabar menunggu giliran. Anak belajar menghormati hak orang lain yang datang lebih dulu. Anak belajar disiplin, setara, dan teratur menghargai hak orang lain. Anak belajar bersosialisasi menyapa dan berkomunikasi dengan orang lain di antrian. Anak belajar memiliki rasa malu, jika menyerobot antrian dan hak orang lain. Anak belajar tabah dan sabar menjalani proses dalam mencapai tujuan, dan sebagainya,” paparnya.
Dalam kesempatan itu, Sukirno juga mengajak warga untuk membiasakan bersikap hormat saat menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya.
“Saat menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya itu kita harus berdiri dengan sikap tegap. Kedua tangan kita berada di samping kanan dan kiri badan kita, bukan ngapurancang,” pesan Sukirno.









