Ingin Sehat Dan Bahagia? Amalkan “Kupat”, Lakukan “Papat”

Perwakilan panitia halal bihalal memberikan kenang-kenangan kepada Mbah Narto Darsono, sesepuh Trah Arjo Sumartan, Selasa (3/5/2022).

WartaKita.org – Keluarga Besar Ardjo Sumarto Trimasan menggelar acara “Halal Bihalal Trah Ardjo Sumartan” di rumah almarhum Pudjo Driyitno Jalan Mondokaki nomor 12 Candirejo, Kelurahan Tonggalan, Kecamatan Klaten Tengah, Kabupaten Klaten, Selasa (3/5/2022).

Halal bihalal ke tujuh ini dihadiri sekitar 60 Kepala Keluarga (KK) atau 200 orang dari berbagai daerah di seluruh Indonesia.

Bacaan Lainnya

Ketua pantia halal bihalal Trah Ardjo Sumartan, Mahmudi dalam laporan menyampaikan, Keluarga Besar Ardjo Sumarto bersyukur kepada Allah karena mereka bisa mengadakan acara halal bihalal ini. Sebab sudah dua kali Idul Fitri terakhir ini mereka tidak bisa mengadakan acara halal bihalal karena pandemi Covid-19.

Menurut Mahmudi, acara halal bihalal seperti ini penting untuk menjalin silaturahmi, saling maaf memaafkan, dan bertemu dengan sanak saudara.

“Kita bersyukur, setelah tiga tahun berjuang melawan pandemi Covid-19, dan dua kali tidak bisa mengadakan halal bihalal, hari ini kita bisa mengadakan halal bihalal. Untuk melawan Covid-19, imunitas (tubuh) kita harus kuat. Dan untuk meningkatkan imunitas kita, salah satunya caranya, kita harus merasa bahagia. Selama hidup, kita pasti pernah melakukan kesalahan, baik disengaja atau tidak disengaja. Maka, kita perlu minta maaf dan saling memaafkan, agar hidup kita menjadi bahagia,” katanya.

Sebagian Trah Arjo Sumartan laki-laki berfoto bersama, Selasa (3/5/2022).

Sedang Ketua Trah Arjo Sumartan, Muhyidin dalam sambutan menjelaskan, Trah Arjo Sumartan ini telah berusia tujuh tahun. Dari dua orang pasangan suami istri (Pasutri) Arjo Sumarta, lahirlah tujuh anak, yaitu Sastro, Tumah, Jaido, Cipto, Pujo, Gito, dan Narto. Dan kini, trah itu telah beranak pinak menjadi 62 kepala keluarga dan 214 orang. Ini berdasarkan data terakhir tahun 2019.

“Menuruti permintaan trah, maka halal bihalal kali ini diadakan di rumah Mbah Pujodriyitno, Candirejo. Karena di rumah ini ada banyak kenangan. Pada Idul Fitri tahun 2020 dan 2021, kita tidak bisa mengadakan halal bihalal karena pandemi,” ujarnya.

Dalam halal bihalal ini, Muhyidin menyatakan, sebuah organisasi (paguyuban) bisa dirasakan manfaatnya kalau ada kebersamaan diantara anggota dan didukung kekuatan finansial atau dana.

“Maka, agar Trah Arjo Sumartan ini bisa lebih berdaya dan bermanfaat bagi anggota dan sesamanya, kita berharap ada partisipasi (iuran) dari anggota setiap bulannya,” harapnya.

Usai sambutan dilanjutkan dengan pembacaan ikrar halal bihalal yang dibawakan oleh Rajid Basri, dan ditirukan hadirin.

Sebagian Trah Arjo Sumartan perempuan berfoto bersama, Selasa (3/5/2022).

Sementara itu, tausyiah halal bilalal disampaikan oleh Ustadz Dr H Agus Sukarno, M.Si, Dosen Fakultas Ekonomi Bisnis, Jurusan Manjemen dan Akuntansi UPN Yogyakarta.

Agus Sukarno mengatakan, silaturahmi itu ada banyak manfaatnya. Silaturahmi dapat meluaskan rezeki dan memanjangkan umur seseorang.

“Dengan memperbanyak silaturahmi, kita akan menjadi bahagia, sehingga imunitas kita jadi meningkat. Dengan imunitas yang baik, kita akan menjadi sehat dan panjang umur,” tandasnya.

Dosen Fakultas Ekonomi Bisnis, Jurusan Manjemen dan Akuntansi UPN Yogyakarta ini menambahkan, agar seseorang bisa sehat dan bahagia, mereka perlu mengamalkan filosofi “kupat”, yaitu mengaku lepat (salah).

“Terlebih pada moment Idul Fitri seperti ini. Tetapi kalau kita berbuat salah, jangan ditunda-tunda untuk segera meminta maaf. Tidak harus menunggu sampai Idul Fitri,” pesannya.

Ustadz H Agus Sukarno saat menyampaikan tausiyah di acara halal bihalal Trah Ardjo Sumartan, Selasa (3/5/2022).

Agus Sukarno mengemukakan, seseorang perlu mengerjakan laku “papat” agar bisa terus sehat dan merasa bahagia. Empat laku “papat” itu yakni lebaran, luberan, leburan, dan laburan.

Lebaran berarti bahwa buah dari perbuatan baik yang dilakukan itu baru akan terlihat di kemudian hari. Maka, seseorang perlu terus melakukan kebaikan dan meningkatkan silaturahmi.

Sedang luberan bermakna bahwa rejeki yang diterima juga harus diluberkan atau dibagikan  ke orang lain. Maka, kalau seseorang ingin selalu sehat dan bahagia, jangan jadi orang yang cethil atau pelit. Orang harus peduli kepada sesamanya.

Sementara itu leburan dimaksudkan bahwa Idul Fitri menjadi ajang yang baik untuk melebur dosa. Maka, jadilah orang yang pemaaf.

“Sedang laburan berarti warna putih. Kalau hati kita sudah bersih, jangan dikotori lagi. Trah Arjo Sumartan yang sudah rukun dan baik, jangan diceraiberaikan lagi,” pesannya.

Usai tausyiah halal bilalal, dilakukan pembagian fitrah kepada anak-anak, dari usia PAUD, SD, SMP, SMA, hingga kuliah. Selanjutnya, hadirin makan bersama dan ramah-tamah.

Acara halal bihalal diakhiri dengan foto bersama.

Pos terkait