Merawat Bumi, Ibu Paroki Wedi Diajari Menanam Tanpa Media Tanah Dan Membuat JMS

Mentor Sebaya Pemberdayaan dari Credit Union Kridha Rahardja, Laurentius Sukamta saat menyampaikan materi mengenai“Menanam Tanpa Media Tanah dan Membuat JMS” pada pertemuan rutin Paguyuban Ibu Paroki Wedi di Balai Mandala Gereja Paroki Wedi pada Minggu (8/6/2025) pagi.

WartaKita.org – Paus Fransiskus mengeluarkan Ensiklik Laudato Si  (Terpujilah Engkau, Tuhanku) pada tanggal 24 Mei 2015 dan dipublikasikan secara resmi pada 18 Juni 2015.

Ensiklik Laudato Si ini menyerukan tindakan global untuk mengatasi krisis iklim dan mengajak semua orang untuk peduli dan bertanggung jawab terhadap bumi. Bapa Suci mengajak umat manusia untuk merawat bumi, rumah bersama.

Bacaan Lainnya

Sejalan dengan upaya merawat bumi ini, maka umat, terutama para ibu di Paroki Santa Maria Bunda Kristus Wedi, Kabupaten Klaten diajari cara menanam tanpa (menggunakan) media tanah dan membuat Jadam Microbial Solution (JMS), larutan mikroorganisme yang bermanfaat dalam pertanian organik.

Kegiatan ini diadakan bersamaan dengan pertemuan rutin Paguyuban Ibu Paroki Wedi di Balai Mandala Gereja Paroki Wedi pada Minggu (8/6/2025) pagi.

Untuk diketahui, materi mengenai “Menanam Tanpa Media Tanah dan Membuat JMS” ini disampaikan oleh Mentor Sebaya Pemberdayaan dari Credit Union Kridha Rahardja, Laurentius Sukamta.

Laurentius Sukamta menyampaikan, untuk menanam tanpa media tanah, maka diperlukan kompos. Kompos adalah hasil penguraian bahan organik seperti sisa makanan, dedaunan, rumput, gulma, ranting, sampah dapur, dan lain-lain yang mengalami proses pelapukan oleh mikroorganisme seperti bakteri, jamur, dan cacing tanah.

“Kompos berfungsi untuk menyuburkan tanah dan dapat digunakan sebagai pupuk alami untuk tanaman. Kompos bisa digunakan sebagai media tanam,” katanya.

Sukamta menjelaskan, ada banyak cara untuk membuat kompos. Diantaranya dengan metode waring alami, pencampuran bahan organik, dan bedengan.

Pembuatan kompos dengan metode waring alami ini sangat mudah, murah, dan sederhana. Caranya, sampah daun dikumpulkan pada suatu tempat. Tidak hanya sampah daun, tetapi juga bisa gulma, ranting (yang mudah lapuk), limbah (kegiatan di) dapur, sisa makanan (sayur, buah, nasi, roti), leri (air cucian beras), kohe (kotoran hewan), dan sebagainya. Agar sampah tidak berceceran, maka perlu diberi pembatas yaitu waring atau jaring.

“Mengapa kita memakai waring? Biar ada sirkulasi udara, sehingga sampah tidak menimbulkan bau. Sampah itu ditumpuk secara terus-menerus, dan rutin diberi leri. Setelah sekian waktu, maka sampah itu perlu dilihat dan diamati. Kalau sampah yang berada di paling bawah itu warnanya sudah hitam, lembap, dan bentuknya seperti tanah, maka sampah itu sudah menjadi kompos. Kompos siap diambil, dipanen, dan digunakan untuk media tanam. Sebagai catatan, pembuatan kompos ini dilakukan di atas tanah, agar ada peresapan. Selain itu, sampah jangan dibolak-balik, karena mikrobanya bisa mati,” jelasnya.

Para Ibu antusias mengikuti mengikuti pertemuan rutin Paguyuban Ibu Paroki Wedi yang diadakan di Balai Mandala Gereja Paroki Wedi pada Minggu (8/6/2025) pagi.

Sukamta menyatakan, agar tanah menjadi subur, maka perlu ditaburi (dikocori) Jadam Microbial Solution (JMS). JMS digunakan untuk meningkatkan kesuburan tanah, menyeimbangkan pH (keasaman), dan memperkuat mikroba baik yang sangat penting untuk pertumbuhan tanaman.

Pembuatan JMS ini sangatlah mudah dan murah. Untuk membuat JMS sebanyak 10 liter, maka bahan yang perlu disiapkan adalah kentang (sumber pakan mikro organisme) 1 biji, garam kasar (sumber mineral pengganti molase) 1 sendok makan, lapukan daun bambu (sumber mikroorganisme) 1 genggam, dan air lunak 10 liter (air hujan, air AC).

Sedang cara pembuatan JMS yaitu kentang direbus dengan 1 liter air sampai tekstur kentang melunak sekitar 20 menit. Kemudian pisahkan kentang dan air rebusan. Kentang dipotong kecil kecil. Masukan air lunak ke dalam ember dan tambahkan garam ke dalam air lalu diaduk hingga merata. Masukan kentang dan 1 genggam lapukan daun bambu ke dalam kantong kain kaos atau kaus kaki. Lalu diremas-remas supaya ekstrak kentang dan lapukan daun bambu ke luar. Biarkan kantong kain itu tenggelam. Tambahkan air rebusan kentang ke dalam ember, kemudian ditutup. Campuran dalam ember tertutup ini lalu diletakkan di kebun, kemudian ditutupi isolator (daun pisang) supaya tidak terkena matahari langsung selama 24 jam.

“Tanda JMS jadi adalah PH netral (7) dan muncul buih sebagai tanda kehidupan mikroorganisme,” tandasnya.

Pemberian materi mengenai Menanam Tanpa Media Tanah dan Membuat JMS ini disambut baik Paguyuban Ibu Paroki Wedi.

“Bagi saya pribadi, materi ini sangat bermanfaat. Karena saya nggak punya pekarangan rumah. Dengan menanam tanaman dengan media bukan tanah, ini bisa manjadi alternatif bagi yang tidak punya lahan. Mungkin kapan-kapan bisa diagendakan untuk dipraktekkan,” ujar Ketua Paguyuban Ibu Paroki Wedi, Bernadetta Krismiyati.

Hal senada juga disampaikan Pengurus Ibu Lingkungan Santo Petrus Klaten Selatan, Maria Wiwik Karyawati.

“Menurut saya, materi itu bermanfaat, dan saya memang seneng terkait pertanian. (materi) Ini langsung saya sampaikan pada pertemuan ibu-ibu lingkungan. Matur nuwun nggih dengan sharing ilmunya,” ucap Wiwik.

Pos terkait