Menarik Kaum Muda Untuk Berkoperasi: Bagaimana Strateginya?

Koperasi perlu memberikan kesempatan bagi kaum muda untuk menduduki struktur organisasi yang penting dalam koperasi.

BAGI warga Indonesia, tanggal 28 Oktober menjadi pengingat akan pentingnya peran kaum muda dalam menciptakan gerakan perubahan bagi terwujudnya kemerdekaan bangsa Indonesia. Peringatan hari Sumpah Pemuda menyiratkan pesan bagi kaum muda untuk menjadi lebih berdaya melalui karya-karyanya.

Kendati demikian, kita tidak bisa menutup diri terhadap tantangan-tantangan yang dihadapi oleh kaum muda untuk mengaktualisasikan dirinya. Tantangan yang dimaksud mulai dari persoalan lapangan kerja yang terbatas, adanya konflik intergenerasional yang seringkali mendiskreditkan peran kaum muda, hingga sistem kehidupan yang membatasi ruang partisipasi kaum muda dalam pengambilan keputusan. Tantangan-tantangan tersebut seringkali menjadi penghalang kaum muda untuk menjadi berdaya dan berkontribusi bagi dunia.

Bacaan Lainnya

Mengacu pada hasil penelitian kolaboratif yang dimotori oleh International Cooperative Alliance (ICA) pada tahun 2020 yang berjudul “Young people and cooperatives: A perfect match? Global thematic research report”,  koperasi dapat menjadi sebuah ruang potensial bagi kaum muda untuk mengatasi tantangan-tantangan yang dihadapinya.

Koperasi menjadi sarana yang memfasilitasi proses akumulasi pengetahuan, ketrampilan, pengalaman berorganisasi, kesempatan berusaha, dan jejaring kaum muda. Di sisi lain, kaum muda menjadi motor penggerak inovasi dan perkembangan koperasi. Hal ini tidak lepas dari kapasitas kaum muda dalam mengenalkan ide dan ketrampilan baru, mendoronng inovasi dan kreativitas, mengenalkan pola berwirausaha dan cara-cara bekerja alternatif, serta cara pandang alternatif dalam menghadapi risiko perubahan.

Hasil penelitian ICA tersebut menegaskan bahwa keterlibatan kaum muda dalam koperasi menguntungkan kaum muda maupun koperasi.

Dalam konteks mengartikulasikan semangat sumpah pemuda, perlu ada jiwa ‘bahu membahu’ antara koperasi dan kaum muda Indonesia, dimana koperasi sebagai lembaga soko guru perekonomian Indonesia menjadi ruang pemberdayaan bagi kaum muda. Sementara kaum muda menjadi sumber amunisi pengembangan koperasi Indonesia.

Sayangnya, kaum muda kurang menyadari dan kurang merespon potensi koperasi sebagai sarana pemberdayaan bagi mereka. Sejumlah studi terkait sebelumnya menyebutkan ketertarikan dan keterlibatan kaum muda masih rendah.

Studi International Labor Organization (ILO) serta beberapa peneliti koperasi di Indonesia mengungkapkan bahwa rendahnya ketertarikan dan keterlibatan kaum muda terhadap koperasi mengerucut pada sejumlah faktor utama, yaitu:

  1. Anggapan kaum muda mengenai model bisnis koperasi yang ketinggalan jaman (out to date);
  2. Keterbatasan pemahaman kaum muda tentang filosofi koperasi, mekanisme kerja koperasi, kegiatan koperasi, serta kontribusi koperasi dalam menciptakan manfaat bagi pembangunan dan kesejahteraan masyarakat kesejahteraan masyarakat;
  3. Kurangnya fakta empiris yang menceritakan koperasi mampu beroperasi secara layak dan berkelanjutan. Bahkan, dalam konteks Indonesia, cukup banyak cerita tentang koperasi yang kurang baik kinerjanya karena salah urus (salah tata kelola);
  4. Perilaku anggota koperasi senior yang cenderung eksklusif terhadap kaum muda.

Jika mencermati penyebab tersebut, faktor yang menyebabkan rendahnya keterlibatan kaum muda dalam koperasi bisa muncul dari dalam diri kaum muda maupun sistem yang ada dalam perkoperasian. Meskipun demikian, kurang tepat juga jika kita menyalahkan kaum muda. Sebaiknya, yang perlu dibenahi adalah sistem perkoperasiannya.

Beberapa hal, yang menurut penulis, perlu menjadi perhatian dalam pembenahan sistem perkoperasian tersebut adalah:

(1) Mengupayakan tumbuhnya persepsi positif kaum muda terhadap koperasi,

(2) Melakukan pengungkapan fakta dan kajian empiris yang menjadi sarana penceritaan keberhasilan dan prospek positif keberlanjutan koperasi, serta

(3) memastikan terwujudnya sistem yang inklusif bagi keberadaan kaum muda dalam koperasi.

Terkait hal yang pertama, dalam mengupayakan tumbuhnya persepsi positif kaum muda terhadap koperasi, digitalisasi pengelolaan koperasi memegang peranan penting di sini. Koperasi perlu mengupayakan proses transaksi yang terdigitalisasi, promosi digital yang masif, serta penciptaan konten-konten yang segar dan inspiratif bagi kaum muda.

Akan tetapi, perlu diingat bahwa tidak selalu kaum menginginkan sesuatu yang kekinian. Cukup banyak kaum muda yang memperhatikan isu-isu sosial lingkungan daripada sekadar kekinian. Bahkan, berdasarkan pengalaman penulis mendampingi kaum muda, kaum muda yang bisa loyal dan berkomitmen terhadap pengembangan koperasi adalah kaum muda yang memiliki perhatian pada isu-isu transformasi sosial dan pembangunan.

Dalam hal ini, ketika koperasi serius ingin menyasar ke kaum muda, maka koperasi perlu menggali lebih dalam preferensi kaum muda yang kita akan sasar. Jangan menggeneralisir semua kaum muda punya keinginan yang sama. Gali apa yang menjadi kebutuhan dan minat masing-masing kelompok kaum muda.

Masih terkait hal pertama, persepsi positif kaum muda terhadap kaum muda tidak selalu bisa dibangun secara instan. Dalam hal ini, kaum muda perlu dikenalkan dengan falsafah dan model-model pengelolaan koperasi yang benar sejak dini. Pengenalan koperasi bagi kaum muda jangan hanya menunggu ketika seseorang berusia remaja.

Sehubungan dengan hal ini, koperasi dapat membuat model pendidikan koperasi dan pendidikan pengelolaan keuangan ala koperasi untuk putra-putri anggota koperasi yang masih berusia SD, SMP, atau SMA. Dorong anggota koperasi untuk memotivasi putra-putrinya mengikuti pendidikan koperasi tersebut.

Alternatif lainnya koperasi bisa jemput bola untuk melakukan pendidikan koperasi ke sekolah-sekolah (SD, SMP, atau SMA) atau komunitas tempat berkumpulnya anak-anak. Dengan cara ini, sejak usia dini, anak akan mengenal koperasi dan sisi positif koperasi. Ketika remaja, semakin besar potensi mereka untuk terlibat secara aktif dan positif dalam koperasi.

Terkait hal yang kedua, koperasi perlu memperbanyak riset-riset dan kajian ilmiah tentang praktik baik koperasi yang mampu membuktikan bahwa koperasi dapat dikelola secara baik dan memiliki prospek keberlanjutan. Kemudian, diseminasikan hasil riset dan kajian tersebut dalam bahasa sederhana yang mudah dipahami masyarakat umum. Dalam hal ini, perlu dibuat divisi riset dan publikasi dari masing-masing koperasi yang mengelola proses riset dan publikasi ini.

Semakin banyak penceritaan-penceritaan berbasis kajian ilmiah, ini akan membuat masyarakat umum, termasuk kaum muda, lebih memandang dan memilih koperasi sebagai partner mereka.

Terkait hal ketiga, setelah upaya meyakinkan kaum muda berhasil melalui strategi digitalisasi, jemput bola anak usia dini, serta riset dan storying, hal yang perlu dipastikan ada dalam koperasi adalah struktur organisasi dan proses pengambilan keputusan yang secara konsisten memberikan kesempatan bagi kaum muda untuk bersuara.

Dalam hal ini, koperasi perlu memberikan kesempatan bagi kaum muda untuk menduduki struktur organisasi yang penting dalam koperasi. Selain itu, kaum senior perlu lebih terbuka terhadap pandangan kaum muda yang sudah bergabung di koperasi. Jangan terlalu dominan. Sekiranya ada pandangan kaum muda yang bertentangan dengan pandangan kaum senior, perlu ada ruang untuk menegosiasikan dan mencari jalan tengah. Jangan langsung dimentahkan oleh pandangan kaum senior (yang mungkin lebih punya banyak pengalaman di koperasi).

Tidak bisa lagi koperasi hanya berharap kaum muda menyesuaikan diri dengan ritme kerja yang ada di dalam koperasi. Namun ada kalanya koperasi perlu beradaptasi dengan ritme kerja kaum muda. Sebagai contoh, kaum muda tidak terlalu menyukai model rapat yang terlalu bertele-tele, monoton dan satu arah. Dalam hal ini, perlu sistem rapat yang efisien dimana agenda rapat jelas, permasalahan dan batasan waktu pembahasan jelas, sudah disiapkan potensi alternatif solusi dari topik yang akan dibahas, serta dimungkinkan adanya kesempatan saling memberikan gagasan. Prinsip bottom up dan partisipatif perlu menjadi penekanan di sini.

Inilah beberapa cara yang mungkin bisa diadopsi oleh koperasi yang memang berkeinganan kuat merangkul anak muda dan menjadi teman seperjalanan menuju pengembangan dan keberhasilan bersama.

 

Stephanus Eri Kusuma

Dosen Program Studi Ekonomi

Universitas Sanata Dharma

 

Pos terkait