Suburkan Tanah, Mentor CU Kridha Rahardja Ajari Anak TK Santa Theresia Wedi Membuat JMS

Anak-anak Kelompok A TK Santa Theresia Wedi dan orang tua serta gurunya berfoto bersama Tim Mentor Sebaya Pemberdayaan Credit Union Kridha Rahardja di akhir kegiatan edukasi dan pelatihan membuat JMS pada Sabtu (14/6/2025) pagi.

WartaKita.org – Umat manusia berkewajiban untuk merawat bumi, “rumah” yang selama ini ditinggali bersama.

Karena itu, Paus Fransiskus melalui Ensiklik Laudato Si  (Terpujilah Engkau, Tuhanku) menyerukan tindakan global untuk mengatasi krisis iklim dan mengajak semua orang untuk peduli dan bertanggung jawab terhadap bumi.

Bacaan Lainnya

Sejalan dengan upaya merawat bumi ini, maka Tim Mentor Sebaya Credit Union Kridha Rahardja (CU KR) melakukan edukasi dan pelatihan membuat Jadam Microbial Solution (JMS) kepada anak-anak Kelompok A TK Santa Theresia Wedi, Kabupaten Klaten bersama orang tuanya pada Sabtu (14/6/2025) pagi.

Tim Mentor Sebaya Credit Union Kridha Rahardja Tempat Pelayanan (TP) Wedi yang hadir di TK Santa Theresia Wedi ini yaitu Laurentius Sukamta, T Tri Setyono, C Yiyin FA, Puji Lestari, Dewi M dan Mulyono.

Laurentius Sukamta menyampaikan, Jadam Microbial Solution (JMS) merupakan larutan mikroorganisme yang bermanfaat dalam pertanian organik, khususnya dalam sistem pertanian JADAM.

JADAM adalah sistem atau metode pertanian organik dari Korea yang dikembangkan oleh Youngsang Cho. JADAM merupakan singkatan bahasa Korea dari Jayonul Damun Saramdul yang artinya “orang yang menyerupai alam”.

“JMS digunakan untuk meningkatkan kesuburan tanah, menyeimbangkan pH (keasaman tanah), dan memperkuat mikroba baik yang sangat penting untuk pertumbuhan tanaman,” katanya.

Komite Keuangan TP Wedi ini menjelaskan, bahan untuk membuat JMS (ukuran 10 liter) ini berupa kentang (sumber pakan mikro organisme) 1 biji, garam kasar atau garam grosok (sumber mineral pengganti molase) 1 sendok makan, lapukan daun bambu (sumber mikroorganisme) 1 genggam, dan air lunak (yaitu air hujan, air AC, air RO) 10 liter.

Adapun cara membuat JMS yaitu kentang direbus dengan 1 liter air sekitar 20 menit sampai tekstur kentang melunak. Kemudian pisahkan kentang dan air rebusan. Kentang lalu dipotong kecil kecil. Selanjutnya, masukan air lunak ke dalam ember dan tambahkan garam ke dalam air, lalu diaduk hingga merata.

Masukan kentang dan 1 genggam lapukan daun bambu ke dalam kantong kain kaos atau kaus kaki. Lalu diremas-remas supaya ekstrak kentang dan lapukan daun bambu ke luar. Agar kantong kain itu tenggelam, maka perlu diberi pemberat (batu). Tambahkan air rebusan kentang ke dalam ember, kemudian ditutup. Campuran dalam ember tertutup ini kemudian ditutupi isolator (daun pisang) supaya tidak terkena matahari langsung selama 24 jam.

“Tanda JMS yang sudah jadi adalah PH netral (7) dan muncul buih sebagai tanda kehidupan mikroorganisme,” jelasnya.

Anak-anak Kelompok A TK Santa Theresia Wedi dan orang tuanya antusias dan gembira mengikuti pelatihan membuat JMS.

Usai pemberian materi atau edukasi, anak-anak dengan didampingi orang tuanya melakukan praktek langsung membuat JMS sesuai arahan dari Mentor CU Kridha Rahardja. Mereka antusias dan gembira membuat JMS. Apalagi, ini adalah pengalaman baru dan pertama bagi anak-anak dan orang tuanya.

Edukasi dan pelatihan membuat JMS ini disambut baik oleh anak-anak TK Santa Theresia Wedi dan orang tuanya.

“(edukasi dan pelatihan membuat JMS) Ini sangat mendukung ibu-ibu rumah tangga yang mempunyai banyak limbah (rumah tangga) di rumah. Jadi, limbah (rumah tangga) bisa kita manfaatkan. Limbah (rumah tangga) tidak harus dibuang, (karena) bisa menambah kesuburan (tanah). Dan bagi ibu-ibu, terutama seperti saya yang punya tanaman di rumah, kita nggak harus beli pupuk lagi, dengan memanfaatkan limbah (rumah tanga) yang ada. Ini positif sekali. Terima kasih banyak buat CU Kridha Rahardja,” ujar Dorotea Isti Wulandari, ibu dari Scholastika Dianti Permani Prandana, anak Kelompok A2 TK Santa Theresia Wedi.

Hal senada juga disampaikan Kepala TK Santa Theresia Wedi, Suster M Colleta AK.

“Ini pengalaman baru bagi kami. Yang pertama, mengenalkan hal baru kepada anak-anak, kepada orang tua, yaitu mengenalkan CU Kridha Rahardja. Yang kedua, mengajak anak-anak dan orang tua untuk peduli lingkungan. Kegiatan ini mengajak anak-anak dan orang tua untuk peduli lingkungan di sekitar mereka. Dan yang ketiga, dengan pelatihan dari CU Kridha Rahardja ini memberikan pengalaman baru kepada orang tua khususnya. Orang tua jadi tambah wawasan, tambah pengetahuan, juga mereka bisa melaksanakan praktek langsung membuat JMS. Ini kegiatan yang sangat baik,” ucap Suster.

Kegiatan edukasi dan pelatihan membuat JMS menjadi pengalaman baru bagi anak-anak Kelompok A TK Santa Theresia Wedi dan orang tuanya.

Untuk diketahui, ada banyak manfaat dari JMS ini. Satu, meningkatkan kesuburan tanah. JMS membantu memperbaiki kualitas tanah dengan meningkatkan kandungan mikroorganisme yang bermanfaat, yang pada gilirannya meningkatkan kemampuan tanah untuk menyediakan nutrisi bagi tanaman. Dua, menyeimbangkan pH (keasaman) tanah. JMS membantu menormalisasi pH tanah, yang penting untuk penyerapan nutrisi tanaman yang optimal. Tiga, memperkuat mikroba baik. JMS mengandung berbagai mikroorganisme baik yang membantu dalam siklus nutrisi, menekan hama dan penyakit, serta meningkatkan pertumbuhan tanaman.

Empat, memperbaiki kondisi media tanam. JMS membantu menggemburkan media tanam yang terlalu padat, sehingga akar tanaman dapat berkembang dengan baik. Lima, menambah nutrisi tanaman. Selain memperbaiki tanah, JMS juga dapat memberikan nutrisi tambahan bagi tanaman. Enam, meningkatkan ketahanan terhadap hama dan penyakit. Mikroba baik dalam JMS dapat membantu melindungi tanaman dari serangan hama dan penyakit. Dan tujuh, mengurangi penggunaan pupuk kimia. Dengan menggunakan JMS, penggunaan pupuk kimia dapat dikurangi karena JMS dapat memenuhi sebagian kebutuhan nutrisi tanaman.

Adapun cara penggunaan JMS dapat diencerkan dengan air dalam perbandingan 1:20 (1 liter JMS dengan 20 liter air). Sedang untuk aplikasi, larutan yang sudah diencerkan itu dapat disiramkan pada tanah dan tanaman secara menyeluruh. Frekuensi aplikasi JMS dapat dilakukan 2 minggu sekali.

Pos terkait