WartaKita.org – Gereja Katolik dengan kekayaan demografis yang dimiliki patut mengambil peran konkret dalam agenda pembangunan sosial. Namun persoalannya, partisipasi dan minat kaum muda terhadap kerja akademik dan advokasi masih sangat minim. Baik dalam kehidupan gereja maupun kerja nyata kemasyarakatan.
Berangkat dari konteks tersebut, maka forum Orang Muda Katolik Indonesia (OMKI) menggelar webinar bertajuk “Partisipasi Konkret Praktisi Muda Dalam Pembangunan Sosial”, belum lama ini.
Turut hadir sebagai pembicara dalam diskusi ini, Pegiat Masyarakat Digital dan Akademisi Muda yang sekaligus Ketua Pemuda Katolik Komisariat Daerah DKI Jakarta, Bondan Wicaksono dan Ketua Pemuda Katolik Komisariat Daerah Jawa Barat, Edi Silaban. Diskusi dipandu oleh Fika Anggi, OMK asal Jakarta Timur.
Webinar ini bertujuan untuk memberi ruang yang selebar-lebarnya bagi anak muda untuk memahami dan terlibat dalam diskursus isu publik di masa mendatang.
Founder Komunitas OMKI, Lilik Krismantoro dalam pembuka menyampaikan, ada kegelisahan yang panjang mengenai semakin lemahnya gerak kaum muda Katolik dalam kegiatan sosial.
“Sekarang kita berada pada titik dimana seakan-akan isu itu (sosial) merupakan bagian yang di luar kita,” katanya.
Lilik menyatakan, jaringan OMK Indonesia memiliki potensi dan jejaring yang luas sehingga jejaring ini dapat dioptimalkan agar dapat memberikan manfaat bagi sesama.
“Kita orang muda Katolik mampu menyikapi isu sosial dan mengambil sikap dan tanggapan secara bermartabat,” tegasnya.

Sedang Pegiat Masyarakat Digital dan Akademisi Muda yang sekaligus Ketua Pemuda Katolik Komisariat Daerah DKI Jakarta, Bondan Wicaksono saat mengutip pesan Paus Fransiskus menyebut pentingnya kaum muda Katolik untuk berjumpa, mendengarkan, dan membuat discernment.
“Dalam konteks discernment, yang peru kita pahami adalah apa yang menjadi kekuatan kita. Apa yang menjadi suara hati nurani ini betul betul menjadi suara mayoritas. Bukan tidak peduli dan tidak peka dengan situasi sosial saat ini,” ujarnya.
Bondan mengajak kaum muda untuk terlibat dalam berbagai lini peran seperti pendidikan, sosial, ekonomi, dan sebagainya pada berbagai lini profesi dan model.
“Terlibat dalam ormas tidak hanya titip nama. Tetapi ormas sebagai salah satu mesin bersama-sama, saling bahu-membahu memberi kontribusi positif dalam karya nyata di masyarakat,” tandasnya.

Sementara itu Ketua Pemuda Katolik Komisariat Daerah Jawa Barat, Edi Silaban membagikan pengalamannya terkait afirmasi kajian sosial dalam kemasyarakatan di Jawa Barat.
“Apakah kita memiliki keberanian sebagai generasi muda untuk mengubah kebijakan publik?”, tanya Edi sebagai pembuka.
Edi Silaban mengemukakan, Pemuda Katolik di Jawa Barat menggunakan empat pendekatan internal meliputi konsolidasi, hierarki, budaya, dan media dalam setiap langkah karyanya di masyarakat. Sedangkan pendekatan eksternal yang digunakan adalah audiensi, tools, budaya, dan media.
“Media digunakan sebagai resonansi untuk advokasi yang lebih luas lagi,” jelasnya.
Edi menambahkan, situasi Jawa Barat cukup kompleks dan unik, sehingga perlu sejumlah strategi melalui membuka ruang perjumpaan, menyusun produk kajian kebijakan, membangun narasi positif, dan sejumlah langkah konkret lainnya.
“Kajian-kajian inilah (produk kajian) yang mengubah kebijakan publik di Jawa Barat sehingga menciptakan situasi yang sehat,” terangnya.









