Di Hari Jadi Ke 62, Umat Paroki Gamping Ingin Tepung, Srawung, Dan Nyambung Untuk Majukan NKRI

Tari Soreng yang dibawakan oleh Orang Muda Katolik Ngargomulyo memeriahkan Hari Paroki Santa Maria Assumpta Gamping yang ke 62 di Lapangan Kalurahan Balecatur, Minggu (20/8/2023).

WartaKita.org – Peringatan ulang tahun atau Hari Paroki (Harpa) Santa Maria Assumpta Gamping, Kabupaten Sleman yang ke 62 tahun 2023 ini dimeriahkan dengan berbagai kegiatan dan acara.

Untuk diketahui, yang dimaksud dengan Hari Paroki adalah gabungan dari hari ulang tahun Gereja, hari peresmian, serta peringatan hari Pelindung yang dijadikan sebagai hari bersama seluruh umat Paroki Gamping.

Bacaan Lainnya

Adapun tema yang diangkat dalam Hari Paroki ke 62 ini yaitu “Tepung, Srawung, Nyambung”. Perwujudan dari tema ini mencakup empat hal, yaitu edukasi, formasi, selebrasi, dan animasi. Keempat hal tersebut dijabarkan lagi dengan berbagai acara internal dan eksternal.

Pada Harpa 2023 ini, Paroki Santa Maria Assumpta Gamping memberi kesempatan bagi Orang Muda Katolik (OMK) untuk menuangkan ekspresi dan kreativitasnya dengan menjadi penanggungjawab utamanya.

Panitia Harpa yang sebagian besar adalah anak muda usia antara 16 sampai 20-an tahun mengelola tema Harpa 2023 ini dengan berbagai kegiatan, baik untuk kalangan Gereja, maupun untuk masyarakat pada umumnya. Syukur atas hari jadi Gereja ini dirangkai dengan berbagai bentuk edukasi, selebrasi, dan pembentukan karakter cinta tanah air dan bangsa.

Humas Gelar Budaya Hari Paroki Santa Maria Assumpta Gamping, Felicia Echie FHM menyampaikan, rangkaian kegiatan peringatan Harpa yang diselenggarakan sejak 25 Juni 2023 tersebut dipuncaki dengan Gelar Budaya Harpa 2023 yang diadakan di Lapangan Kalurahan Balecatur, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman pada Minggu (20/8/2023).

Kegiatan ini merupakan rangkuman edukasi sosial, pentas budaya, dan UMKM. Terdapat dialog budaya sebagai perwujudan edukasi sosial yang disajikan dalam dua sesi.

Dialog sesi 1 ini mengusung tema “Bersinergi Memajukan NKRI.”

Sejumlah narasumber hadir dalam dialog budaya sesi pertama ini, yaitu Vikep Yogyakarta Barat Rama Alfonsus Rodriguez Yudono Suwondo, Pr, Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Sleman Aji Wulantoro, Lurah Balecatur Andri Septiyanto, Lurah Ambarketawang Sumaryanto, Kapolsek Gamping Kompol Surahman, dan Danramil Gamping Kapten Inf Wahyani. Bertindak sebagai moderator yaitu Caecilia Luppi Satesti.

Sedang dialog sesi 2 mengusung tema “Bersatu Membangun Bangsa Dalam Bhinneka”.

Dialog ini menampilkan narasumber Rama Martinus Joko Lelono, Pr (Tokoh Agama Katolik), Pendeta Samuel Andi Prasetyo (Tokoh Agama Kristen), Dr K Irwan Masduqi (Tokoh Agama Islam), Anton (personil Ombardi), dan Raka (personil Etnik Banget). Dialog ini dimoderatori Layung Pertiwi.

Penampilan jathilan dari Sanggar Seni Kiyomi memeriahkan Hari Paroki Santa Maria Assumpta Gamping yang ke 62 di Lapangan Kalurahan Balecatur, Minggu (20/8/2023).

Ketua Panitia Gelar Budaya Hari Paroki Santa Maria Assumpta Gamping, Michael Dimas menjelaskan, gelar budaya ini juga dimeriahkan dengan penampilan kesenian dari Kelompok Tari Kridha Tresna Budaya, Tari Angguk Zunigazunigi Art Production, Kelompok Tari Lansia Bahagia Mandiri, Kesenian Soreng Magelang, Jathilan Sanggar Kiyomi, Milenial Dangdut, Etnik Banget, OmBardi, Diskoplo, dan pentas wayang.

Dalam acara ini juga ada lebih dari 22 stand UMKM yang turut meramaikan acara Gelar Budaya Harpa GMA 2023.

“Ada penampilan tari-tarian, band-band lokal, juga UMKM. Kita berharap bisa meningkatkan UMKM sekitar sini. Kita memberikan wadah. Apalagi sekarang UMKM makin inovatif. Harapannya acara ini bisa terlaksana setiap tahun, rutin, dan berdampak positif bagi masyarakat sekitar,” ujarnya.

Michael Dimas berharap, Gelar Budaya GMA 2023 ini dapat melibatkan masyarakat dari berbagai usia, kalangan dan latar belakang dalam sebuah ruang publik bersama dimana semua menikmati tontonan, dan mendapatkan tuntunan.

“Semua yang hadir akan berjumpa (tepung), menikmati bersama dalam persaudaraan (srawung), sehingga membentuk dan memperkuat kembali semangat kebersamaan dalam hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara (nyambung),” harapnya.

Dimas menambahkan, OMK memilih gelar budaya sebagai puncak acara karena disanalah diharapkan terjadi ruang perjumpaan berbagai kalangan dalam benang merah semangat cinta tanah air dan bangsa. Orang muda sebetulnya tidak diam ketika melihat fenomena kriminal seperti klithih, melihat meningkatnya berbagai kegiatan politik, serta aneka keprihatinan sosial kemasyarakatan yang lain. Inilah kiprah orang muda yang mewujud dari pembacaan mereka terhadap situasi dan kondisi aktual mereka.

“Gelar budaya ini adalah harapan sekaligus langkah nyata upaya orang muda merawat kebhinnekatunggalikaan bangsa dengan tetap menjaga suasana yang saling tepung, srawung, dan nyambung untuk majunya Negara Kesatuan Republik Indonesia,” tandasnya.

Pos terkait