WartaKita.org – Suasana Kampus Magister Manajemen Universitas Sanata Dharma (MM USD) di Jalan Affandi, Mrican, Caturtunggal, Depok, Sleman, DI Yogyakarta pada Selasa (30/1/2024) itu tampak lebih ramai.
Ya, sekitar 50 orang aktivis Credit Union (CU) dari berbagai tempat hadir memenuhi undangan Credit Union Lestari Wonosobo dalam acara bertajuk “Curah Pendapat Peningkatan Kinerja Bisnis CU Primer Melalui Program Peningkatan Pendapatan Anggota.”
Ketua Pengurus CU Lestari Wonosobo, F Sukaryono menyampaikan, pertemuan ini bertujuan untuk satu, meningkatkan pemahaman dan kesadaran CU Primer terhadap tantangan dan peluang yang dihadapi. Dua, mendorong pertukaran pengalaman dan pengetahuan antara CU Primer. Dan tiga, mengidentifikasi strategi konkret untuk meningkatkan pendapatan anggota melalui kolaborasi antara CU Primer dan Program Studi Magister Manajemen Universitas Sanata Dharma.
“Pertemuan ini juga bertujuan untuk menghidupkan kembali roh Credit Union. Sedang untuk tujuan khusus yaitu CU Lestari ingin berbagi pengalaman dalam menerapkan “pelayanan integratif” sebagai strategi baru dalam pengembangan bisnis dan pendampingan anggota. Melalui pertemuan ini, CU Lestari berharap memperoleh peneguhan maupun catatan yang membangun atas strategi baru ini,” katanya.
Sedang Manajer CU Lestari Wonosobo, Aji Prastyanto mengatakan, pendekatan integratif ini lahir dari pertemuannya dengan Kepala Program Studi Magister Manajemen Universitas Sanata Dharma Titus Odong Kusumajati yang mendampingi CU Lestari untuk melakukan perencanaan strategis.
Pendekatan integratif ini diformulasikan oleh Titus saat menyusun disertasi S3-nya.
Pendekatan integratif ini dapat juga dibaca dalam artikel “The Role of Integrative Approach for Enhancing Credit Union Sustainability: A Reflection on The Indonesian Credit Union Movement” yang ditulis Titus Odong bersama Eri Kusuma dan Antonius Sumarwan.
Ketiganya adalah Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Sanata Dharma.
“Kehadiran CU Lestari di MM USD dan inisiatif untuk berbagi pengalaman dengan CU-CU lain merupakan cara untuk “membayar hutang” atas ilmu yang telah diberikan oleh Pak Titus dan MM USD, sekaligus upaya mencari rekan kerja untuk mengembangkan pelayanan CU yang integratif ini,” ujarnya.
Bukan Sekadar Layanan Keuangan
Aji Prastyanto menjelaskan, layanan keuangan (intermediasi keuangan) merupakan layanan dasar Credit Union. Namun, jika suatu CU hanya mampu melakukan intermediasi keuangan, maka CU tersebut hanya memberikan layanan minimalis kepada anggota.
Dalam pendekatan integratif, CU tidak hanya melakukan intermediasi keuangan kepada anggota, melainkan juga melakukan intermediasi sosial, jasa pengembangan usaha anggota, dan jasa sosial.
“Pendekatan yang integratif inilah yang sedang dilakukan oleh CU Lestari sebagai strategi bisnisnya saat ini,” tandasnya.
Aji Prastyanto menerangkan, upaya ini dimulai dengan merumuskan apa arti keluarga yang sejahtera. Kemudian disusul dengan pembuatan profil anggota CU Lestari beserta keluarganya.
Lewat kunjungan berkali-kali kepada anggota, staf CU Lestari membuat profil anggota yang menggambarkan potensi dan persoalan ekonomi anggota, pendapatan dan pengeluaran, aset dan hutang, cara dia mengelola keuangan.
Dalam profil itu ada juga gambaran tentang karakter anggota, cita-citanya, hubungan antar anggota keluarga, dan hal-hal lain yang berpengaruh pada upaya mewujudkan kesejahteraan anggota. Atas dasar profil itu, kemudian dirumuskan juga apa yang dapat dilakukan CU untuk membantu anggota keluar dari persoalan ekonominya dan meraih kesejahteraan.
“Intinya, lewat pendampingan intensif, anggota ini dibantu untuk menata kembali pengelolaan keuangan. Lewat pendampingan ini pula, CU Lestari sungguh-sungguh hadir untuk membantu anggota yang mengalami kesulitan,” terangnya.
Buah Pendampingan

Dalam acara ini, CU Lestari mengajak dua anggota yang didampingi secara khusus lewat program layanan integratif ini.
Dua anggota ini sempat terpuruk keadaan ekonominya, terjerat hutang puluhan juta pada berbagai pihak, sehingga total utang mereka mencapai ratusan juta.
Satu orang anggota tersebut adalah petani tembakau yang terpuruk karena harga tembakau jatuh. Sementara dia sudah berhutang pada banyak pihak. Istrinya sempat stres karena selalu didatangi penagih utang.
Dalam situasi itu, CU menawarkan program pendampingan intensif (layanan integratif) yang membantu anggota mengurai persoalan keuangannya.
Setelah dilakukan banyak tukar pikiran dan penggalian potensi anggota, kemudian CU Lestari mengambil alih sebagian hutang anggota tersebut dan memberikan modal untuk beralih usaha menanam wortel. Dari situ kemudian anggota ini mulai menata kembali ekonominya.
Saat ini, dia masih punya hutang di CU maupun di tempat lain. Namun dia dapat menjalani hidup dengan tenang dan penuh harapan karena sudah ada peta jelas untuk mengelola ekonomi.
Sedang anggota yang kedua mengalami persoalan serupa. Dia mengalami kegagalan dari usaha pertanian organik. Kemudian beralih ke usaha penggergajian kayu, dia gagal juga.
Didampingi oleh CU Lestari, dia kemudian berusaha ternak ayam dan berhasil. Ternaknya sekarang berjumlah puluhan ribu ayam.
Solusi Manusiawi Untuk Gagal Bayar
Kendala gagal bayar, atau lebih dikenal dengan kredit lalai (KL) dari anggota adalah tantangan umum yang dihadapi oleh lembaga keuangan, tak terkecuali CU. Penyelesaian dengan cara kekeluargaan merupakan kekhasan yang dimiliki CU untuk mengatasi tantangan ini.
Belakangan, cara-cara kekeluargaan tersebut mulai luntur. Tindakan penyelesaian ke ranah hukum atau lebih menggunakan pihak ketiga seperti debt collector untuk menagih angsuran pinjaman anggota lambat laun mulai digunakan.
Bahkan beberapa kabar terdengar ada sampai anggota menjual asetnya demi melunasi hutang di CU. Cara-cara tersebut mengganjal bagi CU Lestari, sehingga CU ini merasa perlu menghidupkan kembali roh CU, yaitu semangat pelayanan untuk mensejahterakan anggota.

Pertemuan yang diadakan di MM USD ini diharapkan dapat memberikan insight dan menyadarkan kembali bahwasanya tujuan CU adalah mensejahterakan anggota. Dan CU Lestari telah berhasil menjawab dengan layanan integratif.
Para aktivis CU yang hadir dalam pertemuan ini berharap, pertemuan semacam ini diselenggarakan secara rutin, minimal dua tahun sekali. Mereka juga mengusulkan agar pertemuan dapat dilaksanakan bergantian di CU-CU peserta, sehingga silaturahmi antar-CU lebih erat.
Dari pihak MM USD, pertemuan ini juga merupakan bagian dari persiapan pengabdian kepada masyarakat yang akan diselenggarakan pada tahun 2024.
Pendampingan CU dipilih karena MM USD memiliki konsentrasi microfinance. Oleh karena itu, dalam sambutan awal pertemuan ini, Titus mengundang para aktivis CU yang ingin studi lanjut ke tingkat magister, sebaiknya belajar di MM Sanata Dharma.
Semoga kerjasama MM USD dan CU-CU semakin erat sehingga akademisi diperkaya oleh pengalaman praktisi CU dan praktisi CU dibantu untuk memecahkan persoalan dan menangkap peluang di lapangan. Lewat kerjasama ini upaya peningkatan kesejahteraan anggota CU dan masyarakat secara umum dapat membuahkan hasil yang lebih optimal.









